Seminggu Mesum Bersama Tante Ana Sexy Telanjang Bugil

Sore itu, Aku ( sebut aja Adam ) jalan ke sebuah mal untuk beli baju. Sesampainya di counter pakaian, Aku memilih - milih baju, setelah mendapatkan baju yang kuinginkan, Aku menuju ke kasir. Disaat hendak membayar ke kasir, tiba-tiba ada suara wanita dari sebelahku nyeletuk ke kasir, " Mbak, tolong sekalian punya saya dihitung, biar saya yang bayar". Singkat aja dari kejadian itu kita kenalan, kemudian Aku diajak tante Ana makan di salah satu satu kafe di mal itu. Setelah makan, Aku diajak Tante Ana ke rumahnya yang mewah, sesampainya di dalam rumah Aku dipersilahkan duduk. Adam, tante mandi dulu ya.... silahkan tante jawabku. Sekitar 5 menit ada suara dari arah kamar mandi memanggilku, yang tak lain adalah Tante Ana. Adam, tolong kesini..... Tante mau minta tolong. Ada apa Tante? Tanyaku. Ini Adam, Tante tolong dilulurin... sambil memberikan lulur scrub kepadaku. Pertama kululurin bagian punggungnya dan sambil kupijit. ehhmmm ..... enak sekali Adam pijatanmu, kemudian Tante Ana membalikkan badannya, kemudian pemandangan yang indah ternyata muncul juga. kulihat buah dada Tante Ana yang putih dan montok tepat di depanku. Tanpa pikir panjang lagi, langsung kuhampiri susu Tante Ana yang putih dan montok itu dan langsung kujilati. Ooohhh.... enaaakkk sayang. Terus kujilati sampai ke bawah dan sesampainya di lubang kenikmatan, langsung kujilati vagina Tante Ana, dan terlihat itil Tante Ana yang udah memerah. Oouuhhh....... sayaangggku, teruskan sayang,,,,,, nikmat sekali rasanya, kata Tante Ana sambil memegangi kepalaku dan menggeliat - geliat keenakan. Setelah itu gantian Aku yang dilahap habis oleh Tante Ana, dijilatinya seluruh tubuhku dari atas sampai bawah, baik pada bagian depan maupun belakang. Sesampainya di penisku, Tante Ana bilang" Wow.... besar sekali sayang, pasti enak nich, untuk Tante ya. Setelah itu dipegangnya penisku, lalu dimasukkannya ke dalam mulut, lalu di kulumnya dengan semangat, selain itu dijilatinya juga anusku sampai basah. Ouuucchhhhh..... oooohhhhhh........ohhhhh....enaaakk tanteee.... Dan " jrooottt... jroott.... jrrooottt, keluarlah air maniku di dalam mulut Tante Ana, dan disedotnya terus air maniku sampai habis. Ehhmmm.... segar sekali air manimu sayang, kata Tante Ana sambil terus menyedot penisku sampai penisku tegang lagi. Para pembaca bisa membayangkan, gimana rasanya setelah keluar air mani, masih terus disedot sampai penis tegang lagi. Ehhmmm.. pasti sungguh nikmat khan. Setelah itu, dipegang dan diarahkannya penisku ke lubang vagina Tante Ana. Ayo sayanggg.... cepat masukkan sayanggg, Tante udah nggak tahan nich.... Langsung aja kumasukkan penisku yang udah menegang sejak tadi. Oohhhhh.... eennnaaakkkk sayaaanngg....... terussss sayaanngggg.....oohhhhh..... ooohhhhh. Kugenjot terus penisku di dalam vagina Tante Ana, sampai Tante Ana kelonjotan. Setelah kugenjot sekitar 10 menit, Tante Ana mendesah Ooouucchhhh sssaayang.. tante mau keluar nih... terus saayaanngg... Kugenjot terus dan diimbangi dengan goyangan pinggul Tante Ana yang membuat Aku pingin keluar juga. Dan " Jrrooottt..... jroottt... jroottt..... Ternyata Tante Ana udah keluar, dan kurasakan banjir di dalam vagina Tante Ana, sekarang vagina Tante Ana semakin basah dan licin. Genjotanku semakin kupercepat dan Tante Ana juga mempercepat goyangannya. Terus sayang..... enak sayang..... oohhhh....oohhhhh...ooohhhhh... dan jrroootttt....jrroottt... jrrootttt kita berdua keluar bersamaan. Ohhhh.... nikmat sekali sayang, kamu benar - benar hebat sayang, kata Tante Ana, dan Tante juga hebat jawabku, lalu kita berdua tertidur pulas sampai pagi dengan posisi penisku masih di dalam vagina Tante ana. Lalu pagi harinya kita berdua bangun dan langsung mandi bersama. Setelah itu kita pergi ke mal, sesampainya di mal kita makan lalu diteruskan shopping. Kegiatan seperti ini berlangsung terus sampai satu minggu lamanya. Selama satu minggu itu juga, segala kebutuhanku ditanggung oleh Tante Ana. Setelah 1 minggu bersama, kita berdua harus pisah karena Tante Ana harus mengurusi bisnisnya yang ada di london. Makasih Tante Ana, atas kasih sayang dan perhatianmu selama satu minggu itu.

Selingkuh Pertama - Mesum

Entahlah, aku sendiri tidak tahu kenapa diusia 3x begini, aku sangat merindukan seorang wanita lain dalam kehidupanku, bukan karena aku bosan dengan istri bukan juga karena aku tidak puas dengan pelayanan istri, istriku mungkin sibuk mengurus 2 orang anak hasil pernikahan kami yang masih kecil-kecil. Aku sendiri tak ada niat untuk menyakiti istri, tapi mungkin aku sebagai lelaki didera rasa jenuh dalam rutinitas hidup dan seks yang begitu-begitu saja.

Awal dari perselingkuhanku adalah khayalanku berhubungan intim dengan wanita-wanita dalam imajinasiku, dengan wajah cantik dan body yang aduhai, namun kian hari aku malah kian tersiksa untuk mewujudkan khayalanku itu, hingga tepat pada bulan agustus 2002 aku beranikan diri untuk menggoda salah satu karyawati ditempatku bekerja yang menurut aku paling cantik dan sexi.

"Bella, kamu cantik deh" akhirnya ucapan itu keluar juga dari mulutku meskipun dgn sangat berat, dan bella seperti kaget mendengar ucapanku karena selama ini aku jarang sekali berkomunikasi dengan anak buah selain urusan pekerjaan, "ah, bapak bisa aja!" mukanya kelihatan memerah menahan malu. Karena banyak sekali teman-teman sekerjanya, aku tidak banyak bicara dan meninggalkan secarik kertas berisi nomor telponku dari kantong bajuku yang sudah aku siapkan tadi, "Nanti telpon bapak ya?" bisikku pelan lalu aku pergi kembali ke ruanganku dan sempat kulirik bella hanya bengong, mungkin bingung, cemas, seneng atau apalah aku tidak tahu perasaannya!

Jam 16.30 ternyata bella benar menghubungiku, "selamat sore" terdengar suara bella di sebrang sana "sore, bella ya?" aku langsung menebaknya. "ini pak yudas ya?" dia bertanya mungkin utk meyakinkan bahwa aku adalah orang yang dicarinya. Obrolan kami berjalan lancar dan terus berkembang, tapi aku ingat bahwa bella yang bel, kuatir makan pulsa banyak aku berinisiatif agar aku yang ngebel, tapi ternyata dia di wartel, untunglah dia punya hp, aku catat nomor hpnya dan aku masukkan dalam memori hpku.

Meskipun Cuma sekedar ngobrol yang tak tentu arah tapi entah kenapa perasaanku sangat bahagia bagai mengalami cinta pertama lagi, malamnya aku kirim dia sms dan ternyata bella mereplynya! Bukan main senangnya hatiku, sayang saat seru-serunya sms dia bilang dia habis pulsa! Buru-buru aku ke komputerku untuk beli pulsa di internet banking dan langsung aku kirim no pulsanya kedia! "saya tidak mau reply sms bapak kalau bapak yang beliin pulsa" ternyata dia marah, mungkin tersinggung atau memang tidak ada tipe mata duitan, aku sms dia dan beri pengertian kepadanya bahwa saat ini akulah yang butuh dan kebetulan aku ada internet banking, akhirnya dia mengerti dan mau meneruskan komunikasi kami tadi.

Ternyata bella saat ini tidak punya kekasih, dia baru putus dengan pacarnya karena pacarnya setiap ketemu hanya minta seks, meskipun agak terkejut dengan keterbukaanya tapi aku senang, aku terus mereplynya hingga waktu menunjukan jam 11 malam kami masih asik ber sms ria, dan obrolan kami sudah menjurus ke hal yang paling pribadi, dia bercerita bagaimana saat pertama kali mengenal seks sampai gaya-gaya yang dilakukannya saat ml dengan pacarnya, akupun juga bercerita bagaimana ml aku dengan istri aku, "Bel, ngomong2 bapak jadi 'on' nih ngomongin beginian" aku mencoba memancingnya. "kan ada istri bapak?, udah main aja, saya mau tidur ngantuk, malam pak" meskipun kecewa terpaksa aku membalasnya juga "malam, bella"

aku langsung tidur dengan senyum bahagia dan berkhayal bisa main dengan bella yang cantik dan bahenol.

2 minggu sudah aku sms-an dengan bella setiap malam, namun setiap kali aku ngajak ketemu, makan, dsb selalu saja ada alasannya untuk menolak ajakanku, namun kegigihanku membuahkan hasil, 19 september 2002 (aku inget banget tanggalnya) pukul 17.00 dia ngebelke kantorku dan minta diantar ke mega mal pluit karena mau beli kado untuk temannya ul-tah, aku sampai bengong tak percaya, "Itupun kalau bapak tidak keberatan lho!" terdengar suaranya disana memecah lamunanku, "Iya, bisa!" sahutku cepat

aku menjemputnya ditempat yang dia janjikan dengan zebra bututku, dengan jeans dan kaos ketatnya sungguh membuat bella semakin cantik dan seksi, mungkin tinggi sekitar 160-an berat seimbang, dada pasti diatas 36, dan pantat dan pinggul yang bahenol, singkat cerita setelah lelah berputar-putar akhirnya kami dapat hadiah untuk temannya, dan langsung pulang ke tempat kami didaerah cimanggis, depok. Jantungku berdegup keras karena ingin sekali mencumbunya, namun aku tidak berani memulai!. Aku hanya bisa diam sepanjang perjalanan.

Aku masuk tol pluit arah priok ke cawang, dan baru saja beberapa meter dari tempat pembayaran tol, bella membuat aku terperanjat! "pak, boleh saya tiduran di paha bapak?" meskipun lembut namun aku mendengarnya bagai petir!! "eh.. iya, silakan" jawabku gugup.

Lalu kepalanya langsung direbahkan dipahaku, sekilas aku mencium rambutnya yang wangi, aku menjalankan mobilku perlahan aku tak mau keindahan ini berakhir hanya gara-gara sampai ditujuan. Konsentrasi mengemudikupun jadi kacau, kadang aku lihat bibirnya yang sensual sangat menggoda, kadang aku lihat buah dadanya yang besar naik turun seirama tarikan nafasnya, sementara hawa dingin ac dari mobilku membuatnya semakin pulas, aku pandangi kembali wajahnya yang cantik, Aku benar-benar diliputi keraguan antara keinginan untuk membelainya dan ketakutan akan penolakannya, akhirnya aku beranikan diri membelai rambutnya, bella masih diam mungkin pulas, aku sentuh bibirnya dengan jariku, bella masih terdiam, ragu-ragu aku sentuh buah dadanya, kenyal sekali..

Bella masih terdiam, aku semakin nafsu dan lupa dgn rsa takutku, aku masukkan jariku dari lehernya dan langsung meremas buah dadanya lembut, aku lihat bella menggeliat, aku diam tidak membuat gerakan, setelah bella diam lagi, aku cari putting buah dadanya dengan jariku, dan aku pilin pilin halus putingnnya yang masih mungil itu.. bella menggeliat kembali dan mencium tanganku yang tepat diatas mukanya, aku menarik jariku, namun bella menahannya. "teruskan, pak" dia seperti menggunam aku beranikan diri menatapnya, pandangan kami beradu, dan tiba-tiba saja bella menarik tanganku keluar dari kaosnya, dan dia langsung duduk dan menciumku ganas, aku sampai kewalahan..

Kami saling melumat dan menghisap lidah, sementara satu jariku tetap disetir dan mataku tetap tertuju pada jalanan, suasana tol yang sepi membuat cumbuan kami semakin panas, kini bella yang aktif mencumbuku, dia mengelus-ngelus dadaku dan menarik2 putingku, bahkan kancing kemejaku dibukanya dan dengan ganasnya dia mencumbu ujung dadaku dengan lidahnya yang basah dan hangat. akupun tak mau kalah dan mencoba memasukkan tanganku ke sela-sela jeansnya, perutnya yang ramping mempermudah jariku untuk bergerak masuk, dan mencari cari celah lembab yang dipenuhi belukar, ternyata bella sudah basah, aku gesekan jariku lembut di klitorisnya, bella mendesah, namun bella tidak tinggal diam dia melepas resluiting celanaku dan mengeluarkan senjataku yang sudah meregang kaku. Dan lamgsung melahapnya dengan rakus, aku bagaikan terbang diangkasa saat itu.. Akhirnya aku tak tahan juga aku semprotkan sejuta kenikmatan kedalam mulutnya dan bella menelannya semua. dan bella pun sepertinya sudah tak tahan. gesekan jariku pada klitorisnya semakin cepat. dan tiba-tiba saja bella menjepit jariku keras,, dan tidak lama aku merasakan hangat di jariku.. Ternyata dia pun orgasme..

Kami tersenyum, aku kecup keningnya mesra,. "bella, kita lansung ke hotel yuk?" aku bisikan di telinganya " jangan sekarang pak!, lain kali aja ya?" meskipun agak kecewa akhirnya kami berpisah di cimanggis, dia pulang dan akupun pulang dengan sejuta kebahagiaan.

Selingan Ngentot Yang Indah, Keluarga Utuh...

Sebagai seorang pimpinan yang membawahi banyak karyawan/ti, jelas hari-hariku sangat disibukkan dengan urusan kantor yang rasanya tidak pernah selesai, Rutinitas hidupku sebagai ayah 2 orang anak pun terasa sangat membosankan. meskipun kadang terselip kebahagiaan dibandingkan dengan pasangan lain yang sudah bertahun tahun berumah tangga namun belum dikaruniai anak..

Berawal dari kejenuhan itulah, aku mencoba mencari selingan-selingan indah namun keluarga tetap utuh. Dan orang sering menyebutnya SELINGKUH. Namun aku sangat hati-hati dalam hal ini, Memang anak buahku banyak wanita dan bisa saja dengan powerku sbg atasan mengajak mereka jalan, namun resikonya terlalu tinggi, karena aku yakin pekerjaanku akan terganggu.

Sedangkan untuk Jajan dengan PSK aku sama sekali tidak punya keberanian, aku takut PMS khususnya AIDS yang sampai sekarang belum ada obatnya, Memang kalau dipikir-pikir susah sekali nyari partner untuk selingkuh, Umumnya wanita merasa RUGI jika selingkuh doang tanpa mendapatkan apa-apa meskipun nalurinya juga INGIN merasakan torpedo lain yang bkn punya suami/pacarnya.

