"Facebook Fuck Quest : Hana Jessica Manado

UPDATE: Semenjak cerita ini dipublikasikan, saya banyak mendapat teror dan ancaman dari teman-teman dan keluarga Hana Jessica. Mereka menuduh saya menyebar fitnah tentang Hana Jessica. Ujungnya, saya dilaporkan ke pihak yg berwajib namun dibebaskan karena saya memang tidak bersalah. Saya tidak mau masalah perdebatan berkepanjangan. Yang perlu saya katakan pada semua teman dan keluarga Hana Jessica adalah bahwa apa yg saya ceritakan ini adalah benar. Hubungan antara saya dan Hana Jessica adalah berdasarkan suka sama suka, tanpa ada unsur paksaan sedikit pun. Hana Jessica tidak sebaik yg kalian semua pikirkan. Kalau dia tidak mau mengakuinya, berarti dia memang munafik!

Bagi yg penasaran dengan sosok Hana Jessica dan kemunafikannya, silahkan cari profil Facebook Hana Jessica, yg sudah tidak pernah diupdate lagi, mungkin karena sudah malu, atau mungkin karena memang tidak tahu malu.

Cerita Mesum Hana Jessica Manado
Nama saya Erwin, seorang wartawan senior di sebuah harian di Jakarta. Saya ditugaskan mengunjungi cabang kami di Manado untuk memberikan pelatihan jurnalisme kepada para wartawan junior di sana sekaligus meliput kampanye di Manado. Tak disangka saya bertemu dengan seorang gadis dari Facebook yang bernama Hana Jessica yang berujung pada hubungan seks. Pengalaman ini membuatku melanjutkan petualanganku dengan gadis-gadis Facebook dan mengoleksinya dalam kumpulan cerita Facebook Fuck Quest. Sayang sekali aku tidak sempat merekam saat pertama kali berhubungan seks dengan Hana Jessica di pantai Kalasey, karena aku memang tidak punya persiapan untuk merekam kejadian itu. Hanya hubungan seks kedua kalinya di hotel tempat aku menginap yang sempat aku rekam. Dalam petualangan bersama gadis-gadis Facebook selanjutnya, akan aku usahakan untuk merekam semua hubungan seksku dengan mereka.

Download Video Mesum Facebook Girl : Hana Jessica Manado

Malam itu tanggal 2 Juni 2009 sekitar pukul 21.30. Aku di dalam mobilku sedang keliling-keliling kota Manado. Rencananya aku hendak meliput persiapan kampanye partai-partai yang katanya sudah ada di seputar Stadion Klabat. Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang bercokol di putaran Stadion Klabat sejak malam ini. Kelihatannya mereka tidak mau kalah dengan partai-partai lain yang kemarin dan hari ini telah memanjat patung di depan Stadion, yang di samping Coco Supermarket, memasang bendera mereka di sana, dengan korban beberapa orang tentu saja. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Kebanggaan? Atau sebuah ketololan. Kalau ternyata mereka tewas atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Lho, kok aku bicara politik. Biarinlah. Macam-macam saja ulah mereka, maklumlah sudah saat kampanye terakhir buat partai-partai di Manado ini.

Di depan Hotel Gran Puri aku parkirkan mobilku, bersama banyak mobil lainnya. Memang aku lihat ada beberapa kelompok, masing-masing dengan bendera partai mereka dan atribut yang bermacam-macam. Aku keluarkan kartu persku, tergantung di leher. Juga Bernard, kawan baik yang menjadi sumber nafkahku. Aku mendekati kerumunan simpatisan partai. Bergabung dengan mereka. Berusaha mencari informasi dan momen-momen penting yang mungkin akan terjadi.

Saat itulah pandanganku bertemu dengan tatap mata seorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di atap sebuah mini bus. Wajahnya yang cantik tersenyum kepadaku. Gadis itu memakai kaos partai yang mengaku reformis,---aku rahasiakan saja baiknya---yang telah dipotong sedikit bagian bawahnya, sehingga seperti model tank top, sedangkan bawahannya memakai mini skirt berwarna putih. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Paling lincah, paling menarik.

"Cowo, ngana wartawan (mas, mas wartawan ya?)" katanya kepadaku.

"Iya".

Aku memang aslinya dari Manado. Masa kecilku kuhabiskan di sana sebelum pindah ke Jakarta sehingga aku masih mengerti bila mendengar bahasa Manado tapi tidak bisa lagi berbicara menggunakan bahasa Manado.

"Wawancara kwa pa torang (Wawancarai kita dong)", Salah seorang temannya nyeletuk.

"Emang mau?".

"Oooh, tantu noh. Maar foto dulu dang pa torang... (Tentu dong. Tapi photo kita dulu...)"

Nah dari sinilah berawal cerita ini dan kini ku koleksi dalam kumpulan cerita Facebook Fuck Quest.

Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose.

"Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?".

"Biar jo, daripada besok kong partai laeng somo ambe (Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain)".

"Memang akan terus di sini? Sampai pagi?".

"Tantu. voor ____(nama partai), torang rela nda mo tidor satu malam (Tentu, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman)."

