Cerita Mesum Ngentotin Cut Tari Bersama Ariel

Di sebuah kamar kos yang terlihat cukup lebar, seorang gadis cantik nampak sedang terduduk di atas ranjang. Tangan kanannya nampak sedang meraba-raba vaginanya sendiri yang permukaannya tertutupi oleh bulu-bulu tipis berwarna hitam. Memang saat ini bagian bawah tubuh gadis tersebut tidak tertutup apapun lagi, karena celana pendek coklat maupun celana dalam putih polos yang semula dikenakannya kini tergeletak di sampingnya. Sedangkan tangan kiri gadis tersebut juga terlihat sibuk memilin-milin sendiri puting payudara kirinya. Tubuh atas gadis tersebut memang saat ini masih terbalut kaos ketat berwarna kuning, namun posisi bra putih yang dikenakakannya kini sudah bergeser dari posisinya semula.

Gadis cantik itu bernama Cut Tari. Ia berumur 19 tahun dan baru saja menginjak semester 3 di salah satu perguruan tinggi yang cukup bonafit di kota tersebut. Saat ini Cut Tari memang sedang dilanda birahi karena memang sebentar lagi dirinya akan mendekati masa menstruasi. Masa-masa seperti ini bagi seorang gadis seperti Cut Tari memang menjadi saat dimana libido sedang tinggi-tingginya, apalagi ketika menonton video bokep Ariel - Cut Tari. Sebagai seorang jomblo, tentunya Cut Tari tidak memiliki pasangan yang bisa ia ajak menyalurkan hasrat birahinya. Maka dari itu masturbasi pun menjadi satu-satunya cara yang paling efektif sebagai penyaluran birahinya saat ini.

Kedua mata Cut Tari nampak terpejam mencoba untuk menghayati rabaan demi rabaan yang ia lakukan sendiri pada tubuhnya. Sesekali desahan kecil terdengar dari mulut gadis cantik tersebut, ketika rabaannya menyentuh puting dan klitorisnya sendiri. Namun ketika semua usahanya ini hampir memperoleh” hasil”, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan pintu kamar kos Cut Tari.

“Tok… tok… tok…!”.

“Sial!”, runtuk Cut Tari di dalam hati. “Kenapa mesti di saat seperti ini ada tamu yang datang ke kosannya, benar-benar sial!”, runtuk gadis itu lagi.

“Tok… tok… tok…! Sha…!!”, suara ketokan di pintu kenbali terdengar, kini ditambah dengan suara teriakan seorang gadis.

“Sebentar…!”, teriak Cut Tari.

Dengan segera gadis cantik tersebut mengancingkan kembali kaitan branya dan mengenakan celana dalamnya.

“Ya, sebentar!”, teriak Cut Tari lagi sambil merapikan posisi celana pendek dan kaosnya.

Setelah merapikan pakaian dan sedikit mengusap-usap wajahnya di depan cermin yang terlihat sedikit memerah akibat menahan nafsu, gadis itu pun kemudian membuka pintu.

“Haii… lama amat sih bukanya?”, di depan pintu berdiri seorang gadis yang tak kalah cantik jika dibandingkan dengan Cut Tari. Gadis itu seumuran dengan Cut Tari dan merupakan temen satu kampusnya. Gadis itu bernama Luna Maya.

“Eh iya, sorry tadi lagi di kamar mandi sih”, Cut Tari mencoba menutupi aktifitas yang tadi ia lakukan di dalam kamar.

Ternyata Luna Maya tidak sendiri. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berwajah tampan. Rambut laki-laki itu tercukur rapi. Dari penampilannya terlihat ia cukup perlente. Mungkin ia adalah pacar Luna Maya, pikir Cut Tari dalam hati.

“O iya, ini Ariel cowok gue”, Luna Maya memperkenalkan laki-laki yang berada di belakangnya tersebut.

“Ariel”, laki-laki itu kemudian menyodorkan tangan kanannya.

Cut Tari pun membalasnya, “Cut Tari”. Kedua tangan mereka pun saling berjabatan tangan.

“Kok tumben nih? Ada apa Vi?”, tanya Cut Tari kepada sahabatnya.

“Gue mau ngomong bentar ama lu dong”.