Jika aku pacaran lagi dengan gadis atau janda, jelas akan mempengaruhi rumah tanggaku.. Akhirnya iseng-iseng aku chatting. Sekali dua kali belum ada partner yang cocok, umumnya mereka gadis yang mengharapkan teman Pria bujangan, Aku sudah putus asa. rasanya sulit sekali mencari partner selingkuh, sampai pada suatu sore saat pikiran aku sedang pusing oleh pekerjaan aku chatting kembali dan memang rejeki ku sore itu.. Aku berkenalan dengan seorang wanita kantoran yang sudah nikah yang juga lagi suntuk, Awalnya pembicaraan berlangsung dgn sopan, selang beberapa menit seiring dgn keakraban yang terjalin, kami mulai bernai berbicara ke arah seks. Ternyata kami cocok, Perbedaan yang jauh antara aku dan Lina ( sebut saja namanya begitu ) malah membuat kami penasaran dan ingin menyatukan. Aku 30Thn dia 23 Thn, Aku punya anak 2, lina blm punya anak, Aku Chinese Kristen, Dia Jawa muslim, Aku putih, dia hitam manis katanya saat itu, Aku 173Cm/73Kg dia hanya 155Cm/46Kg... tapi ada satu yang sama yaitu sekedar selingan dan berjanji tetap menjaga keutuhan keluarga dan memegang teguh rahasia.

Akhirnya setelah tukar-tukaran nomor HP, kami sepakat ketemu selepas jam kantor, sebelumnya kami sudah tukaran foto dulu lewat email, memang sekilas Lina berwajah manis sekali.. Pertemuan pertama di restoran fast food didaerah Cibubur, Dan diluar dugaanku Lina ternyata lebih cantik dari fotonya, aku agak minder juga, habis mukaku pas-pasan sih, untunglah Lina tidak mempersalahkannya, Malah dia bilang dia penasaran pengen main sama Chinese, Aku bilang sama saja Lin, Aku juga sunat kok. Selepas menyantap hidangan, dalam ferozaku Lina semakin akrab dengan aku, akhirnya dengan persetujuannya aku arahkan mobilku kearah Hotel berbentuk bungalow bernuansa alam didaerah Cibubur juga.

Didalam kamar, karena ini pengalaman pertamaku dan pengalaman pertama juga untuk Lina (Katanya) kami sempat canggung dan bingung untuk beberapa saat, Kami hanya menonton TV saja, aku kumpulkan seluruh keberanianku, aku peluk dia yang sedang asyik nonton tv dari belakang, Harum rambutnya merasuk ke hidungku dan membuat gairahku bangkit, Lina hanya mendesah lirih saat aku cium tengkuknya..

Perlahan tapi pasti akhirnya gairah kami terpancing, kami sudah saling melumat bibir dengan nafsunya, Satu persatu pakaian kerja lina terhempas ke lantai,, kini dalam keadaan hanya dengan dalaman saja kami terus saling memberikan rangsangan, pengalamanku dengan istri dan mungkin juga pengalaman lina dengan suaminya membuat cumbuan kami semakin mantap..

Memang lina lebih hitam sedikit dariku, namun kulitnya halus sekali, Aku rebahkan tubuhnya di ranjang, kini dengan lidah dan kedua jariku aku manjakan tubuh lina dengan sentuhan dan jilatan di tempat-tempat yang membawa birahinya naik, centi demi centi kunikmati kehalusan kulit tubuhnya,, tidak ada tempat yang terlewat dari cumbuanku, mulai dari ujung kepala, kening, hidung,bibir,leher,perut paha bahkan jari-jarinya.. dan pada saat buah dadanya yang masih kencang aku jilat putingnnya lina mendesah semakin kencang.. .apalagi saat lidahku yang hangat menyelimuti klitorisnya yang semakin membengkak.. lina meremas rambutku menekan kepalaku adar lebih dalam ke vaginanya,, Kebetulan vagina lina wangi sekali, Aku semakin betah memainkan lidahku dalam vaginanya, Vagina lina sudah banjir dengan cairan kewanitaaannya bercampur dengan liurku, sementara tanganku pun tidak mau diam, jari-jariku asik memelintir halus kedua putingnya,, akhirnya lina tak tahan sendiri,, kedua pahanya yang gempal menjepit kepalaku keras,, lina orgasme sebelum bertempur.

Suasana hening sejenak.. Aku rebah disamping tubuhnya yang berkeringat.. "Kamu istirahat dulu deh, lin?" kataku Lina hanya tersenyum dan balas melumat bibirku, dan dengan sekali gerakan saja, tubuh lina seudah berada diatasku, kini lina balas mencumbuku, jari-jarinya yang halus mengusap-ngusap dadaku, kadang dgn nakalnya lina mencubit ujung dadaku, aku hanya mengerang nikmat. apalagi saat senjataku digenggam dan dikocok.. aku tak tahan. sambil mengocok senjataku lidah lina yang basah dan hangat menjilati dadaku,,, kadang ujung dadaku digigit dan hisap.. Bukan main rasa nikmat yang kuterima.. untunglah "siksaan" itu tidak berlangsung lama, saat pertahananku hampir jebol dengan lincahnya lina membimbing senjataku tepat didepan vaginanya.. Dan perlahan pantat lina yang montok turun seiring dengan masuknya senjataku dalam vaginanya. Sesaat lina diam.. mungkin menikmati saat saat pertama rongga kemaluannya dimasukki oleh senjata yang berbeda.. Akupun begitu.. Aku menarik nafas panjang menikmati liang vagina lina yang hangat dan sempit mencengkram senjataku..

Perlahan lina membuat gerakan indah, gerakan pinggulnya yang naik turun dan diseling dengan berputar membuat seluruh saraf di senjataku terasa semakin mengembang,, untunglah lina tidaklama,, hanya dalam tempo beberapa menit gerakannya semakin cepat dan sudah tak beraturan lagi.. Hawa penyejuk ruangan tak mapu lagi menghilangkan keringat yang menetes ditubuh kami, akhirnya aku merasakan kedutan halus di batang senjataku.. Gigi gigi lina menancap kuat didadaku, untunglah tidak sampai bedarah.. tapi aku sudah tidak sempat lagi mikir itu.. kenikmatan yang aku terima di senjataku serasa mau pecah.. Aliran darahku terasa mengalir sangat cepat.. tapi aku masih ingat sesuatu.

"Aku keluarin didalam ya.. Lin? Tanyaku Lina hanya mengangguk.. akhirnya berbarengan dengan anggukan lina, aku semprotkan lahar hangat ke dalam rahim lina, dan untungnya mengetahuiku aku orgasme lina masih menggoyangkan pinggulnya dengan sisa-sisa tenaganya..

Kami saling pandang dan diam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru kami raih.

Tapat jam 7 malam, kami check out dari hotel setelah berjanji akan bertemu lagi dilain waktu..

Namun sekarang setekah beberapa kali bermain dalam lautan kenikmatan, Lina terkesan mencoba menghindar dariku,, Setelah aku Tanya dengan jujur dia katakan bahwa dia takut hubungan ini berlanjut dengan perasaan dan membahayakan Keutuhan keluarga,, Karena sejak kenal aku dia berani mengalahkan kepentingan keluarga untuk berlayar dalam kenikmatan bersamaku.. Aku hanya terdiam, karena aku juga merasa sependapat dengannya, Pernah kami sampai lupa waktu.. Jam 9 malam baru check out.. Jelaslah orang rumah jadi kuatir meskipun sudah diberi kabar. tapi ada hal positif yang aku alami bersama lina, sejak aku tidak setia aku jadi merasa berdosa thdp anak istri, dan efeknya aku semakin sayang dgn anak istriku karena perasaan bersalah itu.

Lina. Bagaimanapun juga kita tidak boleh melupakan semua ini.. Aku tetap menunggu kamu meskipun semakin jarang,jarang.. dan jarang.. Dan untuk istriku dan suami Lina, maafkan kami, SUNGGUH kami sama sekali tidak ada maksud menyakiti kalian, kami hanya sekedar FUN.

Secret Diary II

Hampir seminggu lamanya setelah kejadian Minggu subuh di mobil itu. Selama berhari-hari aku berusaha utk tidak terlalu memikirkan kejadian itu. Berusaha utk tidak mempersalahkan diriku karna bersetubuh dengan anak dari teman Mama itu, tante Ve, lebih muda dr ku 4th lagi. Bisa aja sih aku cueq saja, toh banyak kejadian dengan kondisi spt itu, tp entah lah… ada perasaan aneh saja dalam diriku.

Minggu sore lalu Andi telpon, sikapnya jadi lebih perhatian pada ku. Aku senang dia perhatian, tp jg masih berperang dengan perasaan ku itu makanya aku tidak terlalu menanggapinya dengan serius. Aku pikir, kejadian subuh itu mungkin lebih pas di katakan sebagai “one night stand” saja, tidak ada keterikatan khusus di antara kami. Kalau pun Andi sering menghubungi ku lewat telpon atau pun sms, memberikan perhatian2 kecilnya pada ku, aku menganggap seperti “this is just a part of the game”.

Kamis malam di meja makan, ada berita mengejutkan. Mama menyampaikan bhw mereka mau ke Bandung bersama orang tua Andi hari Jumat besok, selama 3 hari. “Apa?? Dengan tante Ve dan oom Hadi? Untuk apa?”, “Kita mau liat tanah di Lembang. Kamu mau ikut?”, “Enggak. Tapi? Papa juga pergi?”, “Iya.”. Sebenarnya bisa saja aku ikut, tapi sepertinya kurang asyik karna itu kan acara orang2 tua, aku males, maka itu aku memilih utk tidak ikut serta. “Jadi besok kamu anter Papa-Mama ya ke Gambir ya?!” aku hanya mengangguk, mengiyakan.

Keesokan harinya, Jumat siang, ternyata Andi yang bagian mengantar Orang Tua-nya, sengaja mampir ke rumah ku dulu utk sekalian menjemput Orang Tua ku. “Ketemu Andi lagi.” pikir ku. Siang itu Andi mengenakan kaos merah darah, sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih. Pembawaannya spt biasa, santai dan berkesan sangat sopan di depan Orang Tua kami. “Val, kamu ikut aja deh… sebentar aja kan nganter kita.” kata tante Ve. Aku ragu2 utk ikut, tapi yang lainnya pun ikut mendesak, hanya Andi yang tidak bicara apa2 selain tersenyum saja sambil memandang ke arah ku. “Damn… why you’re so cute and sexy?” pikir ku saat melihatnya tersenyum ke arah ku. Akhirnya aku ikut juga, duduk di depan bersama Andi sedangkan para ibu2 duduk di kursi tengah, dan para bapak2 memilih duduk sambil ber“haha-hihi” di kursi belakang. Jadi ingat iklan mobil Kijang: “Ada Papa, ada Mama, ada Teteh, ada Oom, Tante…” oh no :(

Semoga saja para Orang Tua itu tidak ada yang memperhatikan tingkah kikuk dari Andi dan aku. Mau ngobrol serba salah, mau diem2an juga nggak mau, akhirnya tidak terlalu banyak bicara tapi saling memperhatikan satu sama lain saja. Saat sebelum memasuki KA, Mama sempat berpesan: “Val, itu ada satu berkas di meja kerja Papa yang tulisannya File 450, nanti tolong di kasih ke Andi ya, biar di bawa pulang sama dia.” aku mengangguk saja, “Alamat dia mampir.” pikir ku. Sebagai anak yang baik, kami menunggu hingga KA berangkat meninggalkan stasiun, melambaikan tangan pada para Orang Tua sambil kadang ingin menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka yang kadang seperti anak2 muda yang sedang “hang-out” sama teman2nya. Ketika KA makin menjauh, dan saatnya harus pulang, tiba2 Andi bertanya pada ku: “Kenapa kamu diem aja?”, “Trus aku harus gimana?” lalu aku jalan dan menuruni tangga utk keluar ke parkiran. Andi mengikuti saja tanpa bicara apa2. Hanya saja pada saat kami harus menyeberang, Andi menggandeng ku dan aku tidak menolaknya… hehehe.

Sesampainya di rumah, aku langsug menuju ruang kerja Papa utk mencari berkas yang harus kutitipkan padanya itu. Mungkin ada 15 menitan aku mencarinya dan tidak ketemu karna banyak berkas bertumpuk di situ. “Val? Ketemu nggak?”, “Belum! Banyak banget sih.” teriak ku dari dalam ruangan. “Mau di bantuin nggak?”, “Boleh.” kata ku sambil terus memilah-milah tumpukan file tsb. Pas saat Andi masuk ke dalam ruangan, pas saat itu juga berkas tersebut ku temukan. “Naaah… ni dia.” teriak ku sambil tersenyum puas. Ku bereskan letak file yang sedikit tidak beraturan itu sebentar kemudian bergegas memberikan padanya yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerja. Andi menerima berkas itu sambil tersenyum, menaruhnya di meja dekatnya berdiri dan kemudian tanpa basa-basi menggapai pinggangku serta menarik ku dalam dekapannya. “Ndi!!” aku sedikit menjerit krn kaget. Aku menahan tubuhnya saat dia mau mencium ku, “Knapa sih? Nggak boleh?” tanyanya tp aku hanya diam saja sampai akhirnya dia melepas dekapannya. Aku bergegas hendak keluar ruangan tapi dia menarik tangan ku, menempatkan ku utk tetap berada di hadapannya. “Ndiii…”, “Apa? Ini salah?”, “Iya!”, “Nggak ada yang salah mnrt ku. Aku suka kamu, Val. Nggak perduli sama umur kamu.”, “Tapi aku…”, “Val…” sambil makin menghimpit ku ke arah tembok “…kalo kamu takut ini berkelanjutan terus, anggap aja hubungan ini hanya intermezzo. Aku nggak mau ngomong banyak gimana aku ke kamu. Kamu liat aja sendiri sikap ku.” katanya sambil menatap ku lekat2. Tubuh ku sudah makin terhimpit antara tubuhnya dan tembok. “Belajar di mana dia sampai bisa bicara seperti itu?” pikir ku, krn aku tidak bisa membalikkan kata2nya tersebut, aku hanya terdiam. Perlahan dia mencium bibir ku, kemudian mencium leher ku dan akhirnya aku terbawa oleh kenikmatan sentuhan2nya.

Terus terang, sulit menolak permainan ini krn sebenarnya aku pun menginginkannya. Pintu ruangan segera ku tutup dan kunci, khawatir pembantu di rumah membukanya atau lewat sewaktu-waktu saat kami sedang bercumbu. Andi makin menghimpit tubuhku, nafasnya memburu sambil terus mencium bibir ku dan mempermainkan lidahnya. Tangannya menggerayangi tubuhku, meremas payudaraku hingga aku menggerang keenakan. Penisnya di gesek dan ditekan2 ke arah vagina ku, membuat ku makin bernafsu. Ku remas pantatnya keras2, kemudian kubuka celana jeans-nya tanpa meminta ijin, untuk apa meminta ijin krn Andi pun membantu ku membuka celananya sendiri… hehe. Penisnya sudah menegang saat kupegang, kuremas-remas perlahan dan dia mendesah keenakan. Kemeja ku sudah terbuka sehingga payudara ku membumbul dibalik balutan bra, Andi menciumi leher ku dan makin lama makin ke bawah. Membuka kop bra tanpa melepaskan talinya dan menciumi, menjilati dan meremas2 payudara ku dengan ganasnya. Sejenak dia menjauh, membuka kaosnya sehingga aku bisa lebih jelas melihat otot2 lengannya yang dibalut kulit putih itu. “Vally…” bisiknya sambil menciumi leher dan meremas payudara ku. Perlahan dia membuka kancing celana panjang ku, melucutinya semua hingga celana dalam ku pun terhempas ke lantai. Vagina ku memang sudah terasa basah sejak tadi, dengan jarinya Andi mengusap-usap bibir vagina ku, menekan klitoris ku perlahan dan seakan ingin meremas vagina ku. Rasanya sangat nikmat hingga aku mendesah dan makin membuka paha ku lebih lebar lagi hingga kaki kiri ku naik ke pinggangnya. Andi menciumi ku dengan ganas, memeluk ku dan mengusap vagina ku dari belakang. Rasanya semakin nikmat saat jarinya masuk ke lubang vagina ku, keluar masuk perlahan dan kadang membuat gerakan memutar. Aku menggerang keenakan, menggeliat kegelian, dan meremas rambutnya karna gemas.

