Membongkar Perawan Aktris Tomboy Manado Bagian I

Halo pembaca yang budiman, nama saya Michael, mahasiswa UNSRAT Manado. Saya adalah seorang peteater dan pendiri salah satu sanggar teater di Manado. Ini adalah kisah nyata saya dengan salah seorang gadis anggota sanggar saya, Vanda, sebut saja begitu namanya. Ia berusia 17 tahun dan masih duduk di SMU kelas 2.

Vanda orangnya mudah bergaul dan terbuka dengan siapa saja. Ia tidak pilih-pilih dalam berteman. Ia juga sangat aktif di sanggar teater saya dan sering mendapat peran utama dalam pentas-pentas yang kami lakukan. Dia adalah aktris terlaris di sanggar teater kami. Ada satu sifat yang sangat menonjol dari Vanda, yaitu ia adalah seorang gadis tomboy.

Vanda menganggapku sebagai kakaknya, dan ia juga memanggilku dengan sebutan kakak. Kami sangat akrab sehingga ia sering datang ke kostku. Saking akrabnya, sehingga ia sudah terbiasa untuk keluar masuk kamar kostku, seringkali ia sengaja tak mengetuk pintu untuk mengejutkanku.

Pada suatu saat aku sedang mengerjakan tugas kuliahku. Begitu selesai, aku menonton video porno yang ku download dari internet. Karena kelelahan, aku tertidur tanpa mematikan komputer. Folder yang berisi kumpulan video porno favoritku tetap terbuka di layar komputer.

Hari sudah pagi ketika aku merasa ada orang di dalam kamar kostku (aku terbiasa tidak mengunci kamar di malam hari karena teman-teman kost sering datang pinjam komputer). Aku terkejut dan bangun. Ternyata Vanda sedang berada di depan komputer, bermain game Zuma.

"Oh, Vanda. Sudah lama?" tanyaku sambil kembali berbaring dan tidur.

"Baru saja kok" jawabnya. "Komputernya menyala dari tadi malam?" tanyanya.

"Iya, tadi malam aku mengetik tugas kuliah sampai ketiduran" Aku menjawab sambil kembali mengambil posisi untuk tidur.

"Ihh, kak Michael malas. Ini kan sudah jam kuliah. Mandi sana!" katanya sambil memukul wajahku dengan bantal guling.

"Loh, kamu juga kenapa tidak ke sekolah?" balasku sambil menangkis pukulannya yang bertubi-tubi.

"Ini kan libur karena kelas 3 sedang ujian"

"Ooh.."

"Sudah, sana pergi mandi dan berangkat kuliah" Ia kembali memukulku dengan bantal guling sehingga aku terpaksa bangun dan bersiap untuk mandi.

Harus kuakui kalau Vanda memang cukup cantik. Kulitnya yang putih mulus membuatnya terlihat bersinar. Rambutnya yang dipotong pendek semakin membuat ia kelihatan tomboy. Tubuhnya sintal dan padat menyiratkan kalau ia seksi. Tanpa sengaja, ketika aku berdiri di belakangnya, terlihat belahan buah dadanya karena baju yang digunakannya cukup longgar di bagian lehar. Dalam hatiku timbul keinginan untuk menikmati tubuhnya. Aku berpikir keras mencari strategi untuk melaksanakan hasratku.

Akhirnya sebuah skenario muncul di benakku.

"Van, kamu sudah sarapan?" tanyaku dengan suara yang kubuat-buat seolah lemah dan tak berdaya (ilmu akting tingkat tinggi).

"Sudah. Kamu pasti belum sarapan kan?" jawabnya sambil kembali bertanya.

"Iya" Jawabku dengan suara yang masih tetap dibuat-buat.

"Aku buatkan sarapan deh"

Vanda bergegas ke warung untuk membeli mi instan dan memasaknya untukku. Begitu ia keluar dari kamar, aku segera membuka kembali koleksi video porno ku. Kubuka foldernya dan kumasukkan semua video di situ ke dalam playlist media player

agar diputar terus tiada henti. Setelah itu aku berbaring kembali di kasur, pura-pura tidur.

Tak lama kemudian Vanda datang dengan membawa mi instan yang masih hangat dengan asap mengepul dan memberikannya padaku. Aku bangun dan makan sambil bersandar di dinding, pura-pura tidak melihat ke layar monitor.

Ternyata jebakanku berhasil. Tanpa sengaja Vanda melihat adegan yang sedang diputar di layar komputer. Ia terkejut dan berpaling, tak mau melihat atau pura-pura tak mau melihat.

"Ih, kak Michael kok putar film begituan"

"Oh, maaf Van. Aku lupa matikan. Maklum namanya juga cowok, normal saja nonton yang begituan. Justru kalau tidak suka yang begitu harus dicurigai" Aku juga pura-pura terkejut dan minta maaf.

Ada satu kelemahan Vanda yang akan aku manfaatkan untuk mendapatkan kenikmatan dari tubuhnya. Ia sangat tidak suka bila dianggap lemah karena ia wanita. Mungkin sifat tomboynya itu yang membuatnya secara alami tidak ingin dianggap lemah, apalagi oleh laki-laki.

"Maaf Van, aku lupa kalau kamu cewek. Iya, cewek memang tidak boleh nonton yang begituan." kalimat ini aku ucapkan dengan nada yang agak mengejek untuk membuatnya tersinggung. Dan benar saja, pancinganku berhasil. Begitu mendengar ucapanku, wajah Vanda langsung cemberut, menandakan ia tidak setuju dengan pendapatku.

"Loh, memangnya kalau cewek nonton yang begituan kenapa? Kan sama saja, bukan hanya cowok saja yang bisa. Aku juga bisa kok" Ia pun menghadap ke layar monitor dan menonton video porno yang kuputar, walaupun kelihatannya ia agak risih.

"Ya sudah, kalau mau nonton, nonton saja. Lagipula itu bagus biar tahu sedikit tentang seks" aku berkata sambil terus makan tanpa menoleh ke arahnya atau pun ke layar komputer, pura-pura tak peduli agar dia bisa menonton dengan nyaman.

Strategiku berhasil. Tak lama kemudian Vanda mulai tampak gelisah. Aku memperhatikan ia beberapa kali menelan ludah dan tangannya berkeringat. Sudah beberapa kali ia mengganti posisi duduknya, awalnya bersila di lantai, kemudian ia menelonjorkan kakinya ke samping, kemudian ia berbaring sambil bertumpu pada sikunya. Melihat pantatnya yang menonjol, nafsu birahiku semakin besar, membayangkan diriku meremas-remas pantatnya itu.

Dengan cepat aku menghabiskan sarapanku.

Bersambung ke Membongkar Perawan Aktris Tomboy Manado Bagian II . . .