Cut Tari mengerutkan keningnya.

“Riel, lu tunggu di sini aja dulu ya”, Luna Maya berucap ke arah laki-laki tersebut. Laki-laki itu pun hanya mengangguk.

Lalu Luna Maya menarik tangan Cut Tari untuk masuk ke dalam kamar kosnya. Di dalam mereka duduk di atas ranjang.

“Ada apa sih Vi?”, Cut Tari kembali mengulangi pertanyaannya.

Luna Maya menetakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, menandakan agar Cut Tari menurunkan volume suaranya. Ia pun kemudian berbisik, “Gini Sha, gue mau pinjem kamar lu bentar dong”.

“Ah? Buat apa?”, bisik Cut Tari penuh kecurigaan.

“Gue mau gituan ama cowok gue”, Luna Maya berkata sambil memberikan isyarat tangan dengan memasukkan ibu jarinya diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Cut Tari benar-benar tersentak melihat isyarat tangan sahabatnya tersebut. Tanda tersebut sering ia lihat setiap kali Luna Maya ingin menyamarkan kata “making love”. Bukan tanda itu yang mengejutkan Cut Tari, karena ia tahu benar kalau memang sahabatnya ini sudah sering melakukan perbuatan terlarang tersebut dengan pacar-pacarnya. Yang membuatnya terkejut adalah kenapa ia memilih kamar kosnya ini untuk berbuat mesum.

“Gila lu ya? Nggak boleh!”, bentak Cut Tari sambil tetap berbisik.

“Please Sha, gue udah nggak tahan nih, memiaw gue udah basah banget”.

“Ngapain lu nggak cari hotel aja?”.

“Nggak sempet, ntar lagi cowok gue musti ke bandara, ini juga sama sekali nggak direncanain kok tiba-tiba dateng gitu aja waktu dia grepein gue di bioskop”.

“Aduh gimana ya?”, sebenarnya Cut Tari ingin mengatakan tidak, namun melihat ekspresi wajah Luna Maya yang begitu memelas ia pun menjadi bingung harus memberi jawaban apa.

“Please Sha, cowok gue cuma sehari ini aja bisa transit di sini, ntar malem dia musti keluar kota lagi jadi waktu gue ama dia cuma bentar banget nih”.

“Kalau ntar ada yang liat gimana? Kan gue malu juga tiba-tiba di kamar kos gue ada cowoknya?”, tempat kos Cut Tari ini memang hanya menerima penghuni kos wanita, sehingga aturan tentang menerima tamu laki-laki memang diatur sedikit ketat.

“Sepi gini kok? Lagian gue nggak bakal lama kok, sueeer!!!”, Luna Maya mengacungkan jari tengah dan jadi telunjuknya bersamaan.

Cut Tari tambah bingung mendengar kata-kata sahabatnya ini.

“Lu tu bener-bener gila tau nggak?”, ucap Cut Tari masih tetap berbisik.

“Please Sha, please…”.

Cut Tari kembali mengerutkan keningnya, menandakan kebingungan yang sedang melanda dirinya saat ini.

“Please Sha”, kembali Luna Maya memelas.

“I… iya deh”, ucap Cut Tari ragu. Ia sendiri tidak tahu kenapa kata-kata persetujuan tersebut bisa keluar dari mulutnya.

“Thanks Sha, lu emang temen gue yang paling baik”.

Luna Maya langsung memonyongkan bibirnya hendak mencium sahabatnya ini, namun dengan segera Cut Tari menghentikan perbuatannya tersebut. “Horny sih horny, tapi lu jangan sosor gue kayak gitu dong!”.

“Hehehe… sorry abis kalo lagi horny gue emang suka lupa diri sih”.

“Trus gue musti kemana dong?”, Cut Tari kembali bingung. Tentu saja ia harus bingung, karena jika kamarnya sedang “dipakai” oleh sahabatnya ini tentunya ia tidak bisa berada di tempat yang sama juga bersama mereka.

“Lu kemana kek, makan kek, nonton kek, nih gue kasi lu ongkos deh”.

Luna Maya mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya. Gadis cantik ini memang tergolong cukup beruntung untuk bidang keuangan. Memiliki orang tua seorang pengusaha sukses tentunya membuat isi dompetnya hampir tidak pernah kosong, bahkan kalau tidak boleh dibilang berlebih.