"Hebat."

"Ngana di sini jo cowo. Sadiki le ada tu mo nae tu patong. (Mas di sini aja. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat patung)." Kata gadis yang menarik perhatianku itu.

Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu, walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.

"Eh, nama kalian siapa?" Tanyaku, "Aku Erwin."

"Kita Hana (Saya Hana)." Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan. Pembicaraan berlanjut sampai ke soal Facebook yang memang lagi booming saat ini. Saat menanyakan nama mereka di Facebook, aku kaget ketika gadis yang menarik perhatianku itu mengaku bernama Hana Jessica. Nama itu ada di daftar teman Facebookku, namun belum pernah berkomunikasi karena dia tidak membalas message perkenalan yang kukirim. Aku pun menganggap itu wajar karena Hana Jessica mempunyai lebih dari 3000 teman dan pasti banyak yang mengirim message kepadanya sehingga ia tak mungkin bisa membalas semuanya.

Kuperhatikan wajahnya dan kuingat-ingat foto yang di Facebook. Ya, tak salah lagi. Gadis ini adalah Hana Jessica yang ada di daftar temanku di Facebook. Dengan girang kukatakan padanya bahwa aku ada di daftar temannya di Facebook. Dia pun kaget, karena dia juga tidak sempat memeriksa siapa saja yang jadi temannya di Facebook, saking banyaknya. Setelah itu, pembicaraan pun menjadi semakin hangat dan akrab. Kami bercanda dan saling meledek layaknya sahabat yang sudah lama kenal.

Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran Stadion Klabat didatangi Kapolri yang meninjau dan 'menyerah' melihat massa yang telah bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah pukul 06.00 - 18.00.

Saat aku kembali, gerombolan Hana Jessica masih ada di sana.

"Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku. Sampai ketemu." Pamitku.

"Eh, cowo, Erwin! ngana pe kantor di "x" (nama koranku) toh, Boleh kita manumpang? (Eh, Mas, Mas Erwin! Kantornya "x" (nama koranku), khan. Boleh saya menumpang?)" Hana berteriak kepadaku.

"Kemana?"

"Rumah. Kita pe rumah di dekat situ le. (Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.)"

"Boleh saja." Kataku, "Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?"

"Ah, nyanda. So manganto. Boleh toh? Nda ada yg mo antar pulang kasiang. (Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih.)"

Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.

Benar-benar kampanye, nih? Sama saja kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!)

Hana menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.

"Hana! Pulang neh! Jang komaling... (Hana! Pulang lho! Jangan malah...)" Teriak salah seorang temannya.

Hana cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.

Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan lincah Hana telah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati. Terkadang pun aku bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia kuliah di Fakultas ___(nama fakultas) Universitas ___(nama universitas) di Manado. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja. Politik? Pusing ah mikirinnya.

Usianya baru 22 tahun, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.

"Kamu sudah punya pacar, belum?" Tanyaku.

"Sudah." Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.

"Tidak ikut tadi?"

"Nda (Nggak)."

"Kenapa?"

"Da baku marah. (Lagi marahan)"

"Wah.., gawat nih."

"Biar kasana (Biarin aja)"

"Kenapa emangnya?"

"Dia dapa loku ba hugel deng kita pe tamang, mar nimau mangaku. (Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku)."

"Perang, dong?"

"Kita marah! Hi, dia babale marah (Aku marah! Eh dia balik marah)."

"Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja."

"Bagimana? (Gimana caranya?)" Tanyanya polos.

"Kamu selingkuh juga." Jawabku asal-asalan.

"Io so? (Bener?)"

"Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu."

"Hi, sedangkan ngana cowo (Lho, Mas sendiri cowok)."

"Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha."

Dia ikut tertawa.

Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Hana meminta satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang.

Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang. Hana tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis ini benar-benar cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang sempurna, tegak berisi.

Tanpa sadar penisku bereaksi.

Aku menyalakan tape mobilku. Hana memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar.

"Abis ini mo kamana? (Setelah ini mau kemana?)"

"Pulang. Kemana lagi?"

"Torang ka pante jo? Pastiu kita no (Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih)." Katanya menghembuskan asap putih dari mulutnya.

"Ngapain"

"Lia laut, dengar omba, sabarang jo no. So malas kita mo pulang. Salalu dapa inga pa Icad, kalu kita sandiri (Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang jadinya. Selalu ingat Icad, kalau aku sendirian."

"Icad?"

"Kita pe paitua (Pacarku)."

"Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?"

"So terbang deng asap deng tai-tai (Udah terbang bersama asap)." Katanya, tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel di pangkal tangan kiriku. Hangat.

"Bolehlah." Kataku, setelah berpikir kalau besok aku tidak harus pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan Hana menuju arah Selatan. Kalasey! Mana lagi pantai di Manado ini.

Aku parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Kalasey. Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Hana tadi. Sampai setengah jam kami hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.

Tiba-tiba Hana mencium pipiku.

"Makase neh Erwin (Terima kasih, Mas Erwin)."

"Untuk apa?"

"Lantaran so batamang akang pa Hana (Karena telah mau menemani Hana)."