Saat kenikmatan itu berlangsung, tiba2 Andi menarik jarinya dan mengangkat ku dalam pelukannya. Aku digendong dan dihempaskan di sofa yang berada di ruangan itu. Senyumnya terlihat sangat nakal saat berhasil menggiring ku ke sana, menciumi ku sebegitu gemasnya dalam keadaan dia berpangku lutut di lantai, tubuhnya pas di tengah kedua paha ku yang terbuka, menciumi bibir ku dan menggigit-gigit kecil payudara ku. Kaki ku dibuka lebih lebar kemudian dia mulai mengjilati vagina ku, menghisap2 bibir vagina dan klitoris ku secara bergantian. Bukan main geli dan nikmat rasanya hingga aku tak tahan bila hanya berdiam diri saja. Tak hentinya aku mendesah, sedikit lebih keras saat jari Andi mulai lagi di keluar-masukkan di lubang vagina ku. Mendadak aku mulai melenguh seperti sapi mungkin, saat Andi makin lama makin mempercepat gerakan jarinya di lubang vagina ku sambil menghisap klitoris ku. Aku benar2 dibuatnya melayang. Tiba2 dia mendongak, mendekatkan dirinya pada ku dan mencium bibir ku dengan hangat, “Masukin ya Val...” tanya nya dan aku hanya mengangguk tanpa sanggup untuk menjawab. Andi menggenggam penisnya kemudian menggesek-gesekannya di bibir vagina ku kemudian memasukkannya perlahan-lahan kemudian tiba2 mendorong semuanya hingga masuk semua. Hentakan itu membuatku sedikit menjerit, rasa gelinya terasa hingga ke perut ku. Andi tersenyum simpul sesaat, damn... raut mukanya nakal sekali hingga aku benar2 gemas. Ku gapai lehernya dan menariknya untuk mendekat, ku cium bibirnya penuh nafsu sambil kadang menghisap lidahnya yang bermain nakal di mulut ku. Andi mulai bergerak maju mundur sambil kami berciuman, gerakannya makin lama makin cepat, desahannya jg makin terdengar mengikuti irama penisnya yang keluar masuk di vagina ku. Andi hampir menggigit bibir ku karna gemas, tak hentinya dia melumat bibir ku dan kadang menjilati telinga ku. “Ooohh... Ndiiii...” aku menggerang kenikmatan sambil meremas rambutnya. Gerakan Andi makin cepat, kadang berhenti sebentar hanya untuk menekannya lebih dalam lagi, “Ndi... aku mau keluar!” bisikku sambil terengah-engah, “Ayo Val... aku jg udah mau keluar...”, kemudian dia mengangkat kaki ku supaya lebih lebar lagi, dengan setengah menegakkan tubuhnya dan menggenggam pinggul ku dia kembali beraksi. Pantatnya bergerak cepat maju dan mundur, penisnya keluar masuk tanpa henti di vagina ku, seiring makin cepatnya gerakan itu Andi pun menciumi payudaraku yang membumbul keluar dari balik bra yang belum terlepas. “Aaaawgh... aaaa... Ndiiii... aaaahh... Ndi aku mau keluar!!!” dan saat itu tubuh ku menegang karna aku klimaks, yang tak lama kemudian di susul oleh Andi. Penisnya di dorong makin dalam saat dia hendak mencapai klimaks, tubuh ku diremas hingga aku sempat beberapa saat terasa sesak. Aku bisa rasakan hangatnya cairan sperma yang keluar, menikmatinya dalam keadaan terkulai lemas, sedangkan Andi pun terkulai lemas di atas tubuh ku.

5 menit kami tidak saling berucap, hanya mengatur nafas masing2 hingga tiba2 Andi tersentak kaget: “Val... aku keluarin di dalam!!”, “Kamu sih... nggak nanya2 dulu. Nah lhoo...”, “Kamu jg nggak ingetin aku sih. Yaaah... gimana Val?”, “Naaah lho, nah lho..”, “Duh Val, aku serius nih!”, “Hehe... udah nggak pa’pa... 3 hari lagi aku datang bulan koq.”, “Lho emang nggak pa’pa??”, “Dasar! Belajar itu dulu dong baru berbuat. Kamu nih...” dan kami tertawa cekikikan.

Walaupun “aksi” itu terjadi di ruang kerja tp kami sama sekali tidak membuatnya berantakan, jadi tidak memakan waktu lama dari saat kejadian itu selesai hingga saat kami selesai membenahi diri masing. Tubuh kami penuh dengan peluh karna itu aku mengajak Andi diam2 naik ke kamar ku supaya dia bisa mandi di kamar mandi ruang tidur ku. Raut muka Andi berubah saat masuk ke kamar tidur ku, dengan sedikit mengernyitkan dahi dia berkomentar: “Hmp... hampir semua di sini warna Peach.”, “So what?”, “Nothing. It’s just so feminin.”. “You don’t like it?”. “I don’t mind.” Katanya sambil tersenyum dan memelukku dr belakang: “Temenin aku mandi ya, Val... ” rayunya sambil mencium telinga ku. Uuuuh... nakal sekali orang ini, pikir ku, tp aku suka... hehe. 2 malam orang tua kami akan berada di luar kota, entah apa yang akan terjadi dengan kami berdua selama 3 hari 2 malam ini.

Secret Diary

Tepatnya 4 bulan yg lalu, awal aku bertemu dengan Andi, anak dari tante Ve, teman Mama. Waktu itu aku baru pulang dari meeting dng salah seorang buyer dari Swedia. Ketika baru datang, Mama langsung memanggil ku utk berkenalan dengan tante Ve dan anaknya, Andi. Rupanya tante Ve ini teman Mama di Yayasan. Sopan santunnya, aku ikut duduk ngobrol dengan mereka.

Jujur aja, penampilan Andi memang jd bahan perhatian ku beberapa saat. Tidak perlu di tanya lg krn aku yakin sekali umurnya pasti lebih muda dari ku, sekitar 25th’an lah, sedangkan aku sudah 28th. Tubuhnya tinggi, mungkin sekitar 178cm lah, putih, dan PASTI dia suka olah raga krn tubuhnya atletis dan terlihat sangat terawat. Lumayan lah… habis pulang meeting dan “meres” otak trus liat barang bening begini kan seneng juga… bikin otak segar.

3 hari setelah itu, Mama minta tolong aku ke rumah tante Ve utk antarkan sebuah berkas. Kebetulan aku jg harus keluar, ada urusan, jadi sekalian lah aku antarkan berkas itu dulu ke rumah tante Ve di bilangan Kemang. Rumah tante Ve etnis sekali, tidak terlalu besar tapi landscape-nya dibuat sedemikian rupa hingga terlihat luas. Bangunannya dibuat dng bata expose tanpa dikapurin lagi sedangkan interiornya mayoritas menggunakan bahan kayu. Perfect, just like a house I dream on. Cukup sekali aku mengebel pintu rumahnya kemudian seseorang membukakan pintu. Andi tiba2 sudah berdiri di hadapan ku sambil tersenyum. “Hey. Pasti mau cari Nyokap deh.” katanya. “Iya. Ada?” tanya ku sambil membalas senyumnya, “Lagi keluar. Masuk dulu deh, Val.” pintanya dan aku mengikutinya untuk sekedar berbincang sebentar. Sekali lagi dia menarik perhatian ku, siang itu dia pakai celana basket dan baju buntung warna putih. Makin bening aja, pikir ku. Dari obrolan singkat kami, aku akhirnya tau umurnya 24th., anak pertama dari 3 bersaudara, kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta dan sedang menyusun tugas akhirnya di bidang Hukum. Dari cara bicaranya, Andi keliatan punya pendirian kuat walaupun pembawaannya santai dan justru kehangatannya itulah yg membuatnya menarik. Hanya sekitar ½ jam aku bertamu di rumahnya krn kemudian aku harus pergi mengurus urusan ku lainnya… so goodbye Andi… nice talking with you, pikir ku sambil melajukan kendaraan ku menjauh dari rumahnya.

Entah ada proyek apa antara tante Ve dan Mama, mereka sering terlihat bersama, saling mengunjungi sambil membicarakan segala hal sehubungan dengan pekerjaan. Dengan seringnya pertemuan para ibu2 itu, aku pun jadi sering bertemu dengan Andi yg juga sering mengantar Mama-nya ke sana-sini. Makin seringnya kami bertemu dan ngobrol, sedikit banyaknya membuat kami bisa lebih akrab satu sama lain, tentunya dalam batasan2 yg wajar. Hingga pada suatu malam di akhir pekan, tepatnya malam Minggu, aku dijemput Gerry (cowok yg sedang dekat dengan aku) utk pergi bersama ke salah satu cafĂ© & pup di bilangan Taman Ria Senayan, kebetulan malam itu salah seorang teman kami ada yg berulangtahun dan merayakannya di sana. Jam 9 malam kami sampai dan langsung bergabung dgn yg lainnya. Makin larut, suasana pub makin gemerlap tentunya. Lagu2 yg dipasang juga makin bernuansa deep house. Saat itu sudah hampir tengah malam, suasana hatiku sudah mulai tidak menyenangkan karna Gerry, yg ceritanya teman kencan ku, terlihat asyik menggoda dan berusaha mendekati salah seorang teman wanita ku. Belum lagi kepalaku sudah sedikit pusing karna minuman alkhohol. Benar-benar malam yg tidak mengasyikkan, pikir ku. Saat teman2 sedang heboh bercanda dan bergoyang, aku membalikkan tubuh ku ke meja bar untuk memesan satu minuman lagi tapi seketika itu… di ujung meja bar ada seseorang yg sedang menatap lekat2 ke arah ku sambil memangku tangannya ke meja bar. Tidak mungkin aku tidak mengenalnya, lampu2 di sekitar bar pun terang benderang hingga mampu mengenali siapa pun yg berada dekat situ. Dia tersenyum simpul saat aku melihatnya dan tanpa memberi kode apa2, dia berjalan mendekat ke arah ku. “Sama siapa ke sini?”, “Samaaaa… tuh!” jawabku sambil menunjuk ke arah Gerry yg sedang berbincang akrab dgn perempuan lain. “Cowok kamu?”, “Bukan. Temen.”, Andi tersenyum mendengar jawaban ku yg terdengar seadanya. Thank God ada Andi yg tidak sengaja ku temui di sana, dia bersama teman2nya jg rupanya, tp sekitar pukul ½ 1 teman2nya pergi utk pindah lokasi sedangkan dia memilih utk tinggal sambil menemani ku.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi saat ku bilang pada salah seorang teman yg duduk di samping ku: “Loe mau pulang jam berapa sih?”… belum sempat teman ku menjawab Andi sudah menimpali: “Mau pulang? Ayo. Aku anterin kamu.”. Hanya butuh berpikir selama beberapa detik sampai akhirnya aku menyetujuinya. Tapi saat aku sudah bergegas utk meninggalkan tempat tiba2 Gerry menarik tangan ku: “Mau kemana kamu, Val??” tanyanya sambil menatap Andi juga, “Mau pulang. Knapa?”, “Kamu kan pergi sama aku.”, “Oiya aku lupa. Tp bukan berarti aku harus pulang sama kamu kan?!” jawab ku sambil melepas genggaman tangannya dan pergi, Andi mengikuti ku dr belakang.

Perjalanan ke rumah ku sebenarnya bisa ditempuh 30 menit saja dari Taman Ria Senayan, tp malam itu Andi menjalankan mobilnya dgn santai. Kami tidak terlalu banyak bicara, entah lah, sibuk dgn pikiran masing2 kayaknya. Kalo aku berpikir, Andi mengapa begitu menarik dengan segala macam gaya dan perlakuannya kepada ku, tapi ya ampun… umurnya di bawah ku 4th. Dia bertanya soal Gerry, seakan ingin menegaskan siapa Gerry itu untuk ku. Aku bilang padanya bahwa kami hanya sekedar teman, tidak lebih, memang dia seakan sedang mendekatkan diri, tp aku tidak menanggapinya dgn serius. “Trus kenapa kamu keliatan bete tadi pas dia deketin cewek lain?” tanyanya sembari bercanda. “Liat laki2 macem itu selalu bikin aku bete koq, nggak tau aturan aja.” jawabku yg disertai dng tawa kecilnya.

Sampai lah di depan rumah ku. Andi memarkir mobilnya seperti biasa, masuk ke wilayah garasi rumah ku yg terbuka dan di batasi oleh tanaman2 yg tinggi. “Kamu bawa kunci rumah?”, “Bawa.” jawabku sambil membongkar tas, dan aku terkejut saat kulihat tangan Andi menggapai tas ku seakan ingin menghalangi. Aku menatapnya perlahan, seakan sedang meraba-raba apa yg akan dia kerjakan selanjutnya. Dia mendekatkan diri, aku membuang muka ke kiri, menolak dia mencium bibirku, tp ternyata dia malah mencium leher ku hingga tubuh ku merinding dan gelinya sampai ke perut ku. “Ndi… ?!” desahku, terus terang, hanya dengan begitu aku sudah horny dibuatnya, tp ampun… masak sama Andi?? Tas ku diraihnya dan di taruh di bawah kursi seraya dia tetap menciumi leher ku. Tangan ku meraba kepalanya, mengelus rambutnya yg sedikit ikal. Aku sudah makin masa bodo dgn perbedaan umur kami, habis… apa yg Andi buat benar2 sexy. Aku juga tidak perduli dng permainan di mobil ini krn garasi ku cukup terpisah dng jalan besar dan tanaman2 hijau di sekitarnya cukup membuat lokasi pergumulan ini jadi aman dari intipan orang sedangkan orang rumah pun pasti sudah terlelap pada jam itu.

Andi menciumi leher ku, belakang telinga ku, kemudian dgn sangat hangat dia mencium bibir ku. Tangan kanannya sambil memegangi leher ku sedangkan tangan kiriku memegang tangannya yg kokoh. Lidahnya menyapu bibir ku perlahan-lahan sambil kadang memandang ku sesaat dan tersenyum. Gosh, he is so romantic and sexy. Tiba2 dia melumat bibir ku dan meremas payudara ku sambil mendekap pinggang ku lebih erat ke arahnya. “Uuugh… sssh Val, pindah belakang yuk…” ajaknya dan stlh itu kami pindah ke backseat mobil Bleazer-nya, mengatur posisi dan kursi depan sebentar kemudian melanjutkan pergumulan kami kembali.

Aku mengambil posisi dipangkuan Andi, saat itu aku sudah benar2 horny dan yg ada di otak ku hanya “fuck”, “fuck” and “fuck” with this sexy guy. Aku melumat bibirnya sesuka ku sambil mengoyangkan pinggul ku supaya merasakan gesekan2 penisnya di vagina ku, sedangkan Andi sambil membuka kancing kemeja ku, dng sekejab payudara ku sudah membumbul keluar dng bra yg sudah tidak terikat lagi. Andi meremas payudara ku dengan tangan kanannya sambil menghisap dan menggigit2 kecil daging2 yg ada di sekeliling putting susu ku. Rok ku sudah terangkat setinggi pangkal paha ku, sehingga Andi pun dng mudah meraba pantat ku dan memasukkan tangannya ke dalam celana dalam ku. Aku masih sambil menggoyangkan pinggul ku sampai akhirnya terhenti saat aku rasakan jari2 tangannya sudah meraba bibir vagina ku dari arah belakang. Itu membuat ku makin terangsang, apalagi saat jarinya mengelus perlahan bibir vagina ku, mencelupkan jarinya sedikit, hingga aku makin basah saja. Penis Andi sudah terasa sangat menegang dan keras. Aku beranjak hendak duduk di sebelahnya dan ingin menghisap penisnya tapi Andi menahan paha ku: “Nggak usah Val, langsung masukin aja ya?!” aku hanya mengangguk dan berdiri sedikit krn Andi mau membuka celananya. Belum tuntas dia melucuti celananya sampai ke kaki, aku sudah kembali menggesek2an vagina ku ke penisnya yg sudah sangat menegang. Andi kemudian kembali melumat bibir ku sambil meremas pantat ku. Jari tangan kanannya kembali membuat gerakan memutar di seputar vagina ku, “Udah basah banget kamu.” katanya sambil sesekali mencelup2kan jarinya ke lubang vagina ku. Dan akhirnya terjadilah… Andi memegang penisnya yg langsung di tujukan ke liang vagina ku. Saat kepala penisnya menyentuh bibir vagina ku saja, aku sudah menggeliat, perlahan Andi memasukkannya lebih dalam, “Oooooogghhh… Ndiiii…” desah ku keenakan, “Uuuuugh… enak Val?” tanyanya sambil memandang ku dng katup mata setengah tertutup, “He eh… uuuuugh…” . Perlahan penisnya keluar masuk di vagina ku, setelah puas menggerakan pinggulnya tiba lah giliran ku nenikmati persetubuhan itu dgn cara ku.

