Santi dan Lina

Nama saya Anton, saya ini laki-laki yang dilahirkan dengan libido yang sangat tinggi, umurku 30 tahun, Karena libido ini juga, saya belum pernah menikah, ga tau kenapa???? Saya ga pernah puas dengan pelayanan pacar pacar, bahkan sampe skrg. Saya selalu mencari kepuasan di luar. Buat saya gampang cari ceweq atau tante model apapun, walaupun hanya modalnya dg senyum, wajahku kata teman teman ku cute..., postur tubuhku atheltis karena dulu saya sering fithness, tinggi 178cm dan berat 75kg. Saya selalu melanglangbuana cari kenikmatan dunia... Tapi entah kenapa sejak sekolah dulu banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarku. Mungkin karena otakku yang cerdas dan kepandaianku bergaul atau karena aku memang memiliki daya tarik sendiri.

Saya tinggal di suatu daerah strategis di Jakarta Barat. Saya seorang wiraswasta. Saya membuka sebuah bengkel di wilayah perkantoran di Jakarta Selatan. Sekarang usaha itu sudah saya serahkan ke adik, sementara saya melanglang ke Jawa Timur tepatnya ke kota Malang

Kisah saya ini berawal kurang lebih 2 tahun yg lalu. Dengan kepandaianku mengelola saat itu saya telah memiliki banyak pelanggan di bengkel Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yg bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Santi, usianya 47 tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih bersih. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi. Yang menjadi pusat perhatianku adalah payudaranya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Saya sering membayangkan jika suatu saat dapat merasakan halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum putingnya payudaranya.

Malam itu saya sedang nunggu Taxi mau pulang, saya baru saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit saya nunggu, datang mobil sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Mbak Santi di dalam mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya "Mau kemana An..? kok sendirian, mau saya antar nggak? tanpa basa - basi. Saya lalu memasuki mobil mewah itu, kemudian kita ngobrol2 di dalam mobil. Singkat kata Mbak Santi mengajakku ke discothique, waktu itu malam minggu.
Sesampainya di discothique. Kami mencari table yang kosong dan strategis di pojok tapi bisa melihat floor dance.

"Saya sedang pesan lagi satu untuk kita berdua," kata Mbak Santi. Untuk "ON", saya memang butuh dorongan inex, tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Mbak Santi. Takaran satu setengah baru cukup untuk Mbak Santi. Ternyata Mbak Santi suka triping...

Pesanan tak lama datang. Kubayar bill-nya. Ditanganku ada dua butir pil inex, yang satu saya bagi dua. Mbak Santi segera menelan satu setengah, dan sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Mbak Santi terlihat semakin on. Maka kami berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalam diskotek yang penuh dengan orang yang sama-sama triping.
Saat saya berdiri dan melihat Mbak Santi "ON" berjoget dengan erotisnya, tak lama kemudian Mbak Santi menghampiri dan merapatkan tubuhnya yang mulus itu ke depanku... Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap.

Dalam keremangan dan kilatan lampu diskotek, ia nampak manis dan anggun. Saya kembali menyibukkan diri dengan bergoyang dan memeluknya belakang tubuhnya. Sesekali tangan ku dengan nakal meremas dada Mbak Santi yang masih tertutup kemeja, Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua gunung kembarnya yang masih terbalut BH. Tanganku akhirnya dapat mmerasakan halus dari payudara Mbak Santi , jari-jari ku mencari- cari puting payudara Mbak Santi dengan menyusup ke dalam Bh Mbak Santi. Saya remas dada Mbak Santi dengan perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Mbak Santi berusaha membuka pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang itu, sambil tanganku memainkan puncak puting susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku.

Sementara Mbak Santi hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang mengikuti irama, saya terus mengelus dadanya sehingga membuat Mbak Santi dari gerakan tubuhnya Mbak Santi memang kelihatan ingin sekali di puasi, terlihat dari pantatnya yang montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke belakang. "Kamu sudah on berat ya?" katanya. Saya tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kucium pipinya.