“Hhhmm… kemana ya?”.

Cut Tari nampak mengerutkan dahinya.

Melihat sahabatnya belum juga beranjak dari tempatnya, langsung saja Luna Maya mengajukan protes, “Udah ah lu pikirin sambil jalan aja! Dah kebelet nih!”.

“Eh… iya… iya…”, Cut Tari langsung beranjak dari atas ranjang, disusul kemudian oleh Luna Maya.

Mereka berdua kemudian melangkah menuju pintu.

“Ya udah kalo gitu gue keluar bentar ya Vi”, Cut Tari melambaikan tangan ke arah sahabatnya yang kini terlihat berdiri di depan pintu kamar kosnya.

“OK, ati-ati ya Sha”, Luna Maya melempar sebuah senyum penuh makna, yang mana hanya mereka berdua yang mengerti.

Sebelum beranjak, Cut Tari melempar senyum kecil juga ke arah laki-laki yang diakui sebagai pacar oleh sahabatnya tersebut. Laki-laki itu pun kemudian membalas dengan senyuman kecil pula. Lalu Cut Tari berjalan menuju tempat parkir dimana semua sepeda motor para penghuni kos terparkir

Setelah tiba di samping sepeda motornya, sekilas gadis cantik itu menengok kembali ke arah kamar kosnya. Tidak terlihat lagi Luna Maya dan cowoknya disana. Bahkan kini pintu kamar kosnya sudah tertutup rapat. Luna Maya memang pernah bercerita tentang cowok barunya, namun ia belum bertemu dengan pacar baru sahabatnya tersebut secara langsung. Apakah cowok ini yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut? Ia sama sekali tidak tahu.

Hampir beberapa menit Cut Tari berdiri disamping sepeda motornya. Mengetahui kalau saat ini mungkin sahabatnya sedang bercinta di dalam kamar kosnya, justru membuat gairah di dalam dirinya yang tadi sempat muncul kini kembali bergejolak. Tak terasa vaginanya kembali berdenyut-denyut dan payudaranya terasa mengeras seperti yang ia alami beberapa menit yang lalu ketika melakukan masturbasi. Tiba-tiba di saat itu pula di dalam otak gadis cantik itu terbersit sebuah ide gila untuk mengintip kegiatan sahabatnya tersebut di dalam kamar. Tidak etis memang mengintip sahabat sendiri yang sedang bercinta, namun gejolak nafsu Cut Tari yang sudah tidak bisa tertahan lagi menghilangkan semua pikiran waras di dalam otaknya.

“Sha, lu nggak boleh ngelakuin itu, itu sama aja lu itu mempermalukan sahabat lu sendiri!”, suara kata hati malaikat di dalam diri Cut Tari berteriak-teriak di telinga kanannya.

“Halah… liat dikit emang kenapa? Itu juga kan kamar lu Sha? Siapa suruh ngent*t di kamar orang!”, di saat yang sama suara kata hati iblis di dalam dirinya pun juga tidak mau kalah terdengar menggema di telinga kirinya.

“Tetep nggak boleh Sha, lu harus menghargai privasi orang dong!”.

“Tai kucing tuh privasi! Sedeng asyik ngent*t gitu paling juga mereka nggak bakal sadar lu intipin Sha!”.

“Nggak boleh!”.

“Boleh!”.

Nggak bisa!”.

“Bisa!”.

Suara hati malaikat dan iblis kini terus menggema di dalam kepada Cut Tari, seakan-akan mencoba memberikan “nasehat” jalan terbaik yang harus ia lakukan saat ini.

“Udah… udah… udah… pada bisa diem nggak sih?”, Cut Tari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berteriak di dalam batinnya. Kepalanya terasa mau pecah mendengar kata hatinya sendiri yang terus berteriak-teriak di dalam kepalanya secara bergantian. Setelah suara-suara itu tidak terdengar lagi di kepalanya, Cut Tari menarik nafasnya panjang dan berdiam diri sesaat. Akhirnya gadis cantik itu pun memilih untuk mengendap-endap menuju kamar kosnya sendiri. Saat ini sisi iblis Cut Tari pastilah sedang tertawa lantang penuh kemenangan.