Sambil menciuminya aku menggerakkan pinggul ku naik turun dan sesekali ku tekan hingga seluruh bagian penisnya masuk dan kemudian ku buat gerakan memutar. Andi menggerang keenakan sambil menengadahkan kepalanya. Kedua tangannya ikut membimbing pinggul ku utk bergerak, kadang dia remas karna gemas dan keenakan. Desahan Andi membuat ku makin menikmatinya. Kemudian tangan Andi meraba pantat ku makin ke belakang, mencari lubang dubur ku yg terhimpit di tengah belahan pantat ku. Aku membantunya dng membuka belahan itu dng kedua tangan ku sembari masih tetap bergoyang di atas pangkuannya serta menciuminya sesekali. Andi meraba lubang pantat ku dng jari tengahnya, membuat gerakan memutar di atasnya dan sesekali dia tekan. Dia basahi dng ludahnya yg sengaja dia lepehkan di jari tangannya, uuugh… rasanya nikmat sekali hingga akhirnya dia makin menekannya dan akhirnya jari tangannya masuk ke dalam lubang pantat ku. “Ooooogghhh… Ndiii..” desah ku ke enakan, menikmati jari tangannya yg keluar masuk di lubang pantat ku dan penisnya di vagina ku. Andi semakin menggila, dng lengannya yg kokoh dia menjepit tubuhku hingga aku sulit bergerak lagi dan tangan kanannya merambah payudaraku serta meremas sambil menciumi dan menjilatinya dengan ganas. Aku memang di atas pangkuannya tp kali ini Andi yg sedang memainkan peranannya. Pantatnya bergoyang maju mundur sembari menjepit tubuhku. Penisnya keluar masuk di vagina ku, dorongannya makin lama makin kuat dan kencang. Jari tangannya jg bergerak makin kencang dan makin ke dalam lubang pantat ku. Kami berdua sama2 menggerang keenakan. Sesekali dia mengeluarkan kata2 jorok, tp aku suka… “Uuuuugh… Vally… memek kamu enak. Kamu aku entotin Sayaaang… Ahh”. Erangannya makin terdengar jelas, aku pun demikian hingga akhirnya yg kurasakan aku mau klimaks. “Ndiii… uugh… aku mau keluar.”, “Keluarin aja Sayang, aku juga nih.” Andi mendekap ku makin kencang, aku menekan penisnya lebih dalam lagi di vagina ku sedangkan Andi mendorong penisnya agar masuk semua tanpa tersisa, pantatnya berputar-putar… ooogh rasasnya nikmat sekali… jarinya juga berputar-putar dan keluar masuk di lubang anus ku. “Ndii… aagh… mau keluar… aaaaaghh… aaaaaaagh…” hingga akhirnya kami sama2 mencapai klimaks. Rambutnya ku remas sedangkan dia meremas pantat ku kencang sekali. “Aaaaaaaaaaarrgghhhh…..!!!”

Tubuh kami melemas, peluh membasahi seluruh tubuh. Sesaat dia tersadar: “Nggak pa’pa aku keluarin di dalem?”, aku tertawa kecil: “Nggak pa’pa. Beberapa hari lagi aku mens koq.” dan dia pun tersenyum. “Kayaknya kontol ku berdiri lagi deh.”, “Andiiii!!!!” teriak ku sambil memukulinya, dia tertawa puas krn berhasil menggoda ku. Setelah beberapa menit istirahat dan mengumpulkan tenaga, akhirnya kami membersihkan diri seadanya, mengenakan kembali pakaian kami dan kembali duduk di tempat semula.

Malam itu akhirnya aku baru masuk ke rumah sekitar pukul 3:30 pagi. Membersihkan diri sebentar di kamar mandi dan terbaring lemas di tempat tidur ku. “Apa yg baru ku lakukan?” pikir ku. Aku bersetubuh dng Andi, anaknya tante Ve, yg umurnya 4th lebih muda dari ku. Tapi ampun, sungguh sulit utk menolak sosok sesexy Andi. Tubuhnya hampir sempurna, lekukan ototnya begitu sexy, dan bahasa tubuhnya selama dia menikmati permainan itu pun sungguh menggairahkan. Entah apa yg akan terjadi selanjutnya. Kemudian aku menutup mataku dan terlelap. Sungguh, itu adalah hari yg cukup mengejutkan.

Sasongko: Nikmatnya Perawan

Nama Sasongko sudah tak asing lagi ditelinga penduduk kota Semarang.namanya menjadi terkenal bukan karena kemampuannya menjalankan perusahaan garmen terkenal warisan mertuanya. Namun justru karena hobbynya yang suka berselingkuh dan berhubungan sex dengan kaum hawa.

Beberapa waktu yang lalu Koran lokal setempat pernah menulis namanya dengan huruf yang besar di halaman depan.”LAGI:RAJA GARMEN SELINGKUHI KARYAWATINYA”. itulah salah satu judul headline Koran setempat.masih ada banyak judul lagi yang bisa disimak namun toh isinya sama saja pasti menceritakan tentang sexsualitas Sasongko.

Sasongko memang sangat menyenangi tubuh wanita.ia selalu ingin melakukan hubungan sex dengan perempuan cantik baik itu pelacur,ABG,Ibu penjual Sayur,PRT,bahkan dengan karyawatinya sendiri.pokoknya asal wanita tersebut sesuai dengan tipenya ia akan melakukan apa saja untuk dapat berhubungan sex dengan wanita tersebut.

Mulai dari cara yang halus, sampai tahap pemaksaan .KRD pelacur sexy dari simpang lima itu contohnya.pantatnya yang bahenol mampu membuat nafsu birahi Sasongko menggelora.berkat perantaraan.sebut saja MR G (mucikari) pada suatu malam Sasongko bisa menikmati tubuh pelacur itu di sebuah hotel bintang lima.memang Sasongko harus merelakan uangnya amblas sebesar 300.000,-namun baginya it’s not a problem.

Sasongko adalah seorang yang royal untuk urusan “beginian”.tidak masalah baginya kehilangan sejumlah uang.asalkan bisa menikmati nikmatnya ranjang peraduan bersama wanita pilihannya. otak Sasongko juga bisa dibilang encer.ia tak mau memelihara istri muda.menurutnya akan menghabiskan banyak uang dan merepotkan.ia menyadari bahwa suatu ketika ia akan bosan jika hanya melakukan hubungan sex dengan satu dua orang wanita yang sama. Maka itu ia lebih memilih gaya hidup mirip Don Juan.mencari wanita berbeda-beda demi kepuasan sexual semata.

Istri Sasongko Yurike sekalipun sudah memasuki usia menopouse masih terlihat sangat menawan dan sexy.kulitnya kencang,dan dadanya masih terlihat montok.menantang setiap kaum adam yang berpapasan dengannya. banyak orang tak habis pikir mengapa Sasongko masih suka njajan diluar padahal di rumah sudah ada yang montok dan aduhai.

Dan jawabannya mudah b-o-s-a-n. ya Sasongko yang menikahi Yurike 30 tahun silam merasa bosan melihat tubuh istrinya itu.Yurike juga tahu Yurike bukan lagi Yurike ABG yang dulu memikat hati Sasongko.sekarang ia memang sudah menjadi tante-tante (tante yang sexy maksud saya)wajar kalau Sasongko berpaling ke wanita lain.

Yurike sebenarnya sudah melakukan segalanya untuk merebut kembali suaminya mulai dari membenahi dirinya baik dengan mengikuti senam sex,diet,gurah vagina,sampai operasi plastik juga menyewa tukang pukul tujuannya apalagi kalau bukan untuk menyakiti wanita yang pernah ditiduri Sasongko.ia berharap suatu ketika Sasongko mau menyadari kesalahannya dan kembali kepelukannya

Namun tampaknya usaha Yurike itu tak membuahkan hasil apapun .Sasongko bahkan sekarang malah jarang pulang.lalu kenapa Sasongko tidak menceraikan istrinya saja toh dengan uangnya banyak wanita nakal yang bersedia menikahinya. Karena sebenarnya semua kekayaan Sasongko berasal dari bapaknya Yurike mertuanya. Dengan menceraikan Yurike ia sama saja dengan bunuh diri dan kembaali menjadi miskin lagi.lagipula toh sekarang Sasongko sudah punya dua orang putri dari hasil pergulatannya 30 tahun silam bersama Yurike.

Kembali ke Sasongko.saat sendirian di kantornya sang don juan melamun membayangkan saat ia bercinta dengan Agnes sekretarisnya semalam….. Malam itu mereka, Sasongko dan Agnes harus menyelesaikan market pengiriman pesanan kaihuddin (salah seorang klien perusahaan mereka) di ruangan Sasongko.kenapa harus malam bukan siang hari itu dikarenakan Sasongko sedang ingin berhajat.Agnes yang sudah lima tahun bekerja di perusahaan Sasongko dan semua karyawati di perusahaan itu sudah barang tentu mengetahui maksud ajakan bossnya lembur malam seperti saat ini.maka malam itu Agnes sengaja memakai rok yang paling sexy dan tidak menggenakan CD sama sekali.karena ia tahu malam ini adalah gilirannya untuk menghangatkan kelamin bossnya.ia berjanji malam ini ia harus bisa membuat Sasongko kecanduan permainan sexnya Agnes tidak merasa keberatan melakukan hubungan badan dengan bossnya. bila diminta karena toh ia tahu setelah melayani bossnya tentulah gajinya akan naik ditambah. lagi tentu saja perhatian sang boss.ia tahu untuk menjadi sekretaris bukan Cuma otak yang harus digunakan ada kalanya kelamin dan badan lebih memiliki andil besar dalam sukses sang sekretaris kelak.

Agnes yang semenjak SD terkenal pemalu ini dapat dikatakan “terlambat datang bulan” maksudnya terlambat meraih kesempatan bisa esex-esex dengan bossnya) bayangkan saja Ina sang kakak yang baru bekerja 2 tahun yang lampau sebagai sekretaris saja sudah menjadi simpanan sang boss.dari segi fisik toh sebenarnya tidak terlalu tidak terlalu beda dengan Agnes. Hanya saja si Agnes itu tipe cewek timur (yang sangat menghormati keperawanannya) sementara si Ina tipe “lonte”(sebutan untuk pelacur)

Alkisah market itu dapat diselesaikan dalam waktu beberapa jam saja setelah itu…… Sasongko mulai mematikan semua peralatan electronic kantornya sementara itu Agnes juga membereskan beberapa file yang berceceran di meja.setelah itu ia menutup semua gordin ruangan sasongko.

“pak sekarang nih “maennya”?” “hah,Agnes kamu sudah tahu mau bapak ,ya sudah cepet sana lepasin pakaianmu” “ semua karyawati juga tahu pak, oke deh pak. tapi bapak harus janji dulu” “janji apa?” “bapak harus pake condom karena saya nggak mau hamil,dan kedua bapak harus naikkin gaji saya,gimana pak?,berani nggak?” “soal condom beres, tapi kalau naikkin gaji kamu sorry-sorry aja ya. asal kamu tahu gaji kamu itu lebih besar dari semua pegawai disini.” “ya bapak saya kan mau beli mobil baru pak” “dasar wanita jalang kalau mau mobil minta donk sama suami kamu jangan sama saya,cepet buka baju kamu,”burungku” sudah nggak tahan nih.” Maka akhirnya Agnes mulai melepasi bajunya satu persatu.mulai dari atasannya ,roknya,dan juga branya. Maka terlihat oleh mata Sasongko gumpalan daging kembar yang menggemaskan, mrs “V”nya yang mungil dan “berambut gondrong”.

Burung Sasongko segera berdiri segera saja disambarnya tubuh Agnes diremasnya kedua payudaranya.dikulumnya mulut manis sang bidadari.ciuman Sasongko yang membabi buta,remasannya yang mengetarkan bulu kuduk membuat Agnes terangsang dibalasnya ciuman Sasongko tangannya mulai meraba-raba burung Sasongko yang sudah menggeras.

“akh kocok…..kocok burungku nes cepetan………”pinta Sasongko.Agnes segera mematuhinya ditariknya kulit kemaluan Sasongko maju mundur searah perlahan-lahan kemudian semakin cepat.Sasongko menciumi kedua payudara Agnes.memainkan putingnya yang coklat kehitam-hitaman itu dengan lidahnya.Agnes merasa kegelian tubuhnya menggeliat kesana kemari bagai cacing kepanasan.

(akh….gah….jang…an ….akh.owh………….hah …….geli….kya… akh….gah….jang…an ahk…..haha…hah).teriakan merangsang keluar dari mulut Agnes.menahan gelinya permainan lidah Sasongko.adegan selanjutnya terjadi di sofa… Agnes berbaring di sofa sementara Sasongko berusaha memasukkan burungnya yang hitam,panjang dan kekar ke vagina gadis sexy itu.hujaman burung Sasongko ternyata membuat Agnes kesakitan.kembali Agnes berteriak-teriak.

(akh…..haaaaa…hah…..hah….kya………….ouwwww…….paaak sakit akh ………tahan seb…entar ak…akh…hen….ah……pak…..)tanpa mempedulikan rintihan.Agnes Sasongko terus berusaha memasukan burungnya.sekalipun ia terus berusaha namun ia belum berhasil juga .

Sasongko akhirnya berhenti melakukan usahanya itu.ia tak tega melihat Agnes Wilanda Suprapto .mantan cover girl salah satu majalah ibukota yang kini menjadi salah satu karyawatinya itu kesakitan menahan hujaman burungnya yang tak pernah mengenal belas kasihan terhadap kaum hawa tersebut.

Iapun membiarkan Agnes berbaring sebentar

“Agnes,vagina kamu kok keset banget sih kayak perawan.sukar ditembus.” “hah….emang saya masih perawan bossss….” “dasar wanita murahan, pembohong mana mungkin kamu kan sudah kawin sama prof.Indra” “eh,boss dibilangin kagak percaye suami aku itu kena impotensi tau nggak..” “jad…jadi kamu belum pernah nglakuin beginian sebelumnya”kata Sasongko terbata-bata wajahnya mulai pucat pasi.gila ia baru saja akan memerawani sekertarisnya kalau pers sampai tahu bisa habis deh nasibnya “belum makanya aku jual keperawananku sama boss.” “maksud kamu ????” “gini boss suamiku kan impotensi jadi nggak ada harapan donk suatu saat nanti ia bakal memerawaniku .sementara itu toh aku butuh uang untuk beli mobil jadi ……kalau boss setuju….” “oke deh aku beli keperawanan kamu bayarnya nanti yang penting aku bisa happy-happy dengan perawan”ujar Sasongko sembari mulai menjilati bulu-bulu halus yang tumbuh lebat di vagina Agnes.Agnes mulai merintih lagi menahan rangsangan pada vaginanya.

“hei,pelacur beri aku posisi 69”Agnes segera membalik posisi tubuhnya sedemikian rupa hingga ia bisa menggulum burung Sasongko dengan leluasa .sementara itu lidah sasongko menari-nari dengan liarnya di dalam vagina Agnes.