Pada pukul 02.00 pagi, DJ mengumumkan discothique akan terus buka sampai pukul 05.00.
Pengunjung bersorak-sorai riang gembira. Tapi Mbak Santi kelihatannya sudah mulai "Droop"...
"Sayang saya sudah lelah," keluh Mbak Santi.
"Ah, masa lelah, sayang," ucapku sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya.
"Sayang..., kita pulang, yuk..," katanya. "Saya ingin istirahat".
"Pulang ke mana?" tanyaku.
"Ke mana aja", jawabnya. Saya baru mengerti, bahwa dia ingin lanjut ke tempat tidur.
"Saya sebenarnya sudah booking kamar di hotel dekat sini,'' ujarnya.
"Kalau begitu, kita ke sana,"
"Tapi tunggu, saya mau bilang temen dulu yang lagi digaet cowok di pojok sana," katanya.

Tepat pukul 02:30 dini hari kami keluar dari discothique tersebut dengan rasa puas dan senang terus kami menuju ke hotel, Sesampainya kami dikamar Mbak Santi langsung berjoget lagi kali ini tanpa musik tapi dia yang bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti orang sedang menari striptis, saya hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa yang ada tepat didepan jendela.

Sambil menari dan melucuti pakaiannya Mbak Santi menghampiri saya dan segera jongkok didepan saya sambil membukan resleting celana saya, saya hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya, "Woww.. besar dan kencang sekali... buat Santi ya..." kemudian Mbak Santi mengulum penisku yang menegang sejak tadi. "Ooogghh... ssshhh... enak sekali Mbak", ucapku. Dia mengeluarkan kontol saya yang sudah setengah tegang dan langsung di isapnya dalam-dalam. Jago memang Mbak Santi dalam memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan meliuk diteruskan ke buah zakar saya,

Setelah 10 menit naik dan turun dia isap dan jilatin kontol saya, Mbak Santi melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan jatuh telentang. Langsung saya menyergapnya, dan kami bercumbu dengan dorongan nafsu sangat tinggi karena pengaruh inex. Kami berciuman, beradu lidah dan bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya.. Kujilati daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dengan lidahku.

Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya, menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan bokongnya. Kubekap memeknya yang ditumbuhi bulu halus nan rimbun. Jari manis dan telunjukku merenggangkan pinggiran memek Rani. lalu jari tengahku mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.

"Ooooh... ssshhhh... aaaahhhh...!" desah Mbak Santi. "Sayang...," dengusku sambil terus mencumbunya. Aku menarik tanganku dari memek Mbak Santi. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya... berputar sampai akhirnya meremas bagian putingnya. Akhirnya angan ku tercapai... saya ciumin, saya gigit pinggiran payudaranya, saya lumat putingnya...

"Ooooh... sshhhh... terrruuuusss... saaayyyy...!" desah Mbak Santi lagi. Saya jilati pinggiran buah dadanya, lalu menghisap putingnya. "Ooooohh... sayang...!'' Mbak Santi merintih nikmat. Mbak Santi bangkit dan mendorong aku supaya telentang. Ia melakukan cumbuan meniru caraku. Ia pun membekuk kontolku dan mengelusnya dengan tekanan yang membangkitkan birahi. Mbak Santi memutarkan badan di atas tubuhku yang telentang. Ia menciumi dan menjilati kontolku sementara memeknya disumpalkan ke mulutku.

Akhirnya Mbak Santi menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku. Juga si nagaku yang sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua bantal. Dengan lembut kuangkat tubuhnya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah pantatnya. Menyangga tubuh bagian bawahnya. Membuat pahanya yang putih mulus kian menantang. Terlebih ketika bukit venus dengan bulu-bulu halusnya menyembul ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang saat lidahku kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu itu. Dia menjerit saat kucoba menguak kemaluannya dengan jari telun-jukku. Otot pahanya meregang saat kuhisap clitorisnya. ''Masukkan kontolmu, cepat sayang," rintihnya.