Aku hanya diam. Menatapnya. Dia pun menatapku. Perlahan menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar, begitu juga dengan bibirnya. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium kening Hana terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya. Hana terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.

Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah. Tanganku membuka kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.
"Erwin, ngana tau kita pe kelemahan no, kita paling nda tahan kalu orang isap di toto...,aaah... (Mas Erwin, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya..., aahh...)".

Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil tanganku membuka mini skirtnya.
Terpampanglah jelas tubuh telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu.

Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Hana

"Hana kamu udah pernah dijilatin itunya?"

"Belum..., kiapa? (Belum..., kenapa?)".

"Mau nyoba nggak?".

Hana mengangguk perlahan.

Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke kemaluan Hana yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas. Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut klitorisnya.

Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Hana

"sstt... Aahh!!!"

Aku terus beroperasi di situ

"Aaahh..., Erwin..., gila sadap skali..., gila..., baru ni kali kita rasa sadap bagini..., aahh, kita so nda tahan..., sudah... (aahh..., Mas Erwin..., gila nikmat bener..., Gila..., saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini..., aahh..., saya nggak tahan nih..., udah deh...)"

Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku. Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya.

"aahh..." Lenguhku

Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.

"Aduh Hana, jangan kena gigi dong..., Sakit. Nanti lecet..."

Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya.

"Ohk!.., adoh Erwin, cuma tamaso seperampa (Ohk!.., aduh Erwin, cuma bisa masuk seperempat...)"

"Ya udah Hana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak."

Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya kemaluanku menembus lubang kemaluannya.

Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Hana dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.

"sstt..., aahh..., Erwin, kase maso plang-plang, so dapa rasa pidis ini (sstt..., aahh..., Mas Erwin, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih...)"

Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Hana, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras. Terdengar suara aneh. Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Hana, tampak olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Hana tersentak kaget.

"Adoh, Erwin, suara apa itu? (Aduh Mas Erwin, suara apaan tuh?)"

"Nggak apa-apa, sakit nggak?"

"Sadiki... (Sedikit...)"

"Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok..."

Dan kurasakan lubang kemaluan Hana sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam kemaluan Hana sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Hana tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat wajah Hana seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara. "sshh..., sshh..."

Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal, kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam lubang kemaluan Hana.

Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok..., kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Hana. Dan Hana pun merasakannya.

"Adoh Erwin, so kandas, jang paksa isi trus, tapi puru so rasa bagimana ini, mar sadap..., adoh..., ngana punya pe basar skali kwa... (Aduh Mas Erwin, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat…., aduh..., barangmu gede banget sih...)"

Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Hana, ternyata lubang kemaluan Hana masih sempit, walaupun bukan lagi seorang perawan. Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Hana besar, panjang dan kekar. Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Hana pun sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang ke kiri, Hana goyang ke kanan, bila kutekan pantatku Hana pun menekan pantatnya.

Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Hana, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Hana merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.

Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.

"Aahh Erwin..., se capat sadiki..., rupa somo tabuang kita (Aahh Mas Erwin..., agak cepet lagi sedikit goyangnya..., saya kayaknya udah mau keluar nih...)"

Hana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat..., semakin erat..., tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku.

"Mas Erwin..., aahh..., mmhhaahh..., Aahh..." Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.

"aahh..., gila..., Ini nikmat sekali..." Teriakku.

Baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang.

"Erwin..., cabu..., kase tabuang di luar... (Mas Erwin..., cabut..., keluarin di luar...)"

Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan

"aahh..., ahh..." Aku mengerang.

"Ngghh..., ngghh.."

Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.
Chrootth..., chrootthh..., crothh..., craatthh..., sebagian menyemprot wajah Hana, sebagian lagi ke payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.

Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.

"Erwin..., sadap skali bagini deng ngana, dapa rasa beda deng kalu kita bagitu deng Icad. lebe sadap deng ngana. Kalu deng Icad, kita nda pernah tabuang, mar baru satu kali deng ngana, kita so tabuang, lantaran ngana punya basar sto kang? (Mas Erwin..., nikmat banget main sama kamu, rasanya beda sama kalo saya gituan sama Icad. Enakan sama kamu. Kalau sama Icad, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget ya?)" Katanya sambil membelai batangku yang masih tegang, namun tidak sekeras tadi.

"Kita nda mo lupa ni malam ni dia, kita mo inga trus, jadi kita kenangan manis (Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya)"

Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata "Iya Hana, saya juga, saya nggak bakal lupa".

Kami pun setelah itu menuju hotel tempatku menginap, kembali memadu cinta. Kali ini aku sempat merekamnya dengan handphoneku. Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi lain waktu.

Bagi yang berminat untuk mendownload rekaman hubungan seksku di hotel dengan Hana Jessica, silahkan download dari link di bawah ini. Videonya aku bagi menjadi beberapa bagian dan dikompres dalam format .rar agar lebih mudah di download. Jangan lupa untuk mengikuti petualanganku bersama gadis Facebook berikutnya dalam kumpulan cerita Facebook Fuck Quest.

Download Video Mesum Facebook Girl : Hana Jessica Manado