Jika saja ada yang melihat Cut Tari sedang berjalan mengendap-endap menuju kamar kosnya sendiri seperti saat ini, tentu akan menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan. Bersyukur sore ini tempat kos Cut Tari nampak begitu sepi, karena memang diakhir pekan rata-rata penghuni kos kembali ke rumah mereka masing-masing untuk bersua dengan keluarga. Sedangkan untuk penghuni kos yang tidak kembali ke rumah seperti Cut Tari kini sebagian besar sedang melaksanakan aktifitas mereka masing-masing di luar kosan. Cut Tari sendiri masih berada di kosannya karena kebetulan siang tadi ia harus mengambil kuliah tambahan sehingga akhirnya memilih tetap tinggal di kosan.

Di depan jendela kamarnya, Cut Tari mencoba mencari celah yang terbuka diantara tirai yang tertutup. Memang ada sedikit celah yang tersisa, namun tidak cukup lebar untuk bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Beberapa kali dari dalam kamar terdengar tawa cekikikan kecil dan suara desahan manja. Suara tawa itu pastilah suara Luna Maya bersama pacarnya. Cut Tari masih terus berusha mendongak-dongakkan kepalanya di depan jendela, sampai tiba-tiba…
“Duaar!!!”, tirai penutup jendela tersebut tersibak dan muncullah wajah Luna Maya dari balik jendela.

Wajah Cut Tari langsung terlihat merah padam karena ketahuan mengintip.

Belum hilang rasa terkejut Cut Tari, dengan santainya Luna Maya menutup kembali tirai tersebut dan kemudian gadis cantik itu keluar dari kamar dengan tubuh hanya berbalut handuk hijau milik Cut Tari.

“Daripada lu ngintipin gue, mending lu gabung aja”.

Cut Tari begitu tersentak mendengar kata-kata sahabatnya tersebut. Saat ini ia merasa seperti tersambar petir puluhan ribu volt.

“Vi, nggak! Jangan!”, Cut Tari berusaha bertahan ketika Luna Maya menarik tangan kanannya untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar.

“Udah… hayo!”.

“Nggak Vi!”.

“Hayo dong…!”, Luna Maya terus memaksa.

Setelah cukup lama saling menarik tangan masing-masing akhirnya Cut Tari pun tidak kuat lagi melawan tarikan sahabatnya itu. Ia pun tertarik masuk ke dalam kamar.

“Aaakkhh…!”, begitu masuk ke dalam kamar Cut Tari langsung berteriak dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.

Bagaimana tidak berteriak. Di atas ranjangnya kini terlihat seorang laki-laki sedang terduduk santai dengan hanya mengenakan kaos tanpa tambahan apapun lagi sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. Di bagian selangkangan laki-laki tersebut mengacung tegak sebuah batang yang berukuran sangat besar.

“Halah, gaya lu tu kayak baru pertama kali aja ngeliat tongkol hehe…”, Luna Maya dengan santainya berkata seronok kepada sahabatnya tersebut setelah menutup pintu kamar.

Wajah Cut Tari semakin memerah mendengar kata-kata Luna Maya tersebut. Memang benar apa yang dikatakan sahabatnya ini, karena penis bukanlah hal asing bagi mereka berdua. Namun dalam hal ini jelas berbeda. Laki-laki yang kini terbaring di ranjangnya jelas-jelas baru saat ini ia jumpai untuk pertama kalinya. Tentu akan sangat aneh apabila tiba-tiba saja di saat itu juga ia harus melihat penis laki-laki yang baru saja ia kenal tersebut.

Luna Maya dengan santainya berjalan mendekati ranjang kemudian naik ke atasnya. Ia lalu mencium bibir laki-laki tersebut sambil memeluknya.

“Riel, Cut Tari mau gabung bareng kita nih, boleh ya?”.

Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, “Boleh kok”.

Luna Maya membalas dengan senyuman pula. Dikecupnya sekali lagi bibir pacarnya tersebut, kemudian beranjak turun dari ranjang dan kembali mendekati Cut Tari. Cut Tari sendiri masih terlihat berdiri mematung dengan ekspresi penuh kehampaan.