"Aaaahhhh... ssssttthhhh.... oooooohhhhhh...!" rintihan kenikmatannya kali ini terdengar nyaris seperti jeritan. Aku jongkok di pinggir tempat tidur, kutarik kaki Mbak Santi sampai bokongnya berada di tepi ranjang. Kusingkap selangkangannya, dan kulumat memeknya yang sudah becek.

Kubalikkan tubuhnya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya. Kukorek-korek anusnya dengan jari tengahku. "Ouuww.. oooh... ssshhhhh.... sayang, sssaaaayyyyaaaa gggaaaakkkk tttaaaahhhaaannnn.... cepet maaassssuuuuukkkiiinnn!" katanya memelas-melas.

Semakin Mbak Santi memanas birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi. Aku melihat Mbak Santi sampai meneteskan air mata menahan orgasme.

Dipegangnya penisku yang sudah membesar ini. Dia bimbing dan penisku terasa menyentuh bibir kemaluannya. Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Dia memekik. Pada dorongan kesekian kalinya sasaran lepas lagi. Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah jongkok, Kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas tubuhku. Kuarahkan penisku ke lubang yang basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku kuat-kuat. Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Kedua kakinya meregang ototnya. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku. Pertama terasa gemertaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yang plong. Membuat dia menjerit, merintih keras, "Acchhh... ssshhhh..."

Ketika kupacu dia dengan irama yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan di antara ketiaknya. Dia meremas rambutku seiring dengan naik turunnya tubuhku. Kukunya mencengkram punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dengan wajah kuyu. Dari keringat kami yang menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku. Dengan menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak tubuhku yang di atasnya.

Tak lama kemudian Mbak Santi merobah posisi menduduki pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan2 ke memeknya. "Uppss... ooohhh... rasanya nikmat sekali penisku didalam memeknya. Mbak Santi terus bergoyang naik turun.
"Aaahhhhh... ena..aakkk..."erangku. Mbak Santi terus bergoyang sambil menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.Dan aku gantian memompanya dari atas "Ssshhhh... Aaahhh...tttrruuusss... sshhhh..." erangnya. Aku terus memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang
"Sssshhhttt... aaaahhhhhhh..." otot vaginanya berkontraksi meremas2 penisku
"Oggghhh... terus sayang... nikmat sayang... oogghhh... oogghhhh... yeeaahh... nikmat sayang... terus sayangg... saya mau keluar nich dan sekitar 2 menit Mbak Santi udah mengeluarkan cairan nikmat dari dalam memeknya.
"Oooogghhhh... saya udah keluar sayang..." erang Mbak Santi.

Tiba-tiba, pintu kamar ada yang mengetuk. "San... San!" suara perempuan.
Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Mbak Santi. "Teruskan, sayang...! Itu temanku, biarkan saja," kata Mbak Santi.
"Saaaannn...!" pintu diketuk lagi diikuti suara panggilan. "Masuk aja, Lin..., engga dikunci, kok,'' ujar Mbak Santi.
"Huusss..!!! Kita lagi nanggung dan bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?" sergahku.
"Engga apa-apa, cuek aja.." kata Mbak Santi enteng sambil tersenyum manis.

"Wah, rupanya lagi pada asyik nih," kata Lina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar. Saya masih dalam posisi jongkok dan kontolku masih di dalam memek Mbak Santi, dan hanya menyeringai melihat kedatangan Lina.
"Mana cowokmu tadi?" tanya Mbak Santi.
"Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah aku dibawa ke hotel lain. Habis ngewe, kami pisah,"sahut Lina.

Saya masih bengong mendengar percakapan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Santi menarik tanganku yang tersampir di pahanya. "Ayo sayang goyangin kontolmu sayang, jangan kalah sama Lina yang baru habis ngewe," desak Mbak Santi.