Agnes mengulum burung Sasongko dengan sangat professional ia memutar burung itu pelahan-lahan searah jarum jam di dalam mulutnya menyedotnya menjilati kedua bola Sasongkong juga mengigit lembut kepalanya sesekali.saat itulah Sasongko memekik nikmat.sementara itu akhirnya Sasongko menemukan chrytoryss milik Agnes dijilatinya benda sebesar kacang kedelai itu.rangsangan yang hebat timbul.Agnes mulai menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun seirama berkali-kali tampak memek Agnes menimpa wajah Sasongko. “akh…pak, condomnya dilepas aja ya. rasanya pahit nih” “emang kamu ndak takut hamil heh?” “biarin aja emang gua pikirin,cepet lepasin pak” “eh,mulut kamu sexy juga lepasin aja sendiri dengan mulutmu”

Agnes segera mematuhi permintaan Sasongko ia mulai berusaha melepas condom itu dengan mulutnya . agak susah juga sih karena condom yang membungkus burung Sasongko itu telah menjadi licin akibat air liur dari mulut Agnes.namun setelah dicoba terus dengan tekun akhirnya karet pengaman itu berhasil dilepas dari burung Sasongko.dan mulailah ia mengulum burung itu lagi.

“gila,ternyata kalau nggak dibungkus lebih enak ya pak rasanya” Sasongko tak lagi mempedulikan omongan Agnes ia terbuai juga dengan permainan mulut Agnes matanya sesekali tampak merem-melek.tiba-tiba…… (broooooot…….) letusan hawa busuk keluar dari pantat Agnes. “uahhh bau banget. kamu kentut ya wanita jalang,sialan” “maaaaf pak……”jawab Agnes terbata-bata wajahnya memerah karena malu.lima belas menit kemudian barulah bau kentut Agnes hilang.Sasongko benar-benar marah “gila sudaah enak-enak pake gaya 69 eh pake kentut lagi”umpat Sasongko dalam hati untunglah kejadian ini nggak membuat libido si Sasongko buyar.mereka pun melanjutkan “hal itu” lagi.

Sekarang mereka berdua duduk di kursi direktur. Sasongko di belakang Agnes di depan.burung Sasongko dijepit kedua belah paha Agnes.sementara itu jari tengah tangan kanan Sasongko masuk ke dalam lubang vagina Agnes. memainkan chrytorys cewek jalang itu.dan tangan kirinya asyik meremas-remas payudara Agnes bergantian “Agnes goyang pahamu.cepat!”perintah Sasongko seperti biasa Agnes mematuhinya. Paha Agnes begitu hangat sehangat vagina Yurike saat masih muda dulu.tiba-tiba…. “aAgnes,vagina kaamu sudah basah sayang. sini biar kucoba merawanin kamu lagi”

Sasongko segera membaringkan Agnes di lantai lantas dengan sekuat tenaga ia mencoba memasukkan burungnya lagi (haaaaa……ouwwwww………saaaakit ….bosssssss………haaaaaa……..ark……….. kya…………………..) finally pertahanan sang dara telah jebol.berkat usaha Sasongko yang keras serta cairan vagina yang membuat mrs”V”.Agnes sedikit licin.percikan darah perawan timur Agnes memercik keluar.hati Agnes saat itu menangis ia menyesal telah memberikan mahkota keperawanannya pada lelaki type Sasongko.tapi ia bangga karena akhirnya beban berat yang dipanggulnya telah dihancurkan oleh penis Sasongko.

Sasongko pun merasa puas karena dapat memetik mahkota suci milik Agnes.ia segera menggoyangkan tubuhnya seirama menggenjot tubuh Agnes yang kelelahan tak berdaya.mungkin karena terlalu bersemangat tenaga Sasongko cepat terkuras habis.ia hanya mampu menggenjot tubuh Agnes selama 30 menitan hingga akhirnya…… (croooot……croooot..blesss……). air suci sasongko terlepas keluar.memenuhi vagina Agnes yang masih sempit.cairan itu serasa menghangatkan seluruh tubuh Agnes.

Sementara Sasongko terbaring kelelahan Agnes melanjutkan permainan ini hingga mencapai klimaks. Selanjutnya jam 02.00 dini hari Agnes baru pulang ke rumahnya.ia mendapat uang sebesar 126USD$dalam dollar dari si Sasongko sebagai ganti atas keperawanannya.Sasongko juga sudah berjanji untuk membelikannya sebuah mercy “M” class

Sarapan Spesial

Sebut saja namaku Toni, saya masih kuliah di salah satu PTN di bandung, saya anak kostan.. biasa kalo udah akhir bulan hematnyasehemat mungkin...
Suatu hari pagi-pagi banget, aku mau pinjem ember besar ama ibu kosku, buat nyuci pakaian ku yang sudah seminggu lebih ga dicuci jadi butuh dua ember. Ku gedor rumah ibu kosku (rumah ibu kos ama kosan berdampingan).
"Ibu... ibu...", tiba-tiba yang keluar adalah viki, anaknya ibu kos. Dia masih berpakain tidur, baju ketat dan celana pendek. tingginya 160 dengan kulit putih, dia masih mahasiswa tingkat 3. "ada apa mas?" Aku terkejut karena aku masih terpana dengan tubuh montoknya dan pahanya yang putih mulus... kubilang aku mau pinjam embernya.. dia hanya mengangguk dan menyuruhku masuk... aku disuruh duduk disebuah sofa, rumahnya agak besar dengan interior yang klasik menawan...
"Mas tunggu benter aja dulu yah"... dengan manjanya dia meyuruh.. aku cuman tersenyum saja.. "emang pada kemana viki, orang rumah.. " kataku. "oh... mama lagi kepasar ama adikku dan papaku lagi kejakarta ada bisnis katanya... aku mengangguk saja... kemudian viki berjalan ke arah dapurnya..
Dari belakang aku mengikutinya, cuman mau liat-liat keadaan rumahnya. Sampai di kamar mandinya, aku melihat dia jongkok untuk mengambil dengan pantat yang aduhai.. menaikkan hasratku. Aku ga sadar rupanya dia memperhatikan gelagatku di cermin kamar mandi... setelah kusadar aku mencoba berpaling tapi vikinya keburu mendekat. "Mas matanya perlu di cuci sekalian deh.." katanya, aku malu sekaligus takut kalo-kalo aku di marahinya. "emm.. eh..nggak.." aku gugup sekali waktu itu.. ga taunya dia langsung mencengkram anuku.. aku langsung mundur dan terdiam, karena masih baru pertama kali di sentuh dari cewek.. dianya tersenyum.. "kenapa mas, jangan malu-malu lah, mas kan mau, iya kan...?" aku cuman mengangguk.. "tapi mama dan adikmu pulang gimana? kataku. "ga usah dipikirin mereka biasanya pulang jam 9-an, sekarang kan masih jam 6-an".
tanpa sadar mulutku sudah berada dimulutnya... dengan ganasnya kamu berpagutan kuat sekali.. sampai sesekali kami ambil nafas.. kurasakan pelukannya dengan dadanya yang besar montok dan turun naik.. kemudian aku di dorongnya kekamarnya sambil berciuman... kemudian kucium lehernya.. ehmm..ehm.. eah..ahh..eah..ssszz... kurasakan viki sudah terangsang berat.. kubawa tubuhnya untuk berbaring di springbadnya, kubuka bajunya dan bhnya.. mulutku bergerilya di susunya yang sudah mengeras. eahh...aah.. terus Ton..terus Ton.. lagi..lagi ..yesss yess.. dianya meracau ohhh... yess...ohh God... kuhisap kuat-kuat putingnya.. sekuat tenagaku.. tanganku kananku mengelus-elus perutnya dan masuk ke dalam celana pendeknya.. kurasakan rambut yang banyak sekali, kugesek-gesek jariku ke veginya.. ohhh mas yah situ.. ach.. eheechhhh... massss..yesssss, aku berhenti sejenak kusuruh ia buka celananya dan aku buka juga semuanya.. kami sudah bugil berdua.. kulihat dia memejamkan matanya dan menggerak-gerakkan pinggulnya.. tanda ia tidak sabar lagi... perlahan kudekatkan mulutku ke veginya.. walaupun veginya belum dicuci, kujilat klit nya perlahan-lahan sekali.. sehingga dia seakan-akan kesetanan. euch... ahchhh..emmmmmhhh...Ton..Tonn.. , kurasakan dari lidahku cairan hangat yang harum juga... Ton cepet masukinnnnnnnnn.... , aku ga ambil pusing perkataannya terus saja kujilati pepeknya.. kurasakan juga burungku yang dari tadi tegang kayak kayu pengen masuk kesangkarnya.. udah waktunya nih pikirku...
Viki kamu masih perawan ga..tanyaku, saking ga sadarnya aku bertanya kayak gitu.. iya masss... ech.. achhh... ga apa-apa kok mas, karena udah ga tahan nih mass... kugiringlah rudalku ke memeknya.. kumasukkan perlahan-lahan... tapi baru 1/4 nya saja kayaknya ada sesuatu yang mengganjal.. viki merintih, aduhh mas sakit...karena ga sabarnya aku, langsung saja aku masukkan sampai kedalam.. viki berteriak. achhhhhhhhhh.... sakit massssssss.. sakit... kulihat disela selangkangannya ada darah mengalir sedikit.. untung saja teriakannya ga begitu keras...kalo ga sih bisa berabe.. kontolku masih saja didalam... kemudian setelah viki agak reda... kukekuarkan kontolku dan kucoba masukinnya lagi... keduanya sudah agak mudah... kutarik maju mundur, kurasakan kontolku seperti diurut-urut erat sekali... pertamanya viki merasakan perih banget... tapi lama-kelamaan ada kenikmatan dibalik keperihannya.... achhh...achhhh... dia mulai merasakan.... yesss massssssssssssss... achhhh... szzzzzzzzz... terussss mas.... yang dalem masssss....iyahhhh...iyahhh..hahh...hahhh... emmmhmmm...terus saja dia meracau... setelah lima menitan kurasakan dia mengangkat pinggulnya agak tinggi, rupanya dia klimaks... sambil tangannya mencengkram sprei dengan erat..
acccchhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhcccchhhhhhhhhhh.... eeeeeeeeeeeeeenaaaaaaaaaakkkkkk.............. aaakuu sayang kamuuuuuuu TOOOONNN.... , kemudian kurubah posisi dengan dogi style..... dengan semangatnya ku sodok memeknya dengan cepat dan kencang... achhh ton... acccchhhhhhh tonn.......achhhhhhhhhhhhhhh TOOOOOONNNNNNNN Yesssssssssssssssssss..... niiiiikmat.... kemudian kurasakan kontolku ada sesuatu yang mau keluar... kupercepat lagi.... Viki, aku mau keluar... achcchchchhhhhhh.... benter mas aku juga.... kurasakan vikikeluar duluan... ada cairan hangat..emmmmmmmhhhhhhhhhhhhhhmmmmmmmmm yesssssssss tonnnnn. setelah hampir klimaks... kucabut kontolku... dan keluarlah cairan putih berbau ... yagn mengenai susunya itu... acchchhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.. kurasakan tegangnya tubuh dan ototku semua... kemudian aku terbaring sambil memeluk Viki...
viki terima kasih yah...
sama-sama mas aku baru sekali ini merasakan nikmatnya hidup ini...
kamu ga marah kan...
kenapa harus marah, aku rela kok untuk mas..
kmudian kami berpelukan..
tiba-tiba aku mendengar mamanya viki pulang... wah aku bingung... kemudian viki menyuruhku lewat jendela pulangnya... setelah aku bergegas berpakaian aku langsung cabut.. tapi sebelumnya aku berpesan bahwa besok-besok kami ulangi lagi, dia hanya mengecup bibirku dan berkata "kutunggu mas"..
Setelah kejadian itu, kami sering berhubungan.. tapi sampai sekarang baru 3 kali..kadang-kadang cek in ke hotel, tapi dia yang bayarin, maklum anak kosan...
setelah itu dia pergi ke malaysia karena dapat beasiswa...

Ngentot Sarah Yang Seksi

Namaku Andy, aku tinggal dirumah pamanku yang kebetulan punya anak bernama sarah,seorang gadis cantik berumur 16 th, kebetulan aku sedang mengurus kuliahku dan sementara waktu aku tinggal di rumah pamanku sambil mencari kost.

Sarah merupakan anak tunggal dari pamanku yang notabene seorang pengusaha yang sukses.Singkat cerita kejadian berawal ketika paman dan bibiku sedang ada urusan bisnis di luar negeri, mereka menitipkan rumah dan sarah kepada ku.

Minggu siang ketika aku sedang asyik membaca buku, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk;"Kak andy renang yuk" sapa sarah dibalik pintu, 'ya' kataku sambil membuka pintu kamar.ku lihat sarah sudah siap berenang dengan tubuh dililit handuk. "Ayo kak renang" katanya manja, memang sih diantara sepupuku yang lain, keluarga pamanku ini yang paling akrab dengan keluargaku. "Panas"kataku, 'enggak kok, lagi mendung' katanya lagi, aku melongok kedepan,memang kulihat cuaca agak mendung. "Bi inah mana??tanyaku,"ijin pulang kampung sehari ada urusan"jawab sarah sambil jalan menuju ke belakang. Ayo...kak' teriaknya.. Ok' jawabku sambil mengambil celana renang. Ketika sampai di kolam,aku melihat sarah sedang asyik bermain asyik berenang,belum sempat aku renang tiba-tiba. Tolong...tolong...kak..aduh kakiku"teriak sarah di tengah kolam smbil tanganya menggapai-gapai, secepat kilat aku langsung terjun kekolam dn segera ku bimbing dia kepinggir kolam. Ada apa? tanyaku,sambil mendorong badanya ketepi kolam,aku cukup kaget, ketika kudorong pantatnya,terasa daging pantatnya begitu kenyal dan halus,sempat membuat "adiku"naik turun,kutelentangkan dia dipinggir kolam,aduh....baru kali ini aku melihat tubuh sarah yang begitu menggairahkan. aduh kak...tolong"rintihnya sambil memegangi perutnya. kenapa?tanyaku, "kram dari perut sampai kekaki kiri"katanya sambil meringgis, tanpa minta ijin aku langsung memijit pangkal paha kirinya. auw...auw.."jerit sarah.rupanya sarah sebelum berenang tidak pemanasan dulu hingga kakinya kram,dan dia memaksa dikolam hingga pangkal pahanya salah urat. ketika coba ku buka sedikit pinggiran baju renang di pangkal pahanya,tampak biru memar. "Sar,buka baju renangmu ya,soalnya pangkal pahamu bengkak,saya ngak bisa mijit" kataku sambil langsung melepaskan ikatan tali di pundaknya,sarah hanya menggaguk kecil mengiyakan sambil menahan sakit. Kelaki-lakianku sekejab timbul,ternya sarah tidak memakai BH dan CD dibalik baju renangnya,guna menjada image aku berlagak cuek melepas bajunya,sempat kuperhatikan kulitnya putih bersih dengan buah dada yang sebesar buah apel denganputing yang merah delima smpai di bawah pusarnya tampak gundukan dengan belahan yang mungil dan belum banyak ditumbuhi bulu,ya mungkin baru sepuluh buah rambut. Kusentuh pangkal pahanya,sarah menjerit-jerit,jemariku sesekali tersentuh juga di belahan itu,aku hanya bisa menahan nafas, Setengah jam aku memijit-mijit pangkal paha gadis itu,kemudian sarah minta digendong kekamarnya,mungkin di kecapean sesamsai di tempat tidur sarah langsung memejamkan mata,tanpa menghiraukan aku lagi,aku hanya bisa menikmati keindahan tubuh gadis itu,kemudian kutinggal pergi kekamarku,didalam kamar aku masih terbayang tubuh sarah,sepuluh menit kemudian dengan masih memakai celana renang kudatangi kamar sarah, gadis itu tampaknya terlelap dengan posisi masih telentang,ku datangi perlahan kemudian kuremas pelan buah dada itu,sarah masih terpulas ditidurnya,tiba-tiba timbul keinginanku untuk mencium belahan itu,kuberanikan diri menundukan kepala diantara paha gadis itu,perlahan kujilati belahan itu,kuciumi bau anyir dann selakangan bercampur bau air kolam membauat nafsuku tidak terbendung. ku buka perlahan belahan itu,tampak kemerahan berlendir,lidahku terus menjilati lendir itu,kental-kental,sarah mengeliat-geliat tak sadar.seketika kulepas celana ku dan "adiku" sudah tidak tahan,ketika kutusukan adikku di lobang itu, auw...aduh,..kak..ngapain...jangan" teriak sarah, aku seperti kesetanan tak menghiraukan posisiku menang telah menindihnya sarh berontak, tapi terlambat terpedoku telah menembus keperawananya, Sar, sori aku sudah ngak tahan melihatmu"kataku sambil terus mengenjot tubuhnya, sarah hanya pasrah sambil menangis... crot....crot...crot...ahhh" spermaku muncrat di dalam tubunya,nikmatnya bukan main.

kutinggalkan dia sambil minta maaf, ya nasi sudah jadi bubur.akupun kemudian meninggalkan rumah pamanku dan tidakpernah kembali lagi,sarahpun tidak menceritakan kejadian ini pada ayah ibunya..hingga akhirnya dia menikah. demikian kisah ku,

Santi dan Lina

Nama saya Anton, saya ini laki-laki yang dilahirkan dengan libido yang sangat tinggi, umurku 30 tahun, Karena libido ini juga, saya belum pernah menikah, ga tau kenapa???? Saya ga pernah puas dengan pelayanan pacar pacar, bahkan sampe skrg. Saya selalu mencari kepuasan di luar. Buat saya gampang cari ceweq atau tante model apapun, walaupun hanya modalnya dg senyum, wajahku kata teman teman ku cute..., postur tubuhku atheltis karena dulu saya sering fithness, tinggi 178cm dan berat 75kg. Saya selalu melanglangbuana cari kenikmatan dunia... Tapi entah kenapa sejak sekolah dulu banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarku. Mungkin karena otakku yang cerdas dan kepandaianku bergaul atau karena aku memang memiliki daya tarik sendiri.