“”Ayo dong!”, kembali Luna Maya menyeret tangan Cut Tari mendekat menuju ranjang.

“Nggak Vi, gue nggak mau”.

“Halah, jangan malu-malu gitu ah! Norak tau…”.

“Nggak Vi, bener gue nggak bisa”, Cut Tari terus berusaha bertahan.

Luna Maya pun akhirnya hanya melengos dan melepaskan tangan Cut Tari setelah tidak mampu memaksa kembali sahabatnya tersebut untuk mendekati ranjang.

“Ya udah, kalo gitu lu disini aja”.

Luna Maya kembali berjalan menuju ranjang. Sebelum naik ke atas ranjang ia melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. Terlihatlah kini tubuh sintal itu hanya terbalut celana dalam putih beraksen garis-garis pink. Rupanya sebelum memergoki Cut Tari tadi, mereka berdua sudah sempat melepaskan beberapa lembar pakaian yang mereka kenakan. Pakaian-pakaian tersebut kini ada yang tergeletak di atas ranjang ataupun di lantai kamar. Gadis cantik itu lalu merangkak naik ke atas ranjang dan kembali memeluk tubuh pacarnya.

“Lanjut yuk!”.

Mereka berdua pun berciuman panas sambil beradu lidah. Tangan Ariel pun dengan cekatan meremas-remas payudara montok Luna Maya. Keduanya begitu menikmati percumbuan mereka seolah-olah di dalam kamar hanya ada mereka berdua, tanpa memperdulikan kehadiran Cut Tari di sana. Tak hanya meremas, kini puting payudara kanan Luna Maya sudah berada sepenuhnya di dalam kuluman Ariel. Luna Maya pun akhirnya terpaksa remas-remas sendiri payudara kirinya karena tangan Ariel saat ini sibuk mengobok-obok selangkangannya yang masih tertutupi celana dalam. Selangkangan yang sebelumnya telah basah itu pun kini nampak semakin basah.

“Aaahh… oooh…”, Luna Maya sengaja mendesah sesensual mungkin sambil menatap ke arah Cut Tari yang masih berdiri di dekat pintu. “Ooohh… aaah…”, kini Luna Maya memasang ekspresi wajah penuh kenikmatan seolah-olah menikmati betul kuluman di payudaranya dan permainan tangan Ariel di selangkangannya. Luna Maya tersenyum kecil ketika melihat Cut Tari yang sudah mulai nampak berdiri gelisah sambil menggesek-gesekkan kedua pahanya.

“Ntar Riel, gue mau ngelepas CD dulu nih”.

Ariel pun menghentikan remasan tangannya, namun tidak kuluman mulutnya.

“Udah dong, berhenti bentar aja”, Luna Maya berusaha melepaskan kuluman Ariel di payudaranya yang sudah terlihat dipenuhi beberapa bercak-bercak merah.

Ariel pun menurut, namun bukan berarti payudara montok itu bisa terbebas begitu saja. Di saat Luna Maya berusaha melorotkan celana dalam yang dikenakannya, remasan tangan kanan Ariel masih tetap bertengger di gundukan daging kenyal tersebut.

“Udah!”, ucap Luna Maya setelah meletakkan kain mungil penutup selangkannya tersebut di sampingnya. Gadis cantik itu pun kini yang ganti angresif memeluk tubuh Ariel dan mencium bibir laki-laki tersebut dengan ganas. Tak hanya itu kini jari-jari mungil Luna Maya juga secara bersamaan dengan telaten mengocok-ocok batang penis Ariel yang telah menegang.

Luna Maya memang sengaja mengatur posisi tubuhnya agar menghadap ke arah Cut Tari. Sambil berciuman dan bermain lidah, Luna Maya tetap intens sesekali melirik ke arah sahabatnya tersebut. Kini Cut Tari sudah tidak mampu lagi menutupi gairah birahi yang menyerangnya akibat melihat live show yang terjadi di hadapannya. Tangan Cut Tari mulai bergerak merabai dadanya sendiri, sambil tetap menggesek-gesekkan kedua pahanya. Senyum Luna Maya pun semakin lebar karena berhasil memancing gairah Cut Tari.

“Riel, lu ML ama Cut Tari dulu ya, ntar baru ama gue”, bisik Luna Maya di telinga pacarnya.