Saya berdiri dan mengangkat tubuh Mbak Santi. Kontolku yang sudah tegang dari tadi, segera saya tembakkan lagi ke dalam lubang memek Mbak Santi yang sudah tidak perawan tapi masih terasa lengket.. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat. "Sssshhhh... Yang dalam... ceeepaaattt... aaaahhhhh...sssttthhhh..., eeeennnaaakkkk... sayyyyang... genjoooootttt..." pinta Mbak Santi. Aku pompakan kontolku dengan penuh gairah.

Sementara Lina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri di sana. Mungkin berendam di bath tab. Pengaruh inex membuat daya tahan persenggamaanku dengan Mbak Santi cukup lama. Berbagai gaya kami lakukan. Mbak Santi beberapa kali mengerang dan menggigit pundakku saat mencapai orgasme. Sementara nagaku masih anteng dan melesak-lesak ke dalam memek Mbak Santi.

"Aduh.. capek, sayang..!" rintih Mbak Santi. "Istirahat dulu.. yah..?"
"Sabar, donk, say. Aku sangat menikmati hangat nya memekmu," rayuku.
Mbak Santi lantas menggelepar pasrah, tidak kuasa lagi menggerak-gerakkan tubuhnya yang lagi kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan keringat. Tapi nagaku masih tegang, belum mau memuntahkan sperma. Akhirnya aku kasihan juga sama Mbak Santi yang sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku masih menggagahinya.

Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi. Spontan aku bangkit dan melepas kontolku dari memek Mbak Santi. Dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Mbak Santi dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Benar saja Lina sedang berendam di bath tab dengan tubuh bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya. Kepalanya bersender pada ujung bathtab. Aku menghampirinya dengan kontol yang masih tegang.

Mata lina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bath tab, menghadap ke arahnya.
"Mana Santi?" tanyanya setengah berbisik sambil matanya turun naik melihat ke arah muka dan kontolku yang ngaceng.
"Dia tidur... jangan berisik," kataku sambil naik ke dalam bath tab dan langsung menindih tubuh Lina yang sintal dan pasrah. Kami bergumul dalam cumbuan yang hot.
"Lin kamu diatas yah... " Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dengan segera di pegangnya kontolku sambil diarahkan kememeknya, kulihat memeknya indah sekali, dengan bulu-bulu pendek yang menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan memeknya. "Aaawww... enak banget memek kamu Lin..." "Enak kan mana sama punya Santi...???" Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya kontolku mau patah ketika diputar didalam memeknya dengan berputar makin lama makin cepat.
"Aaahhh... Lin... enak banget aaahhhh..." Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap. "Ton... saya maaaauuu keeellluuuuaaaarrr..." "Rasanya mentok... aaaahhhh..." Memang dengan posisi ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.
"Ah...Ah...Eh.." suaranya setiap kali aku menyodok memeknya.
Kugenjot memeknya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat memeknya,
"Lin maaauuuu kkeeeelllluuuaaarrrrr... aaaahhhh... sshhhhh... aahhhhhhh..." Kupeluk erat dia sambil melumat putingnya. Kupompa memeknya sampai kami tak sadar mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Santi.

Mbak Santi tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dengan tubuh bugil dan matanya menatap aku dan Lina yang lagi bersetubuh. "Gitu yah, engga puas dengan aku kamu ngewe in Lina," hardik Mbak Santi dengan nada manja, pura-pura marah.
Eh, malah Mbak Santi kini ikut naik ke dalam bath tab. "San, ayo gantian, aku udah dua kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa," kata Lina.
"Ayo sayang, sekarang aku akan membuat kontolmu muntah," kata Mbak Santi.
Segera Mbak Santi hampiri saya di dalam bath yang penuh dengan air, ditonton Lina yang duduk di ujung bath tab sambil membasuh memeknya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Santi. Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang memeknya yang basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala kontolku ke lubang memeknya secara perlahan-lahan.

