Membongkar Perawan Aktris Tomboy Manado Bagian II

Ini adalah sambungan dari cerita Membongkar Perawan Aktris Tomboy Manado Bagian I.

Perlahan aku dekati dia dan duduk di sampingnya.

"Bagaimana Van? Asik kan filmnya?” tanyaku
“Sudah ah kak. Filmnya jorok” kata Vanda. Ku lihat mukanya merah dan berkeringat.
“Ah, masa jorok. Kalau jorok pasti semua orang tidak mau melakukan yang begituan” kataku dengan ringan
“Aduh, bagaimana yah. Tetap saja jorok” kata Vanda sambil memalingkan wajahnya dari layar monitor.
“Loh, kok aneh. Cowok-cowok hobi sekali nonton yg begini. Tapi kalau cewek kok merasa kalau ini jorok” Aku kembali memancingnya. Vanda tak menjawab, dan masih juga
memalingkan wajahnya.

Aku raih mouse komputer dan kuganti dengan video adegan oral sex.
"Tuh, lihat Van, seperti lagi makan es paddle pop"
“Haa... kok bisa...” kata Vanda kaget.

Aku beralih pada video selanjutnya. Kali ini adegan dimana seorang gadis mendesah keenakan karena vaginanya dijilat oleh laki-laki. Vanda Terbelalak.

“Lihat itu Van, dijilat sampai mendesah-desah begitu. Pasti enak sekali rasanya?!” bisikku ditelinganya
“..Ih..apa tidak jijik tuh..?!” tanya Vanda terheran-heran.
“Tidak kok. Lihat saja cowoknya keasikan menjilat” kataku.
“..Ih..” Vanda masih terlihat jijik.
“Kalau kamu mau, kakak bisa jilatin punya kamu" bisikku menawarkan.
“...” Vanda diam saja
“..Bagaimana Van... kamu mau? Enak kok” rayuku.
“..Engh..bagaimana yah... tidak usah kak...” kata Vanda
“..Ih... rugi loh kalau tidak mau. Sumpah enak rasanya. Lihat saja cewek di film itu. Sampai merem melek keenakan” rayuku lagi.
“..Kak Michael.. tidak jijik?” tanya Vanda
“..Ya tidak dong. Malah kakak suka” rayuku lagi sambil mengelus-elus lengannya.
“..Aduh... bagaimana yah...” Vanda tampaknya masih ragu-ragu.
“Begini saja, bagaimana kalau kita mulai dengan ini” kataku sambil mengulum bibirnya dalam-dalam.
“..emh..” hanya itu suara yg aku dengar dari mulut Vanda.

Selesai menikmati bibirnya, ciumanku aku arahkan ke tengkuk lehernya sambil ku jilati tengkuk leher yang putih mulus itu.

“.emh..kak..ohh....” hanya itu suara dari mulut Vanda membalas seranganku.

Ciuman dan jilatanku aku arahkan ke dagu dan leher Vanda terus ke bawah. Tapi kausnya masih menghalangi aksiku.

“..Van..bajunya, kakak..buka yah..?” bisikan rayuanku
“..emh..” hanya itu suara yg keluar dari mulut Vanda. Aku tak tahu apakah itu berarti ya atau tidak.

Perlahan-lahan aku tarik bajunya. Vanda tak memberontak sedikitpun. Aku teruskan menarik kaus itu hingga terlepas. Tak ku sia-siakan kesempatan ini sambil terus
membuka BH-nya. Aku tarik kancing BH-nya yg berukuran 32B. Aku lihat tulisan itu pada tanda label pada BH-nya. Kini tubuh Vanda sudah topless dan siap aku gempur bagian atasnya.

Perlahan-lahan aku papah Vanda ke kasur yang ada dilantai kamarku. Aku baringkan ia dan aku teruskan aksiku tadi.

Kali ini bibirku mengulum dan lidahku menjilati buah dada yang bulat dengan putting susu berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas. Aku mengulumnya sambil lidahku
memainkan putting susu itu. tanganku menggerayangi buah pantatnya yg padat berisi. Aku teruskan dengan membuka celana pendek yang dikenakannya. Kali ini Vanda agak
bertahan. Dia tidak mau menaikkan pinggulnya supaya celananya mudah diperosotkan. Sementara itu aku melepaskan celana pendek kolorku dan juga kausku hingga aku
hanya celana dalam saja.

“..emh..jangan..kak..sshh..” pinta Vanda dalam desahannya.
“..gimana..kakak jilat punya kamu sekarang..?” tanyaku
“..engh..jangan..kak..sshh..main atas aja..” pinta Vanda
“..Tidak apa-apa Van, kakak cuma mo liat ama jilatin punya kamu saja.. kakak tidak akan berbuat macam-macam” rayuku.