“Dia kan tadi udah nggak mau Vi?”, sahut Ariel ditengah remasan tangannya di payudara pacarnya tersebut.

“Udah, ntar gue yang ngatur deh”.

“Emang lu nggak cemburu Vi, gue ML ama temen lu?”.

“Nggaklah, kan gue yang nyuruh, lagian itung-itung sekalian gue ngasi bonus ke lu juga ke Cut Tari”.

“OK deh, asal lu nggak apa-apa aja”.

Luna Maya pun membuka kaos Ariel sehingga kini mereka berdua pun telah benar-benar dalam keadaan telanjang. Kemudian setelah mencium bibir pacarnya tersebut, Luna Maya pun beranjak turun dari ranjang dan kembali menghampiri Cut Tari. Ariel sendiri terlihat mengambil posisi terbaring santai di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.

“Sha, ayo dong kita bareng yuk”.

“Nggak Vi”, kembali Cut Tari menolak.

“Ayo dong, gue tau lu sekarang udah horny kan?”, desak Luna Maya lagi.

“Gue malu Vi”.

“Napa musti malu? Kan ada gue disini?”.

“Iya sih…”.

“Sha, gue tau lu udah lama banget nggak ML sejak lu putus ama cowok lu, gue cuma mau bantu lu nyalurin birahi lu”.

“Tapi itu kan cowok lu Vi?”.

“Halah, lu nggak enak ama gue? Kan gue yang nyuruh lu? Cowok gue juga asyik-asyik aja kok, lagian kucing mana sih yang nolak kalo di kasi ikan? Hehe”.

Cut Tari tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang dikatakan Luna Maya tadi memang benar adanya. Sudah hampir setahun ia tidak lagi bisa merasakan hangatnya persetubuhan. Apalagi kini mendekati tanggal-tanggal krusial menjelang menstruasi, dimana gairah dan hormon kewanitaannya mulai memuncak tak terkendali. Ingin sekali rasanya ia melepaskan semua beban birahi di dalam dirinya ini dengan bercinta bersama seorang laki-laki. Tapi kalau dia harus menyalurkannya dengan cara bersetubuh bersama pacar sahabat baiknya sendiri, hal ini tentu sesuatu yang benar-benar di luar akal sehat. Namun di sisi lain, bukankah justru sahabat baiknya inilah yang memintanya untuk melakukan persetubuhan? Jadi siapakah sebenarnya yang gila dalam hal ini?

“Ayo Sha…”, Luna Maya menarik tangan Cut Tari dan kali ini gadis cantik itu nampak tidak melakukan perlawanan lagi.

Ketika kedua gadis itu berdiri di pinggir ranjang, Ariel hanya tersenyum kecil ke arah Cut Tari. Di dalam hati kecilnya, laki-laki tersebut cukup mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh Cut Tari. Dalam hal ini tentu ia sangat mensyukuri karena bisa memacari Luna Maya yang memiliki fantasi sensual yang liar, sehingga sebentar lagi mungkin ia akan segera bisa menikmati tubuh sahabat pacarnya ini tanpa perlu melakukan perselingkuhan di belakang pacarnya.

“Riel, lu rangsang dikit Cut Tari gih!”.

Ariel pun berdiri dan mendekati Cut Tari. Tubuh Cut Tari terlihat bergetar ketika seorang laki-laki dalam keadaan telanjang bulat kini berlahan mendekatinya. Cut Tari sempat melirik nakal ke arah batang penis Ariel. Batang tegang itu terlihat sangat besar untuk membuatnya bergidik dan membuat selangkangannya terasa senut-senut. Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang akan menyerangnya jika batang besar itu harus masuk ke dalam dirinya.

“Vi…”, Cut Tari memegang tangan sahabatnya, ketika Ariel semakin mendekat.

“Udah, anggep aja Ariel itu cowok lu”.

“Tapi Vi…”, belum sempat Cut Tari melanjutkan kata-katanya Ariel sudah keburu memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya.