"Aduuuuh... say pelan-pelan, agak sedikit pedih say... pelan-pelan, ssshhhttt... say nikmat juga rasanya". Kutekan kontolnku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil nahan sakit...
"Teruuusss..., pelan-pelan aja yaaa sayyy... Aaahhhh... eennnaaakkk saayyyy... sambil mainkan itilnya say... aduuuuuuuhhhhh nikamatnya... oooohhhh..." Terdengar suara kecrooooott, kecrooot bila kutarik dan kumasukan kontolku di lubang memeknya, karena suara air kali ya...

Mbak Santi semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecraaat, kecrooooot semakin keras. Tak lama kemudian. "Aaaaduuuuh say aku nggak tahan lagi ingin keluar... kamu hampir keluar blum say... aduuuuuh saaayyyy... eeeennnnaaakkk teeerrruuussss... yyyyaaaannngggg ccceeeeepppaaaatttt saaayyyy.... sssshhhhh....aaaaahhhh... ".
"Aduuuuh Sayang... terrrrusss... aaaahhhh... eeennnaaakkkk say..., nikmat sekali... rasanya ingin keluar say, aduuuuuuh... nikmatnya, teruuuusssss... yang cccceeepppaaatttt... sssaaaayyyy... aduh saya nggak tahan ingin keluar... creeett... creeettttttt... creetttttt... Kulihat Mbak Santi terkulai lemas dan memeknya kursakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan memeknya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Mbak Santi akan orgasme.

"Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, udah mau orgasme!" Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Mbak Santi. Aku masih terus menggenjot memeknya. Wajah Mbak Santi terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme.
Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat.
"Sayang, saya mau keluar nich..."
"Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Santi juga mo keluar." Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang jakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Mbak Santi. "Ooogghhh... saya sampai nih... aaaahhhhh.... Crroootttt....crrootttt....croottt... air maniku keluar dengan derasnya ke dalam memek Mbak Santi dan Mbak Santi pun menikmatinya.
"Akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang," kata Mbak Santi sambil memeluk dan menciumi bibirku.

Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama sama melepaskan air mani kami. "Lin... emut kontolku sayang" kataku lalu mencabut kontolku dari memeknya Mbak Santi. serr...serr..serrrr...seerr... Lina melumat ½ kontolku hingga air mani ku habis keluar. "Mmmmhhh... aaaahhh... enak sekali pejuhmu" katanya sambil mengocok ngocok kontolku mencari sisa air maniku.
"Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, udah mulai menggeliat!" kataku, menggoda.
"Hhhaaah...!!!?" teriak Mbak Santi dan Lina terkesiap bersamaan kompak.

Kemudian saya segera keluar dari bed tab mendekati Lina dan menyuruhnya membelakangi, Dari belakang saya mengarahkan kontolku ke memeknya yang sudah basah lagi karena nafsu melihat saya dan Mbak Santi. Sleeeepp... blesss.... aku langsung memasukkan kontolku terburu buru karena sempit waktu membuat kesakitan Lina. "Aduuh pelan pelan dong Say.., Lina sakit nih" katanya agak merintih.

"Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih"kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah. Lalu aku mulai memaju mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.
"Shhhh...ahhhh...shhhh..."kata Lina setengah merintih kenikmatan
"Liiinnn... Memekmu sempiitt... nikmat Liiinnn..." teriak ku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami. Sleeep...bleess...cplok..cplok...cplok irama persetubuhan kami sungguh indah hingga saya ketagihan.

Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama sama sampai hampir bersamaan.
"Shhh... ahhh... say Lina sampai nih"katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.
"Iya Lina sayang saya juga sampai nih, didalam yah say..." kataku lalu menghunjamkan kontolku dalam dalam dimemek Lina.
Seerr...serr..serr...croot...croot...croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut kontolku dari memek Lina.

Kontolku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan Lina.
"Uuughhhhh... say enaak banget...sssstttthhhh..."katanya.
Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.

Itulah petualangan seksku dengan cewek cewek cantik yang membuatku ketagihan.
Dan kegiatan kami ini terus berlanjut sampai sekarang.