Rekan Kantor, Juga Rekan Selingkuh

Kejadian ini berawal dari pertemanan biasa sebagai rekan kerja. Gue kenalan dengan Mba Utami ketika masuk sebagai pegawai baru di kantor. Mba Ut sudah masuk terlebih dahulu sekitar setahun sebelum gue masuk dan dari segi usia dia itu usianya sebenarnya cuman 3 tahun diatas gue. Kalo dilihat dari bodynya sih, Mba Ut biasa aja, tinggi sekitar 50 cm dengan badan yang langsing, tapi teteknya itu yang lumayan gede 34A lah kira-kira.

Singkat cerita, walaupun sering nebeng bareng pulang gue, Mba Ut ini jarang sekali bercerita tentang kehidupan pribadinya bersama sang suami yang seorang pengangguran . Sampai suatu saat, ketika sama-sama pulang lembur sampe jam 8 malem, tiba-tiba Mba Ut bilang "Di, aku koq masih nggak puas aja ya sama suamiku." "Maksudnya, nggak puas gimana?" tanya gue. "Ya nggak puas, masa' nggak ngerti sih," tanyanya lagi. Dengan pura-pura nggak ngerti gue tanya lagi,"Bener gue nggak ngerti Mba." Terus dia diem aja.

Tiba-tiba tangan gue yang lagi pegang perseneling dipegang Mba Ut, sambil bilang,"Di, suami Mba tuh kalo lagi ditempat tidur tuh pengennya cepet-cepet aja. Dia nggak pernah ngertiin Mba yang nafsunya tinggi banget." "Udah lama Mba keadaan ini," gue tanya sambil membalas genggamannya. "Ya.... semenjak kita nikah, nggak taunya dia tuh kalo ngentot maunya langsung main trus kalo pejunya udah ngecret, ya dia keluar trus ngerokok ... sebel khan." Gue dengerin aja terus dia cerita sambil mulai ngelus-ngelus pahanya yang walaupun pake rok panjang dia diem aja waktu tangan gue masuk.

"Kamu mau nggak bantu Mba?" tanyanya. Langsung aja gue sigap baca situasi,"Sekarang?" tanya gue sambil kontol gue ngaceng gitu. Lalu kita cari hotel untuk check in malam itu. O iya, di kantor kita berdua, karyawannya sering sekali harus menginap karena harus ada pekerjaan esok harinya, jadi makin mempermudah kita check in.

Setelah makan dan masuk ke kamar, Mba Ut mandi duluan sambil pintunya dibuka. Kesempatan itu nggak gue sia-siain untuk liat dia mandi sambil mandangin tetek dan memek yang dilingkari jembut yg indah itu. "Di, masuk sini, kita mandi bareng yuk." Langsung aja gue masuk. Eh, gak taunya Mba Ut malah pake handuk sambil bilang,"Iiiihhhh, enak aja kamu, mandi dulu sana, bersiin dulu kontol kamu, jadi enak nanti kita ngentotnya."

Selesai mandi, Mba Ut sudah ada di atas tempat tidur dengan telanjang bulat sambil mengelus-ngelus, trus memanggil,"Adi, kemari sayang, Mba Ut sudah siap." Tanpa mikir lagi, gue langsung aja tidur disebelah Mba Ut.

Gue rangkul dan cium bibir Mba Ut yang begitu ranum. Ternyata Mba Ut nggak mau kalah, sambil ciuman dia keluarin suara lenguhan" mmmmhh, akkhhh,.... kenapa baru sekarang ya..." Gue tuh udah nggak denger dia ngomong apaan deh tuh. Setelah gue jilatin leher gue turun ke teteknya yg mengeras itu, trus aja gue isep puting susunya yg mengeras sekuat-kuatnya."Akhh..... mmhhh...... ugghhhh... akkhhhhhh, enak banget Di," katanya. Cukup lama juga gue jelajahi dua teteknya Mba Ut.

Abis itu gue mulai turun ke perutnya dan memek Mba Ut yang sudah menunggu. Ternyata memek Mba Ut udah basah sama lendirnya dia. Langsung aja gue jilatin memek dan jembut tipisnya dengan buasnya. "Ughhhhh, akhhhhhh, mmmmmmhhhhh, gila enak banget, enak banget, trus sayang, jilatin yang lebih dalem lagi .... ugh akh ugh akh ugh akh," Mba Ut terus mengerang dengan kerasnya.

Secara perlahan gue balik posisinya, sambil gue terus jilatin memek dan lobang pantatnya, gue kasih kontol gue tepat di mulut Mba Ut. Tanpa dikomando, langsung diambil kontol gue dan dikulum dengan nikmatnya.

"Enak banget nih cewe', gila gue puas banget nih," gue bilang dalam hati. Setelah puas dengan posisi 69, Mba Ut bilang,"Sayang, masukkin dong kontol kamu ke memek Mba." Setelah kontol gue berada persis di depan memek Mba Ut, gue masukkin secara perlahan, hingga masuk ke dalam ... blesssssss ......... "akhhhhhhhhhhhhhhhh" Mba Ut mengerang."Kenapa Mba? Sakit ya?" tanya gue. "Gila Di, enak banget nih, ughhhhhhhhh."

Gue genjot trus kontol gue keluar masuk memek Mba Ut, sret.... bles.... sret.... bles.... sret...... bles ......... Gue juga jilatin tetek Mba Ut yg mengeras ..... Mba Ut hanya bisa merem melek sambil menikmati "Akhhhhhhhh..... ughhhhhhh..... mmmmmhhhhh......., trus sayang trus sayang," katanya. Lalu dia lingkarkan kakinya di pinggang gue, sambil mulai menggelinjang tanda udah mau sampe klimaks.

"Akkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh .......akhhhhhhhhhhhhhh.......akhhhhhhhhhhh," Mba Ut mengerang sambil menggelinjang panjang dengan tidak melepaskan kaitan kakinya di pinggang gue. Saat yang bersamaan, gue juga mencapai klimaksnya ..... cret, cret, cret, cret, cret .... keluarlah peju gue ke dalam rahim Mba Ut.

Sambil bermandi keringat dan belum dicabutnya kontol gue dari dalam memek Mba Ut, dia nanya, "Sayang, kamu keluarin pejunya di dalam rahim ku ya?" Iya Mba, kenapa? Mba Ut takut hamil denganku ya?" gue bales nanya. "Justru itu Di, Mba malah berharap bisa punya anak dari peju kontol kamu ini, Mba sayang kamu, Di...... tapi sekarang sih Mba minum pil. Mba masih nggak mau punya anak kalo suami Mba masih kayak gitu." Baru setelah itu gue tarik kontol gue sambil tidur disebelah Mba Ut dengan berpelukan dan saling mengusap sebagai tanda sayangnya kita berdua.

Setelah istirahat sekitar 15 menit, kita ngentot lagi sampe 3 kali, setelah itu kita berdua tidur dan bangun pagi untuk berangkat ke kantor.

Setelah kejadian itu, kita masih sering melakukan perselingkuhan di berbagai tempat dan hotel, hingga suatu ketika Mba Ut ternyata hamil. "Di, ini anak kita sayang. Suami Mba nggak tau kok, taunya ini anaknya dia." Ternyata kehamilan itu adalah hadiah perpisahan untuk kita berdua, karena suami Mba Ut dapat pekerjaan di kota kelahirannya di Semarang. Saat ini Mba Ut sudah mempunyai dua anak. Walaupun anak pertama Mba Ut sangat mirip dengan gue, tapi Suami Mba Ut tetap yakin itu anaknya. Syukurlah.