Cut Tari pun gelagapan dibuatnya, walaupun ia sama sekali tidak menolak bibir Ariel yang kini terus menyerang bibirnya. Awalnya Cut Tari terlihat kikuk, namun beberapa saat kemudian ia pun mulai membalas pagutan bibir Ariel. Apalagi ketika kemudian gadis cantik itu merasakan sentuhan lembur Luna Maya di pundaknya, Cut Tari pun tidak malu lagi membalas permainan lidah Ariel di mulutnya. Cut Tari yang memang sejak semula telah terbakar nafsu birahi membuat Ariel tidak perlu terlalu bekerja keras untuk membangkitkan sisi liar gadis cantik tersebut.

Luna Maya sendiri kini masih berdiri di belakang Cut Tari sambil meremas-remas payudara sahabatnya tersebut dari balik kaos. Kemudian dengan cekatan kedua tangan gadis tersebut masuk ke dalam kaos Cut Tari. Berlahan jari-jari Luna Maya bergerak membuka kaitan bra berwarna putih tanpa renda yang dikenakan sahabatnya. Kini remasan tangan Luna Maya pun dapat langsung merasakan kelembutan dan kekenyalan payudara Cut Tari.

Diserang dari dua arah seperti ini membuat Cut Tari kian melambung. “Aaah… oooh…!”, cuma lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut gadis cantik tersebut, ditengah lumatan bibir Ariel.

Saking terbelenggunya oleh nafsu membuat Cut Tari sama sekali tidak melawan ketika Ariel menggiringnya berbaring di ranjang. Bahkan saking terbuainya oleh cumbuan pacar sahabatnya tersebut, Cut Tari sama sekali tidak menyadari kalau kini tubuh atasnya saat ini sudah sama sekali tidak tertutup apapun. Luna Maya melemparkan kaos berikut dengan bra milik Cut Tari sehingga kedua potong pakaian tersebut kini tergeletak di lantai. Hal ini membuat Ariel menjadi leluasa mengulum dan menghisap kedua payudara milik Cut Tari. Payudara gadis cantik itu memang tidaklah terlalu besar, tidak sebesar milik Luna Maya, namun ukurannya pas untuk tubuhnya yang berukuran cukup mungil.

Ketika kedua payudara Cut Tari kini sepenuhnya berada di dalam “kekuasaan” Ariel, maka bibir lembut gadis cantik itu pun kini berganti menjadi milik Luna Maya. Kedua gadis cantik tersebut terlihat begitu eksotis ketika saling mengulum, menjilat dan bertukar air liur. Mereka berdua sesungguhnya bukanlah lesbian, namun desakan birahi yang kini menguasai kedua gadis tersebut membuat mereka lupa kalau mereka sesungguhnya adalah makhluk sejenis.

Ketika kedua gadis itu terlihat asyik saling kulum dan saling jilat, di bawah sana ciuman Ariel sudah merambat turun sampai ke perut Cut Tari yang rata. Sambil tetap mencium pusar Cut Tari, kedua tangan laki-laki tersebut terlihat memegang ujung celana pendek gadis cantik tersebut. Sesaat kemudian celana pendek itu telah melorot turun dan akhirnya terlepas. Ariel kemudian menciumi kedua paha mulus Cut Tari dan akhirnya ciuman tersebut bermuara di celana dalam putih gadis tersebut yang sudah terasa basah. Kain mungil tipis menerawang itulah yang kini hanya menjadi pembatas antara lidah Ariel dengan vagina Cut Tari.

“Hhhmm… hhmm…!”, hanya itu yang keluar dari mulut Cut Tari yang kini sedang dicumbui oleh Luna Maya. Gadis cantik itu harus beberapa kali menggerakkan pantatnya menahan geli akibat permainan lidah Ariel yang beberapa kali menyentuh klitorisnya. Ini berarti celana dalam Cut Tari sudah berhasil dienyahkan oleh laki-laki tersebut.

Cut Tari benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bibir dan payudaranya terus menerus dipermainkan oleh Luna Maya, sementara di saat yang bersamaan vagina dan klitorisnya jura terus dipermainkan oleh Ariel. Terasa sekali kalau di bawah sana sudah semakin basah dan becek, sedangkan payudara dan putingnya sendiri terasa demikian menegang. Permukaan kasar lidah Ariel begitu nikmat dirasakan Cut Tari ketika menari-menari bebas diantara bulu-bulu tipis basah yang ada disana. Saat ini gadis cantik itu sudah benar-benar melayang akibat gelora nafsu birahinya sendiri.