Setelah itu Vanda seperti membolehkanku. Terbukti kali ini ia mengangkat sedikit pinggulnya supaya celananya bisa diperosotkan. Aku ambil dua sekaligus celana dalam dan celana luarnya sehingga Vanda langsung telanjang bulat. WOW! Kini tubuh yang selama ini aku idam-idamkan terpampang jelas didepan mata

“..ih..kak..tapi kakak..jangan yah..” pintanya supaya aku juga tidak telanjang
“..loh..kenapa..?” tanyaku
“..engh..jangan..deh..” pintanya lagi sambil kedua tangannya mencoba menutupi bagian paling pribadinya
“..kenapa..kamu takut..?” tanyaku
“..engh..cukup begini saja..Vanda takut, kak..” katanya dibalik nafasnya yang menderu

Aku tahu kalau Vanda masih perawan dan aku juga tak mau merusaknya. Hanya ingin memainkannya saja. Aku perhatikan bentuk tubuh Vanda yang benar-benar indah itu.
Buah dada yang bulat dengan putting susu coklat kemerahan mengacung menantangku. Perut yang mulus putih bersih dan kencang. Paling utama bagian dibawah perut yang
ditutupi bulu-bulu halus. Dibalik bulu halus itu terdapat bongkahan daging merah dengan celah yang sempit dari situ tersembul seonggok daging kecil seperti kacang merah merekah.

“..Van..punya kamu indah..sekali..sayang..” kataku sambil mendekati vaginanya dan langsung mengulumnya..
“..oufh..sshhtt..engh..emh..sshtt..ough..” Vanda melenguh dan mendesah penuh kenikmatan ketika bibirku mengulum bibir vaginanya.
“..bagaimana? enak..kan sayang..?’ bisikku.
“..emh..sshtt.ough..sshhtt..ough..sshhtt..ough..” suara desahan itulah yang keluar dari mulut Vanda.

Aku kulum-kulum kelentitnya sambil sesekali lidahku menerobos celah sempit dibawah kelentitnya. Aku julurkan lidahku dalam-dalam hingga lidahku aku merasakan seperti
ada yang menghalanginya. Aku semakin yakin kalau Vanda masih benar-benar perawan. Sementara itu cairan putih bening tak henti-hentinya keluar dari kelentitnya
membasahi lidah dan bibirku. Aku jilat dan aku hisap lalu aku telan cairan kenikmatan itu seperti halnya aku kehausan.

Cukup lama juga aku menjilati liang vagina itu. Sambil mulutku bermain di liang vaginanya tanganku melepas celana dalamku. Satu-satunya kain penutup tubuhku yang
menutupi batang penisku. Tanpa sepengetahuannya aku berhasil melepas celana dalamku. Kini tubuhku dan tubuh Vanda sama-sama polos dan telanjang bulat. Kali ini
tinggal Vanda saja yang menentukan apakah boleh atau tidak batang penisku yang sudah panjang dan keras untuk menerobos liang vaginanya.

Tak lama kemudian nafas Vanda semakin cepat dan mulutnya meracau seperti ingin menjerit.

“..auwfh..sshtt..engh..emh..augh..enaxxx..mmasshh..sshtt..ough..” begitu erangnya dan kali ini aku tahu kalau Vanda sedikit lagi akan mencapai orgasme.

Disini aku atur siasat. Aku hentikan jilatan dan kulumanku ke liang vagina Vanda hingga dia hampir sadar. Wajahnya yang tadi merekah kini perlahan-lahan kembali normal.

Ada sedikit kekecewaan diwajahnya.

“..Vanda..sayang..kamu mau..kan..?” tanyaku
“..Kak..engh.. ayo....” begitu pinta Vanda ditengah-tengah desahan nafasnya yang tersengal
“..Iya..sayang..tapi kamu mau..kan..?” tanyaku lagi
“..Iya deh..kak..Vanda mau apa aja yang kak Michael suruh..tapi..” aku melihat Vanda seperti mengiba padaku
“..Oke..deh..punya..kakak..boleh kan dimasukkan..?” tanyaku
“..Iya..he..eh..egh..ayo..kak..” Vanda meminta padaku
“..Ayo..apa..ayo..apa..sayang..” tanyaku pura-pura
“..Yang tadi...” pinta Vanda
“..Yang tadi..yang mana..?” tanyaku pura-pura
“..Engh..” Vanda meminta dengan manja sambil menjambak rambutku dan mengarahkan pada liang vaginanya.
“..Yang ini sayang..emgh.” aku teruskan lagi jilatanku..
“..Iyah…ough..emh..yesshh..ough.emh..sshhtt..oufh…sshhtt..oughh..” begitu desah Vanda menimpali jilatanku hingga dia hampir orgasme lagi dan..

“..Van..kakak..boleh yah..masukkan..” tanyaku sambil batang penisku sudah menunggu dibibir vaginanya.
“..emggh..” Vanda mendesah sambil matanya terpejam dan siap menerima batang kontolku
“..boleh..ya sayang..emh..?” tanyaku sambil memainkan batang kontolku dibibir vaginanya
“…” Vanda terdiam namun ia sediki mengangkat pinggulnya dan aku langsung siap mencobloskan batang penisku yang sudah keras dan panjang ini ke liang vaginanya.
Namun baru didorong sedikit batang penisku seperti terpeleset begitu terus menerus hingga…

“..augh..sshhtt..” Vanda merintih
“..dikit..lagi.yah..sayang..enaxx..koq..” rayuku
“..augh..pelan-pelan..kak..aduh..sshhakit..” rintih Vanda.