Saya tinggal di suatu daerah strategis di Jakarta Barat. Saya seorang wiraswasta. Saya membuka sebuah bengkel di wilayah perkantoran di Jakarta Selatan. Sekarang usaha itu sudah saya serahkan ke adik, sementara saya melanglang ke Jawa Timur tepatnya ke kota Malang

Kisah saya ini berawal kurang lebih 2 tahun yg lalu. Dengan kepandaianku mengelola saat itu saya telah memiliki banyak pelanggan di bengkel Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yg bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Santi, usianya 47 tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih bersih. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi. Yang menjadi pusat perhatianku adalah payudaranya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Saya sering membayangkan jika suatu saat dapat merasakan halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum putingnya payudaranya.

Malam itu saya sedang nunggu Taxi mau pulang, saya baru saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit saya nunggu, datang mobil sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Mbak Santi di dalam mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya "Mau kemana An..? kok sendirian, mau saya antar nggak? tanpa basa - basi. Saya lalu memasuki mobil mewah itu, kemudian kita ngobrol2 di dalam mobil. Singkat kata Mbak Santi mengajakku ke discothique, waktu itu malam minggu.
Sesampainya di discothique. Kami mencari table yang kosong dan strategis di pojok tapi bisa melihat floor dance.

"Saya sedang pesan lagi satu untuk kita berdua," kata Mbak Santi. Untuk "ON", saya memang butuh dorongan inex, tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Mbak Santi. Takaran satu setengah baru cukup untuk Mbak Santi. Ternyata Mbak Santi suka triping...

Pesanan tak lama datang. Kubayar bill-nya. Ditanganku ada dua butir pil inex, yang satu saya bagi dua. Mbak Santi segera menelan satu setengah, dan sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Mbak Santi terlihat semakin on. Maka kami berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalam diskotek yang penuh dengan orang yang sama-sama triping.
Saat saya berdiri dan melihat Mbak Santi "ON" berjoget dengan erotisnya, tak lama kemudian Mbak Santi menghampiri dan merapatkan tubuhnya yang mulus itu ke depanku... Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap.

Dalam keremangan dan kilatan lampu diskotek, ia nampak manis dan anggun. Saya kembali menyibukkan diri dengan bergoyang dan memeluknya belakang tubuhnya. Sesekali tangan ku dengan nakal meremas dada Mbak Santi yang masih tertutup kemeja, Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua gunung kembarnya yang masih terbalut BH. Tanganku akhirnya dapat mmerasakan halus dari payudara Mbak Santi , jari-jari ku mencari- cari puting payudara Mbak Santi dengan menyusup ke dalam Bh Mbak Santi. Saya remas dada Mbak Santi dengan perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Mbak Santi berusaha membuka pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang itu, sambil tanganku memainkan puncak puting susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku.

Sementara Mbak Santi hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang mengikuti irama, saya terus mengelus dadanya sehingga membuat Mbak Santi dari gerakan tubuhnya Mbak Santi memang kelihatan ingin sekali di puasi, terlihat dari pantatnya yang montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke belakang. "Kamu sudah on berat ya?" katanya. Saya tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kucium pipinya.

Pada pukul 02.00 pagi, DJ mengumumkan discothique akan terus buka sampai pukul 05.00.
Pengunjung bersorak-sorai riang gembira. Tapi Mbak Santi kelihatannya sudah mulai "Droop"...
"Sayang saya sudah lelah," keluh Mbak Santi.
"Ah, masa lelah, sayang," ucapku sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya.
"Sayang..., kita pulang, yuk..," katanya. "Saya ingin istirahat".
"Pulang ke mana?" tanyaku.
"Ke mana aja", jawabnya. Saya baru mengerti, bahwa dia ingin lanjut ke tempat tidur.
"Saya sebenarnya sudah booking kamar di hotel dekat sini,'' ujarnya.
"Kalau begitu, kita ke sana,"
"Tapi tunggu, saya mau bilang temen dulu yang lagi digaet cowok di pojok sana," katanya.

Tepat pukul 02:30 dini hari kami keluar dari discothique tersebut dengan rasa puas dan senang terus kami menuju ke hotel, Sesampainya kami dikamar Mbak Santi langsung berjoget lagi kali ini tanpa musik tapi dia yang bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti orang sedang menari striptis, saya hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa yang ada tepat didepan jendela.

Sambil menari dan melucuti pakaiannya Mbak Santi menghampiri saya dan segera jongkok didepan saya sambil membukan resleting celana saya, saya hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya, "Woww.. besar dan kencang sekali... buat Santi ya..." kemudian Mbak Santi mengulum penisku yang menegang sejak tadi. "Ooogghh... ssshhh... enak sekali Mbak", ucapku. Dia mengeluarkan kontol saya yang sudah setengah tegang dan langsung di isapnya dalam-dalam. Jago memang Mbak Santi dalam memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan meliuk diteruskan ke buah zakar saya,

Setelah 10 menit naik dan turun dia isap dan jilatin kontol saya, Mbak Santi melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan jatuh telentang. Langsung saya menyergapnya, dan kami bercumbu dengan dorongan nafsu sangat tinggi karena pengaruh inex. Kami berciuman, beradu lidah dan bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya.. Kujilati daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dengan lidahku.

Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya, menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan bokongnya. Kubekap memeknya yang ditumbuhi bulu halus nan rimbun. Jari manis dan telunjukku merenggangkan pinggiran memek Rani. lalu jari tengahku mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.

"Ooooh... ssshhhh... aaaahhhh...!" desah Mbak Santi. "Sayang...," dengusku sambil terus mencumbunya. Aku menarik tanganku dari memek Mbak Santi. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya... berputar sampai akhirnya meremas bagian putingnya. Akhirnya angan ku tercapai... saya ciumin, saya gigit pinggiran payudaranya, saya lumat putingnya...

"Ooooh... sshhhh... terrruuuusss... saaayyyy...!" desah Mbak Santi lagi. Saya jilati pinggiran buah dadanya, lalu menghisap putingnya. "Ooooohh... sayang...!'' Mbak Santi merintih nikmat. Mbak Santi bangkit dan mendorong aku supaya telentang. Ia melakukan cumbuan meniru caraku. Ia pun membekuk kontolku dan mengelusnya dengan tekanan yang membangkitkan birahi. Mbak Santi memutarkan badan di atas tubuhku yang telentang. Ia menciumi dan menjilati kontolku sementara memeknya disumpalkan ke mulutku.

Akhirnya Mbak Santi menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku. Juga si nagaku yang sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua bantal. Dengan lembut kuangkat tubuhnya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah pantatnya. Menyangga tubuh bagian bawahnya. Membuat pahanya yang putih mulus kian menantang. Terlebih ketika bukit venus dengan bulu-bulu halusnya menyembul ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang saat lidahku kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu itu. Dia menjerit saat kucoba menguak kemaluannya dengan jari telun-jukku. Otot pahanya meregang saat kuhisap clitorisnya. ''Masukkan kontolmu, cepat sayang," rintihnya.

"Aaaahhhh... ssssttthhhh.... oooooohhhhhh...!" rintihan kenikmatannya kali ini terdengar nyaris seperti jeritan. Aku jongkok di pinggir tempat tidur, kutarik kaki Mbak Santi sampai bokongnya berada di tepi ranjang. Kusingkap selangkangannya, dan kulumat memeknya yang sudah becek.

Kubalikkan tubuhnya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya. Kukorek-korek anusnya dengan jari tengahku. "Ouuww.. oooh... ssshhhhh.... sayang, sssaaaayyyyaaaa gggaaaakkkk tttaaaahhhaaannnn.... cepet maaassssuuuuukkkiiinnn!" katanya memelas-melas.

Semakin Mbak Santi memanas birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi. Aku melihat Mbak Santi sampai meneteskan air mata menahan orgasme.

Dipegangnya penisku yang sudah membesar ini. Dia bimbing dan penisku terasa menyentuh bibir kemaluannya. Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Dia memekik. Pada dorongan kesekian kalinya sasaran lepas lagi. Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah jongkok, Kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas tubuhku. Kuarahkan penisku ke lubang yang basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku kuat-kuat. Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Kedua kakinya meregang ototnya. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku. Pertama terasa gemertaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yang plong. Membuat dia menjerit, merintih keras, "Acchhh... ssshhhh..."

Ketika kupacu dia dengan irama yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan di antara ketiaknya. Dia meremas rambutku seiring dengan naik turunnya tubuhku. Kukunya mencengkram punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dengan wajah kuyu. Dari keringat kami yang menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku. Dengan menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak tubuhku yang di atasnya.

Tak lama kemudian Mbak Santi merobah posisi menduduki pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan2 ke memeknya. "Uppss... ooohhh... rasanya nikmat sekali penisku didalam memeknya. Mbak Santi terus bergoyang naik turun.
"Aaahhhhh... ena..aakkk..."erangku. Mbak Santi terus bergoyang sambil menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.Dan aku gantian memompanya dari atas "Ssshhhh... Aaahhh...tttrruuusss... sshhhh..." erangnya. Aku terus memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang
"Sssshhhttt... aaaahhhhhhh..." otot vaginanya berkontraksi meremas2 penisku
"Oggghhh... terus sayang... nikmat sayang... oogghhh... oogghhhh... yeeaahh... nikmat sayang... terus sayangg... saya mau keluar nich dan sekitar 2 menit Mbak Santi udah mengeluarkan cairan nikmat dari dalam memeknya.
"Oooogghhhh... saya udah keluar sayang..." erang Mbak Santi.

Tiba-tiba, pintu kamar ada yang mengetuk. "San... San!" suara perempuan.
Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Mbak Santi. "Teruskan, sayang...! Itu temanku, biarkan saja," kata Mbak Santi.
"Saaaannn...!" pintu diketuk lagi diikuti suara panggilan. "Masuk aja, Lin..., engga dikunci, kok,'' ujar Mbak Santi.
"Huusss..!!! Kita lagi nanggung dan bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?" sergahku.
"Engga apa-apa, cuek aja.." kata Mbak Santi enteng sambil tersenyum manis.

"Wah, rupanya lagi pada asyik nih," kata Lina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar. Saya masih dalam posisi jongkok dan kontolku masih di dalam memek Mbak Santi, dan hanya menyeringai melihat kedatangan Lina.
"Mana cowokmu tadi?" tanya Mbak Santi.
"Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah aku dibawa ke hotel lain. Habis ngewe, kami pisah,"sahut Lina.

Saya masih bengong mendengar percakapan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Santi menarik tanganku yang tersampir di pahanya. "Ayo sayang goyangin kontolmu sayang, jangan kalah sama Lina yang baru habis ngewe," desak Mbak Santi.

Saya berdiri dan mengangkat tubuh Mbak Santi. Kontolku yang sudah tegang dari tadi, segera saya tembakkan lagi ke dalam lubang memek Mbak Santi yang sudah tidak perawan tapi masih terasa lengket.. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat. "Sssshhhh... Yang dalam... ceeepaaattt... aaaahhhhh...sssttthhhh..., eeeennnaaakkkk... sayyyyang... genjoooootttt..." pinta Mbak Santi. Aku pompakan kontolku dengan penuh gairah.

Sementara Lina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri di sana. Mungkin berendam di bath tab. Pengaruh inex membuat daya tahan persenggamaanku dengan Mbak Santi cukup lama. Berbagai gaya kami lakukan. Mbak Santi beberapa kali mengerang dan menggigit pundakku saat mencapai orgasme. Sementara nagaku masih anteng dan melesak-lesak ke dalam memek Mbak Santi.

"Aduh.. capek, sayang..!" rintih Mbak Santi. "Istirahat dulu.. yah..?"
"Sabar, donk, say. Aku sangat menikmati hangat nya memekmu," rayuku.
Mbak Santi lantas menggelepar pasrah, tidak kuasa lagi menggerak-gerakkan tubuhnya yang lagi kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan keringat. Tapi nagaku masih tegang, belum mau memuntahkan sperma. Akhirnya aku kasihan juga sama Mbak Santi yang sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku masih menggagahinya.

Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi. Spontan aku bangkit dan melepas kontolku dari memek Mbak Santi. Dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Mbak Santi dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Benar saja Lina sedang berendam di bath tab dengan tubuh bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya. Kepalanya bersender pada ujung bathtab. Aku menghampirinya dengan kontol yang masih tegang.

Mata lina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bath tab, menghadap ke arahnya.
"Mana Santi?" tanyanya setengah berbisik sambil matanya turun naik melihat ke arah muka dan kontolku yang ngaceng.
"Dia tidur... jangan berisik," kataku sambil naik ke dalam bath tab dan langsung menindih tubuh Lina yang sintal dan pasrah. Kami bergumul dalam cumbuan yang hot.
"Lin kamu diatas yah... " Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dengan segera di pegangnya kontolku sambil diarahkan kememeknya, kulihat memeknya indah sekali, dengan bulu-bulu pendek yang menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan memeknya. "Aaawww... enak banget memek kamu Lin..." "Enak kan mana sama punya Santi...???" Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya kontolku mau patah ketika diputar didalam memeknya dengan berputar makin lama makin cepat.
"Aaahhh... Lin... enak banget aaahhhh..." Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap. "Ton... saya maaaauuu keeellluuuuaaaarrr..." "Rasanya mentok... aaaahhhh..." Memang dengan posisi ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.
"Ah...Ah...Eh.." suaranya setiap kali aku menyodok memeknya.
Kugenjot memeknya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat memeknya,
"Lin maaauuuu kkeeeelllluuuaaarrrrr... aaaahhhh... sshhhhh... aahhhhhhh..." Kupeluk erat dia sambil melumat putingnya. Kupompa memeknya sampai kami tak sadar mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Santi.

Mbak Santi tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dengan tubuh bugil dan matanya menatap aku dan Lina yang lagi bersetubuh. "Gitu yah, engga puas dengan aku kamu ngewe in Lina," hardik Mbak Santi dengan nada manja, pura-pura marah.
Eh, malah Mbak Santi kini ikut naik ke dalam bath tab. "San, ayo gantian, aku udah dua kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa," kata Lina.
"Ayo sayang, sekarang aku akan membuat kontolmu muntah," kata Mbak Santi.
Segera Mbak Santi hampiri saya di dalam bath yang penuh dengan air, ditonton Lina yang duduk di ujung bath tab sambil membasuh memeknya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Santi. Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang memeknya yang basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala kontolku ke lubang memeknya secara perlahan-lahan.