Aku dorong perlahan-lahan batang penisku hingga

“..SLEB..SLEB.. BLESSS!!!” batang penisku berhasil amblas ke liang vagina Vanda.
"Akh...kak..." Vanda memekik perlahan menahan sakit. Ia meringis dan menggeretakkan giginya. Setitik air mata tampak mengalir dari matanya yang tertutup.

Aku diamkan sesaat batang penisku didalam liang vagina Vanda. Aku biarkan otot-otot vaginanya terbiasa dulu dengan batang penisku yang baru saja menerobos liang

vaginanya. Batang penis yang selama ini belum pernah menerobos liang vagina Vanda kini merintih.

“..sshhtt..auh..sshhtt..sakit..kak.” aku lihat sedikit airmata dimata Vanda.
“..iya..sayang..aku tahu..sebentar lagi pasti enak kok..yah..” kataku sambil mengulum bibirnya.Setelah itu aku liukkan perlahan-lahan pinggulku untuk memainkan batang penisku didalam liang vaginanya. Vanda yang tadi merintih kesakitan kini kembali mendesah penuh kenikmatan.

“..Oufh..sshhtt..engh..emh..sshtt..ough..” begitu suara desahan Vanda mengiringi liukan dan terjangan batang penisku
“..Ouh..Van..kamu enak..sekaliii..Van..egh..” kataku memuji-mujinya.

Posisi tubuh kami aku atur. Kaki Vanda aku lingkarkan dipinggulku dan kedua kakiku terlipat supaya batang penisku benar-benar pada posisi yang enak diliang vaginanya.

Permainan ini terus berlangsung hingga dua puluh menit kemudian.

“..Ough..eghh..ough..ough..egh..emh..sshhtt..ough…shhtt..ouggh..sshtt..ough..” mulut Vanda mendesah-desah penuh kenikmatan sambil meracau
“..Kakhhht..augh..enaxxx..banget..mmhh…sshhtt..oughh…sshhtt..ough..shhtt..ough..” tangan Vanda memeluk punggungku erat-erat sambil kedua kakinya mencengkram
erat-erat pinggangku. Sebentar lagi dia akan orgasme.
“..Tenang..sayang... kakak juga tak lama lagi...” kataku sambil mempercepat liukkan pinggulku dan akhirnya..

“..Augh..augh..aarghh..emh..emh..ouh..” Vanda mengerang panjang dan diakhiri dengan desahan-desahan lambat. Aku rasakan otot-otot divaginanya berdenyut-denyut
seperti menyedot batang penisku. Diperlakukan begitu, batang penisku jadi terasa berdenyut-denyut akan ada yang keluar lalu tak lama kemudian.
“..Oooh..Vanda...enaaak..” kataku sambil diikuti dengan semburan cairan kenikmatanku menembak dirahimnya.
“CROT..CROT..CROTT..!” batang penisku menyemprotkan cairan sperma penuh kenikmatan. Aku merasakan denyutan-denyutan yang dahsyat dibatang penisku.

Setelah itu bibir kami berpagutan sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang kami rasakan. Perlahan Vanda mengendorkan cengkeramannya dan kembali rileks.

“..Makasih ya Van..kamu mau begini dengan kakak..” kataku sambil membelai rambutnya
“..He he he..makasih juga yah kak..Vanda tak sia-sia kehilangan keperawanan kalau enak begini..” kata Vanda yang membuatku kaget. Sifat tomboynya muncul lagi.
“..Jadi kamu tidak menyesal..?” tanyaku
“.Tidak...eh..malah..Vanda jadi ingin beginian terus sama kak Michael..” sahutnya blak-blakan
“..Ehehe..bagus eh..” kataku sambil menariknya ke pangkuanku dan kami kembali berciuman. Di seprei tempat tidurku terpampang bercak kenikmatan berwarna merah yang
sudah bercampur dengan keringat.

Lalu setelah cukup terangsang aku dan Vanda kembali bersenggama dengan berbagai posisi. Hari itu tak kurang dari empat kali kami bersenggama dikamar kostku hingga
siangnya kami sama-sama kelelahan lalu tertidur. Sorenya setelah bangun dari tidur kami mandi berdua dan masih melakukannya dikamar mandi, tentu saja diam-diam agar
tidak ketahuan anak kost yang lain. Malamnya setelah Vanda pulang aku terpaksa kerja ekstra, mencuci seprei yang terkena bercak darah perawannya. Itu juga

Setelah kejadian itu aku dan Vanda masih melakukannya jika ada kesempatan hingga lebih dari setahun kemudian. Vanda berangkat ke Jakarta untuk kuliah. Tak lama
kemudian aku terkejut melihatnya di sebuah sinetron yang diputar di salah satu stasiun TV. Lebih terkejut lagi ketika mendengar dari infotainment bahwa dia menikah dengan bule. Yah, tak ada satu pun kabar yang dia kirimkan padaku seolah-olah "bimbingan" dan "didikan" yang aku berikan padanya di sanggar teater tak ada artinya.