"Aduuuuh... say pelan-pelan, agak sedikit pedih say... pelan-pelan, ssshhhttt... say nikmat juga rasanya". Kutekan kontolnku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil nahan sakit...
"Teruuusss..., pelan-pelan aja yaaa sayyy... Aaahhhh... eennnaaakkk saayyyy... sambil mainkan itilnya say... aduuuuuuuhhhhh nikamatnya... oooohhhh..." Terdengar suara kecrooooott, kecrooot bila kutarik dan kumasukan kontolku di lubang memeknya, karena suara air kali ya...

Mbak Santi semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecraaat, kecrooooot semakin keras. Tak lama kemudian. "Aaaaduuuuh say aku nggak tahan lagi ingin keluar... kamu hampir keluar blum say... aduuuuuh saaayyyy... eeeennnnaaakkk teeerrruuussss... yyyyaaaannngggg ccceeeeepppaaaatttt saaayyyy.... sssshhhhh....aaaaahhhh... ".
"Aduuuuh Sayang... terrrrusss... aaaahhhh... eeennnaaakkkk say..., nikmat sekali... rasanya ingin keluar say, aduuuuuuh... nikmatnya, teruuuusssss... yang cccceeepppaaatttt... sssaaaayyyy... aduh saya nggak tahan ingin keluar... creeett... creeettttttt... creetttttt... Kulihat Mbak Santi terkulai lemas dan memeknya kursakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan memeknya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Mbak Santi akan orgasme.

"Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, udah mau orgasme!" Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Mbak Santi. Aku masih terus menggenjot memeknya. Wajah Mbak Santi terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme.
Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat.
"Sayang, saya mau keluar nich..."
"Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Santi juga mo keluar." Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang jakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Mbak Santi. "Ooogghhh... saya sampai nih... aaaahhhhh.... Crroootttt....crrootttt....croottt... air maniku keluar dengan derasnya ke dalam memek Mbak Santi dan Mbak Santi pun menikmatinya.
"Akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang," kata Mbak Santi sambil memeluk dan menciumi bibirku.

Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama sama melepaskan air mani kami. "Lin... emut kontolku sayang" kataku lalu mencabut kontolku dari memeknya Mbak Santi. serr...serr..serrrr...seerr... Lina melumat ½ kontolku hingga air mani ku habis keluar. "Mmmmhhh... aaaahhh... enak sekali pejuhmu" katanya sambil mengocok ngocok kontolku mencari sisa air maniku.
"Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, udah mulai menggeliat!" kataku, menggoda.
"Hhhaaah...!!!?" teriak Mbak Santi dan Lina terkesiap bersamaan kompak.

Kemudian saya segera keluar dari bed tab mendekati Lina dan menyuruhnya membelakangi, Dari belakang saya mengarahkan kontolku ke memeknya yang sudah basah lagi karena nafsu melihat saya dan Mbak Santi. Sleeeepp... blesss.... aku langsung memasukkan kontolku terburu buru karena sempit waktu membuat kesakitan Lina. "Aduuh pelan pelan dong Say.., Lina sakit nih" katanya agak merintih.

"Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih"kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah. Lalu aku mulai memaju mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.
"Shhhh...ahhhh...shhhh..."kata Lina setengah merintih kenikmatan
"Liiinnn... Memekmu sempiitt... nikmat Liiinnn..." teriak ku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami. Sleeep...bleess...cplok..cplok...cplok irama persetubuhan kami sungguh indah hingga saya ketagihan.

Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama sama sampai hampir bersamaan.
"Shhh... ahhh... say Lina sampai nih"katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.
"Iya Lina sayang saya juga sampai nih, didalam yah say..." kataku lalu menghunjamkan kontolku dalam dalam dimemek Lina.
Seerr...serr..serr...croot...croot...croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut kontolku dari memek Lina.

Kontolku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan Lina.
"Uuughhhhh... say enaak banget...sssstttthhhh..."katanya.
Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.

Itulah petualangan seksku dengan cewek cewek cantik yang membuatku ketagihan.
Dan kegiatan kami ini terus berlanjut sampai sekarang.

Sakit Hati Diperawani

Sebenarnya aku dilahirkan menjadi anak yang beruntung. Papa punya kedudukan di kantor dan Mama seorang juru rias/ahli kecantikan terkenal. Sering jadi pembicara dimana-mana bahkan sering menjadi perias pengantin orang-orang beken di kotaku. Sayangnga mereka semua orang-orang sibuk. Kakakku, Kak Luna, usianya terpaut jauh diatasku 5 tahun. Hanya dialah tempatku sering mengadu. Semenjak dia punya pacar, rasanya semakin jarang aku dan kakakku saling berbagi cerita.

Saat itu aku masih SMP kelas 2, Kak Luna sudah di SMA kelas 2. Banyak teman-temanku maupun teman kakakku naksir kepadaku. Kata mereka sih aku cantik. Walaupun aku merasa biasa-biasa saja (Tapi dalam hati bangga lho.., he.., he..) Aku punya body bongsor dengan kulit putih bersih. Rambut hitam lurus, mata bulat dan bibir sexy (katanya sich he.., he..). Saat itu aku merasa bahwa payudaraku lebih besar dibandingkan teman-temanku, kadang-kadang suka malu saat olah raga, nampak payudaraku bergoyang-goyang. Padahal sebenarnya hanya berukuran 34B saja. Salah seorang teman kakakku, Kak Agun namanya, sering sekali main ke rumah. Bahkan kadang-kadang ikutan tidur siang segala. Cuma seringnya tidur di ruang baca, karena sofa di situ besar dan empuk. Ruangannya ber AC, full music. Kak Agun bahkan dianggap seperti saudara sendiri. Mama dan orang tuanya sudah kenal cukup lama.

Saat itu hari Minggu, Mama, Papa, dan Kak Luna pergi ke luar kota. Mak Yam pembantuku pulang kampung, Pak Rebo tukang kebun sedang ke tempat saudaranya. Praktis aku sendirian di rumah. Aku sebenarnya diajak mama tapi aku menolak karena PR bahasa Inggisku menumpuk.

Tiba-tiba aku mendengar bunyi derit rem. Aku melihat Kak Agun berdiri sambil menyandarkan sepeda sportnya ke garasi. Tubuhnya yang dibalut kaos ketat nampak basah keringat.
"Barusan olah raga..., muter-muter, terus mampir..., Mana Kak Luna?", tanyanya. Aku lalu cerita bahwa semua orang rumah pergi keluar kota. Aku dan Kak Agun ngobrol di ruang baca sambil nonton TV. Hanya kadang-kadang dia suka iseng, menggodaku. Tangannya seringkali mengelitik pinggangku sehingga aku kegelian.
Aku protes, "Datang-datang..., bikin repot. Mending bantuin aku ngerjain PR". Eh..., Kak Agun ternyata nggak nolak, dengan seriusnya dia mengajariku, satu persatu aku selesaikan PR-ku.
"Yess! Rampung!", aku menjerit kegirangan. Aku melompat dan memeluk Kak Agun, "Ma kasih Kak Agun". Nampaknya Kak Agun kaget juga, dia bahkan nyaris terjatuh di sofa.
"Nah..., karena kamu sudah menyelesaikan PR-mu, aku kasih hadiah" kata Kak Agun.
"Apa itu? Coklat?", kataku.
"Bukan, tapi tutup mata dulu", kata dia. Aku agak heran tapi mungkin akan surprise terpaksa aku menutup mata.

Tiba-tiba aku merasa kaget, karena bibirku rasanya seperti dilumat dan tubuhku terasa dipeluk erat-erat.
"Ugh..., ugh...", kataku sambil berusaha menekan balik tubuh Kak Agun.
"Alit..., nggak apa-apa, hadiah ini karena Kak Agun sayang Alit".
Rasanya aku tiba-tiba lemas sekali, belum sempat menjawab bibirku dilumat lagi. Kini aku diam saja, aku berusaha rileks, dan lama-lama aku mulai menikmatinya. Ciuman Kak Agun begitu lincah di bibirku membuat aku merasa terayun-ayun. Tangannya mulai memainkan rambutku, diusap lembut dan mengelitik kupingku. Aku jadi geli, tapi yang jelas saat itu aku merasa beda. Rasanya hati ini ada yang lain. Kembali Kak Agun mencium pipiku, kedua mataku, keningku dan berputar-putar di sekujur wajahku. Aku hanya bisa diam dan menikmati. Rasanya saat itu aku sudah mulai lain. Napasku satu persatu mulai memburu seiring detak jantungku yang terpacu. Kemudian aku diangkat dan aku sempat kaget!
"Kak Agun..., kuat juga". Dia hanya tersenyum dan membopongku ke kamarku. Direbahkannya aku di atas ranjang dan Kak Agun mulai lagi menciumku. Saat itu perasaanku tidak karuan antara kepingin dan takut. Antara malu dan ragu. Ciuman Kak Agun terus menjalar hingga leherku. Tangannya mulai memainkan payudaraku. "Jangan..., jangan..., acch..., acch...", aku berusaha menolak namun tak kuasa. Tangannya mulai menyingkap menembus ke kaos Snoopy yang kupakai. Jari-jemarinya menari-nari di atas perut, dan meluncur ke BH. Terampil jemarinya menerobos sela-sela BH dan mengelitik putingku. Saat itu aku benar-benar panas dingin, napasku memburu, suaraku rasanya hanya bisa berucap dan mendesis-desis "ss..., ss...,". Tarian jemarinya membuatku terasa limbung, ketika dia memaksaku melepas baju, aku pun tak kuasa. Nyaris tubuhku kini tanpa busana. Hanya CD saja yang masih terpasang rapi. Kak Agun kembali beraksi, ciumannya semakin liar, dan jemarinya, telapak tangannya mengguncang-guncang payudaraku, aku benar-benar sudah hanyut. Aku mendesis-desis merasakan sesuatu yang nikmat. Aku mulai berani menjepit badannya dengan kakiku. Namun malahan membuatnya semakin liar. Tangan Kak Agun menelusup ke CD-ku.
Aku menjerit, "jangan..., jangan...", aku berusaha menarik diri. Tapi Kak Agun lebih kuat. Gesekan tangannya mengoyak-koyak helaian rambut kemaluanku yang tidak terlalu lebat. Dan tiba aku merasa nyaris terguncang, ketika dia menyentuh sesesuatu di "milikku". Aku menggelinjang dan menahan napas, "Kak Agun..., ohh.., oh...", aku benar-benar dibuatnya berputar-putar. Jemarinya memainkkan clit-ku. Diusap-usap, digesek-gesek dan akhirnya aku ditelanjangi. Aku hanya bisa pasrah saja. Tapi aku kaget ketika tiba-tiba dia berdiri dan penisnya telah berdiri tegang. Aku ngeri, dan takut. Permainan pun dilanjutkan lagi, saat itu aku benar-benar sudah tidak kuasa lagi, aku pasrah saja, aku benar-benar tidak membalas namun aku menikmatinya. Aku memang belum pernah merasakannya walau sebenarnya takut dan malu.

Tiba-tiba aku kaget ketika ada "sesuatu" yang mengganjal menusuk-nusuk milikku, "Uch..., uch...", aku menjerit.
"Kak Agun, Jangan..., ach..., ch..., ss..., jangan".
Ketika dia membuka lebar-lebar kakiku dia memaksakan miliknya dimasukkan. "Auuchh...", aku menjerit.
"Achh!", Terasa dunia ini berputar saking sakitnya. Aku benar-benar sakit, dan aku bisa merasakan ada sesuatu di dalam. Sesaat diam dan ketika mulai dinaik-turunkan aku menjerit lagi, "auchh..., auchh...". Walaupun rasanya (katanya) enak saat itu aku merasa sakit sekali. Kak Agun secara perlahan menarik "miliknya" keluar. Kemudian dia mengocok dan memuntahkan cairan putih.

Saat itu aku hanya terdiam dan termangu, setelah menikmati cumbuan aku merasakan sakit yang luar biasa. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sprei terbercak darah. Aku meringis dan menangis sesenggukan. Saat itu Kak Agun memelukku dan menghiburku, "Sudahlah Alit jangan menangis, hadiah ini akan menjadi kenang-kenangan buat kamu. Sebenarnya aku sayang sama kamu".

Saat itu aku memang masih polos, masih SMP, namun pengetahuan sexku masih minim. Aku menikmati saja tapi ketika melihat darah kegadisanku di atas sprei, aku jadi bingung, takut, malu dan sedih. Aku sebenarnya sayang sama Kak Agun tapi..., (Ternyata akhirnya dia kawin dengan cewek lain karena "kecelakaan"). Sejak itu aku jadi benci..., benci..., bencii..., sama dia.
TAMAT

Rumput Tetangga Lebih Hijau & Lebih Nikmat

Namanya Imas, aku biasa memanggilnya Teh Imas, sementara ia biasa memanggilku Mas Tody. Perawakannya sedang-sedang saja, wajahnya pun sedang-sedang saja, bila dibandingkan dengan istriku jelas lebih cantik istriku. Tapi entah mengapa ia begitu menggairahkan diriku sehingga aku sering berangan-angan untuk dapat bersetubuh dengannya. Mungkin itulah yang dimaksud dengan peribahasa “Rumput di halaman tetangga nampak lebih hijau”. Angan-anganku tersebut sebenarnya tidak berlebihan karena Teh Imas sendiri sering memancing perhatianku, baik dengan perkatan-perkataannya saat ia mengobrol denganku, maupun dengan sikap dan gerak-geriknya. Rumah kami yang saling berhadapan memungkinkan diriku untuk sering mengamatinya sambil berkhayal. Apalagi bila ia selesai mandi (kebetulan kamar mandinya berada di luar rumah) seolah sengaja memamerkan tubuhnya yang sintal dan mulus yang hanya ditutupi dengan handuk yang minim. Tak ayal lagi bila melihat itu aku pun asyik memelototinya dari balik kaca rumahku sambil beronani.

Pernah pada suatu hari ketika aku berjalan di gang yang sempit dekat rumahnya aku dikagetkan olehnya di tikungan. Kontan saja aku merasa kaget, namun ketika mengetahui bahwa yang mengagetkanku itu Teh Imas aku pun memeluknya erat-erat. Pada mulanya ia meronta-ronta hendak melepaskan diri dari pelukanku namun dari rontaannya aku mengetahui bahwa ia hanya berpura-pura, terlebih-lebih ketika aku berhasil mendaratkan ciuman di bibirnya yang seksi ia memberi respons dengan membalas ciumanku. Tanganku pun bergerilya di sekitar dadanya. Teh Imas hanya dapat menggelinjang sambil merintih keenakan. Untung kami sadar bahwa gang tersebut adalah jalan umum walaupun pada saat itu sangat sepi maka kami pun melepaskan ciuman kami. Teh Imas tersenyum tersipu sambil berkata “Ah, Mas Tody nakal!” sambil mencubit mesra pahaku. Sejak saat itu khayalanku bertambah menjadi-jadi karena mengetahui bahwa Teh Imas membalas hasratku. Teh Imas pun semakin atraktif bila di hadapanku seolah-olah memberi isyarat bahwa ia menginginkan peristiwa di gang sepi itu terulang lagi. Bahkan lebih dari itu.

Pada suatu hari ketika aku akan pergi ke kampung untuk menjemput orang tuaku tanpa curiga suami Teh Imas menyuruh istrinya untuk ikut bersamaku guna menengok adiknya yang kebetulan tinggal di kota yang sama dengan tempat orang tuaku tinggal dan Teh Imas pun setuju. Waktu itu aku membawa mobil kakakku dan pergi sendirian. Wah pucuk dicinta ulam pun tiba pikirku.

Singkat kata kami berdua pun pergi bersama-sama. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara karena bagaimanapun aku merasa rikuh takut Teh Imas tidak merasa senang. Yang kulakukan hanya membayangkan alangkah nikamtnya bila aku dapat menyetubuhi Teh Imas yang bahenol nerkom itu sehingga sepanjang perjalanan kontolku ngaceng terus. Ketika tiba di kota S kami pun mampir di sebuah restoran yang berdampingan dengan sebuah hotel untuk beristirahat sambil mengisi perut karena di rumah kami belum sempat sarapan. Sembari menikmati sarapan otakku berputar mencari jalan bagaimana caranya agar aku dapat menyetubuhi Teh Imas sepuas-puasnya. Setelah selesai makan saya berkata kepada Teh Imas “Teh kita istirahat dulu di hotel yach untuk mengembalikan stamina karena perjalanan kita masih jauh”. Teh Imas tersenyum sambil menjawab “Alaaaaah Mas Tody kok pura-pura segala, bilang saja terus terang kalau Mas Tody ingin ngewe dulu dengan saya, saya juga mau kok karena dari dulu juga memek saya sebetulnya sudah kepingin dimasuki oleh kontol Mas Tody. Tadi juga saya selalu memperhatikan celana Mas Tody yang kembung karena kontolnya ngaceng ya?”. Aku merasa agak malu karena tipu muslihatku diketahui oleh Teh Imas, tapi aku pun merasa lega karena keinginanku tidak bertepuk sebelah tangan. Teh Imas pun melanjutkan ceritanya, “Mas sebenarnya hasrat seks saya tidak terpuaskan oleh suami saya yang kontolnya kecil lagi pula loyo, oleh karena itu saya selalu beronani sambil membayangkan bahwa saya sedang diewe oleh Mas Tody”. Mendengar pengakuannya yang polos dan terus terang itu kontan kontol saya semakin mengeras apalagi setelah saya perhatikan ternyata di balik T-Shirtnya yang ketat Teh Imas tidak mengenakan BH sehingga buah dadanya yang besar terlihat menggelantung dan putingnya tercetak jelas.

Akhirnya kami memutuskan untuk cek-in di hotel di sebelah restoran tadi. Hotel tersebut lumayan bersih dengan suasana yang tenang. Begitu kami masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya kontan Teh Imas memeluk diriku dan mendaratkan ciumannya ke bibirku sambil tangannya berusaha untuk membuka ritsleting celanaku seolah-olah tidak sabar untuk memegang kontolku. Aku pun segera mengimbangi kebuasannya dengan melumat bibirnya sambil meremas-remas teteknya. Untuk membantu Teh Imas aku pun segera membuka celanaku sehingga Teh Imas leluasa memegang dan mempermainkan kontolku yang berukuran sedang, panjang 14-15 cm. dengan diameter 13 cm. Ketika aku mendaratkan bibirku di lehernya, Teh Imas pun menggelinjang kegelian sambil mendesah nikmat. Aaaah …… Masssssss …….. geli tapi nikmaaaaaaaat. Aku pun meneruskan pengembaraan bibirku ke bagian dada Teh Imas yang kausnya sudah dibuka. Segera ketika kudapatkan teteknya yang besar aku pun menghisap dan mempermainkan pentilnya dengan bibirku. Teh Imas menjerit tertahan sambil mengelinjang kegelian campur nikmat. Aaaaawwww …… Massssss ……. Terus …… jangan biarkan saya menderita Maaaassss ……. Aku sangat menginginkan kontolmuuuuuu ……., sambil tangannya tidak henti-hentinya mempermainkan kontolku. Sambil tetap mengulum dan menghisap teteknya aku pun melepaskan celana panjang dan cd Teh Imas sambil perlahan-lahan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Aku pun menempelkan kontolku serta menggesek-gesekkannya pada permukaan memek Teh Imas yang ditumbuhi oleh bulu yang lebat. Nampaknya Teh Imas sudah tidak sabar ingin segera merasakan kenikmatan kontolku; ia berusaha memasukkan kontolku ke dalam memeknya dengan jalan menggoyang-goyangkan pantatnya sambil mengarahkan lubang memeknya yang sudah basah kepada kontolku. Namun aku sengaja menahannya tidak memasukkan kontolku tersebut ke dalam memeknya karena aku ingin tahu sampai sejauh mana nafsu wanita yang seksi ini. Aku malah mempermainkan memeknya dengan tanganku, kuusap-usap klitorisnya dengan jariku.

Dipermainkan begitu Teh Imas semakin hebat menggelinjang, pantatnya tidak berhenti bergoyang, sementara bibirnya semakin ramai mendesah dan meracau sssshhhhh …… ssssshhhhhhh …….. shhhhhhhh …….. Maaassssssss …….. aku sudah tidak tahan Maaaassssss …… cepat masukkan kontolmuuuuuu ……. Massssss …….. aku bisa gila Maaasssss …….. ingin cepat merasakan kontolmuuuu, sudah lama aku menginginkan diewe olehmu Massssss …… Nafasnya semakin memburu. Kulihat matanya membeliak, dan yang tampak hanya bagian putihnya saja. Melihat nafsunya yang sudah demikian memuncak aku pun merasa iba sehingga secara perlahan-lahan kumasukkan kontolku ke dalam lubang memeknya, ketika sudah masuk separohnya kucabut kontolku, untuk dimasukkan kembali separohnya. Demikianlah kulakukan berulang-ulang. Teh Imas matanya setengah terpejam sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan desahan seperti orang yang kepedasan karena makan sambal sambil pinggulnya tidak berhenti bergoyang dan berputar yang menambah kenikmatan kontolku. Sssssshhhhh …….. ssssshhhhhtttt …….. ssssshhhhhh …….. ssssshhhhh …….. Ketika kuhunjamkan seluruh kontolku ke dalam memeknya Teh Imas pun menjerit tertahan sambil wajahnya mendongak aaaaaaaaaawwwwwww ……….. Melihat lehernya terbuka aku pun menciumi lehernya, tapi aku membairkan kontolku tertanam di dalam memek Teh Imas tanpa memajumundurkan atau menggerakkannya. Teh Imas nampak kesal, dan ia memintaku untuk memajumundurkan kontolku. “Jangan didiamkan dong kontolmu Masss …… kurang nikmat, nanti aku imbangin permainan kontolmu dengan goyang jaipongku”. Memang kebetulan Teh Imas pandai menari jaipong yang seksi itu.

Permainan kami sudah berlangsung 30 menit, berbagai posisi telah kami coba dan Teh Imas selalu menuruti posisi yang aku minta dan kelihatannya ia sangat menyukai setiap posisi tersebut, terlebih-lebih ketika aku memintanya untuk menungging dan aku hunjamkan kontolku dari belakang sehingga terasa betul bahwa seluruh kontolku ditelan oleh memeknya. Ia sudah mengalami orgasme sebanyak lima kali dan terlihat sudah kelelahan. Maka akupun memberi isyarat kepadanya bahwa aku pun akan mengeluarkan maniku di dalam memeknya, ia pun menyetujuinya dan menghendaki untuk keluar bersama-sama. Dalam keadaan bugil kami pun berpelukan tanpa menghiraukan keringat kami yang bercucuran. Teh Imas pun bercerita bahwa suaminya terlalu kuno dalam bermain cinta, tidak lihai membangkitkan gairah istri, sehingga Teh Imas sering merasa malas meladeninya, di samping ukuran kontolnya yang kecil dan pendek serta tidak tahan lama. Kebetulan aku pun mengalami masalah yang sama, istriku terlalu kuno dalam bercinta, tidak mau bereksperimen, hal itu membuat aku kadang-kadang merasa jenuh. Tanpa terasa kami pun tertidur sambil berpelukan.

Ketika aku terbangun kulihat Teh Imas masih tertidur lelap dalam keadaan telanjang. Posisinya sangat menggairahkan, kedua kakinya tertekuk agak mengangkang sehingga terlihat memeknya yang berwarna merah kehitam-hitaman agak merekah. Melihat pemandangan itu kontan saja kontolku ngaceng kembali tapi aku tidak segera memasukkan kontolku tersebut ke dalam memek Teh Imas, melainkan secara pelan-pelan mendekatkan bibirku ke arah memek tersebut. Aku ingin memberi pengalaman baru yang mengasyikkan kepada Teh Imas. Segera saja kudaratkan bibirku ke memek Teh Imas tanpa menghiraukan bau yang keluar dari lubang kenikmatan tersebut dan juga tanpa menghiraukan bekas-bekas mani yang masih menempel. Kujulurkan lidahku untuk mengorek-ngorek lubang memek tersebut sambil sesekali kuhisap dan kupermainkan klitorisnya dengan lidahku. Teh Imas belum terbangun tapi pantatnya bergoyang-goyang dan terangkat sambil mengerang-erang, kelihatannya karena geli dan nikmat. Mungkin ia sedang bermimpi nikmat. Ketika tidak berapa lama kemudian Teh Imas terbangun ia melihat bahwa aku sedang bermain-main di seputar memeknya, ia pun menjambak rambutku dan membenamkan kepalaku ke memeknya, pahanya segera menjepit erat kepalaku dan kakinya ditumpangkannya di pundakku. Badannya menggelepar-gelepar, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tangannya menjambak rambutku dan menekan kepalaku agar lebih keras mempermainkan memeknya. Sepertinya kalau bisa ia ingin membenamkan seluruh kepalaku ke dalam lubang memeknya. Aku pun semakin agresif memberi kenikmatan kepada memek Teh Imas yang tidak henti-hentinya menggelinjang sambil mengerang. Aaaahhhhh ……. Sssssshhhhhh …….. sssssshhhhhhh ……. Adddddduuuuuuuuhhhh …… Massssssssssssssss ………. Pandai nian Massss memberi kenikmatan padaku, aku rela diperlakukan bagaimana pun asal nikmaat bagikuuuuuuuuuu ……., telan saja memekku Maaaaassss …….

Aku pun melanjutkan permainan bibirku ke bagian atas. Aku menjilati pusarnya, terus naik lagi semakin ke atas dan segera kutemukan tetek Teh Imas yang menjadi pavoritku, aku senang berlama-lama mempermainkan serta menghisapnya. Teh Imas semakin liar gerakan tubuhnya, menggelinjang ke sama kemari. Mulutnya tidak henti-hentinya meracau mengeluarkan desahan serta kata-kata yang jorok menyebabkan aku semakin terangsang. Maaaasssssssss ……… cepet dooooong masukkan kontolmuuuuuuuu ….. jangan siksa aku Maaaasssssss ……… ooooooohhhhhhhh nikmatnyaaaaaa ……… aku ingin segera naik ke surga duniaaaaaa ……… Masssssss …… Aku merasa iba mendengar rintihan serta ratapannya, di samping aku pun memang sudah tidak tahan.

Aku segera menghunjamkan kontolku keras-keras ke dalam memek Teh Imas, ia seperti tersedak, nafasnya seolah-olah terhenti sejenak, kemudian terdengarlah erangannya yang semakin meningkatkan nafsu birahiku. Aku pun tidak berhenti memajumundurkan kontolku, sehingga terdengar bunyi seperti suara langkah kaki orang yang berlari-lari di tempat yang becek, cek cek cek cek cek ditimpali suara beradunya pahaku dengan paha Teh Imas yang mengeluarkan suara plok plok plok. Suara-suara tersebut dipadukan dengan suara rintihan serta erangan yang keluar dari mulutku dan mulut Teh Imas. Ah, nikmat benar ngeweeeeeeeeee dengan Teh Imas! Tidak berhenti sampai di situ, kami pun berguling-guling untuk menambah variasi permainan, kadang aku di atas kadang di bawah. Ketika aku berada di atas kendali permainan ada pada diriku, tapi ketika aku berada di bawah maka Teh Imaslah yang mengendalikan permainan, dengan liar ia menaikturunkan serta memajumundurkan pantatnya sementara aku mengimbanginya dari bawah. Teh Imas tidak henti-hentinya memuji kelihaianku dalam memuaskan dirinya. Maaaasssss ……. Pandai benar engkau memuaskan diriku ……. Masssss andaikata engkau suamiku tentu aku akan memintamu mengewe diriku setiap saat …… Maaaaaassssss ……… aduuuuuuuhhhh ………. Nikmaaaaatttttt ……. Sssshhhhhhhh ………… Shhhhhhhhhhh ……… kontooooooooollllllll. Massssssss …….. rendamlah kontolmu di dalam memekku selama mungkiiiiiiiinnnnn aaaaaaaaawwwwww ……… ssssshhhhhhhhh. Aku pun mengimbangi pujiannya dengan memuji pula. Teeeeeeehhhhhhhh ………. Sudah kuduga pasti memekmu enaaaaaaaakkkkkkkkk ……… sssshhhhhhhh………. Setelah berlangsung cukup lama aku merasa ada sesuatu yang mendesak-desak di dalam kontolku ingin keluar, Teh Imas pun nampaknya mengejang, maka aku mengajak agar mencapai orgasme secara bersama-sama, teh Imas mengangguk. Terjadilah kontraksi pada diri kami berdua sejenak kemudian memancarlah air maniku di dalam memek Teh Imas, diiringi oleh jeritan tertahan dari kami berdua. Awwwwwww …….. aduuuuuuuh ……. Masssssss ……… Teeeeeeehhhhhhh …….. Kami pun terkulai lemas, tubuh Teh Imas menindih tubuhku, tangannya memeluk erat tubuhku dengan mesra.

Ketika hari menjelang sore kami berdua mandi bersama-sama karena hendak melanjutkan perjalanan ke kota tujuan. Kami saling menyabuni tubuh kami masing-masing dan di dalam kamar mandi itu terjadilah lagi persetubuhan dengan gaya dan posisi yang benar-benar baru bagi Teh Imas. Ia sendiri mengakui bahwa pengalaman ngewe bersamaku di hotel itu merupakan pengalamannya yang baru dalam bersetubuh dan membawa kenikmatan yang luar biasa baginya.

Setelah selesai mandi sambil ngewe kami pun cek-out dari hotel tersebut dan melanjutkan perjalanan ke kota tujuan kami. Tapi berbeda dengan ketika kami baru berangkat dari rumah kami suasana di perjalanan sekarang jauh lebih santai lebih menyenangkan. Aku dipaksa untuk melepaskan cd-ku oleh Teh Imas agar ia leluasa mempermainkan kontolku, dan kadang-kadang mengulumnya. Perlu diketahui bahwa setelah keluar dari hotel aku mengenakan sarung sedangkan Teh Imas mengenakan rok. Bukan satu dua kali aku harus meminggirkan mobilku yang kukemudikan di tempat yang sepi karena merasa tidak tahan dengan kenikmatan yang diberikan oleh Teh Imas kepada kontolku. Kebetulan sepanjang perjalanan kami banyak melewati hutan jati. Bila sudah demikian Teh Imas pun meminta kepadaku untuk menjilat dan menyedot itilnya karena ia pun tidak memakai cd. Aaaah …… Teh Immmmaaaaasss, betapa nikmatnya itilmu seperti yang selama ini aku bayangkan.

Sesampai di kota yang dituju kami pun berpisah karena rumah orang tuaku dan rumah adiknya berjauhan sekaligus untuk menghilangkan jejak. Sebelum berpisah kami sama-sama berjanji untuk merahasiakan peristiwa nikmat ini dan sekaligus juga berjanji untuk melakukannya lagi pada waktu yang lain bila keadaan memungkinkan. Aaaahhhhh …… Teh Imaaaaaasssssss ……. Aku selalu merindukan memekmu ………. Kapankah kontolku bisa menembus dan mengaduk-aduk lagi memekmu? Aku pun yakin bahwa perasaanmu juga sama. Teh Imas ewean lagi yu? Aku ingin mengewemu setiap saat. Semoga Teh Imas membaca cerita ini dan menyambut keinginanku ini.

Bagiku sekarang rumput di halaman tetangga itu bukan saja “lebih hijau” namun juga “lebih nikmat”. Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhh ……………………