Melihat Cut Tari yang sudah siap tempur, Ariel lalu menghentikan jilatannya. Laki-laki itu beranjak dari posisinya samping mengocok-ngocok batang penisnya sendiri yang sudah semakin menegang. Laki-laki itu merasa batang penisnya belum cukup tegang untuk memberikan kenikmatan kepada dua orang gadis yang bersamanya saat ini. Ia pun menyuruh Luna Maya menghentika ciuman bibirnya dan lalu mengarahkan batang penisnya ke dalam mulut Cut Tari yang masih terbaring pasrah. Kini batang penis tersebut udah terkocok keluar masuk ke dalam mulut mungil Cut Tari. Cut Tari nampak cukup gelagapan menerima kocokan penis besar Ariel di dalam mulutnya. Ujung penis laki-laki tersebut terasa beberapa kali menyentuh kerongkongannya. Karena takut tersedak, gadis cantik itu pun memilih untuk mengganti posisinya menjadi terduduk.

Posisi ketiga insan yang sedang dimabuk birahi itu pun berganti. Kini Ariel duduk di ujung ranjang, dimana batang penisnya nampak sedang dijilati oleh dua orang gadis cantik. Ariel saat ini benar-benar merasa seperti seorang raja yang sedang dilayani dengan penuh cinta oleh selir-selirnya. Ketika batang penis itu amblas ke dalam mulut Cut Tari, Luna Maya pun kemudian mencium bibir Ariel sambil merabai dada bidang pacarnya tersebut. Cukup lama keduanya saling lumat, sebelum ciuman Luna Maya mulai turun ke leher dan dada Ariel. Lalu Luna Maya pun menyorongkan payudara kanannya ke mulut Ariel untuk dilumatnya. Ariel pun dengan senang hati melumat dan menjilati payudara montok milik pacarnya tersebut. Memang payudara Luna Maya lebih besar ukurannya dibandingkan milik Cut Tari, namun kedua payudara gadis cantik tersebut sama-sama memiliki daya tarik mereka sendiri.

“Aaah…!”, Luna Maya mendesah pelan ketika Ariel sedikit menggigit puting payudaranya, setelah pacarnya tersebut kembali membuat beberapa cupangan dipemukaan daging montok tersebut.

Kini terlihat kedua gadis itu telah berganti posisi. Kini Luna Maya yang nampak mengulum batang penis Ariel sedangkan Cut Tari bergantian mencumbu bibir dan dada Ariel. Laki-laki tersebut benar-benar tidak percaya kalau Cut Tari ternyata begitu liar ketika terbakar birahi. Jika dilihat sekilas tadi, dari segi penampilan luar semula Ariel melihat Cut Tari seperti seorang gadis lugu dan polos. Sama sekali tidak terlintas di benaknya tadi kalau gadis cantik, sahabat pacarnya ini pernah memiliki pengalaman bercinta sebelumnya. Namun kini Ariel begitu terbuai dengan permainan Cut Tari yang tak kalah menggairahkan dengan permainan cinta pacarnya, Luna Maya.

“Ooohh… ooohh…”, Ariel hanya bisa mendesah penuh kenikmatan mendapatkan pelayanan dari kedua gadis cantik tersebut.

“Riel, mulai masukin ya? Udah tegang banget nih”, Luna Maya menghentikan kuluman dan kemudian memelas ke pacarnya untuk mulai melakukan penetrasi.

“OK deh, siapa duluan nih?”.

“Cut Tari aja deh”.

Cut Tari sama sekali tidak berkomentar mendengar percakapan pasangan kekasih tersebut. Yang dia tahu saat ini dirinya memang sangat ingin segera disetubuhi, entah duluan atau belakangan sama sekali tidak masalah baginya.

Ariel pun menuruti kata-kata pacarnya. Laki-laki itu pun membaringkan tubuh Cut Tari di ranjang dan kemudian membuka kedua paha gadis tersebut lebar-lebar. Sejenak Ariel menelan ludah. Di hadapannya kini terpampang indah sebuah vagina gadis muda yang begitu mempesona. Entah berapa penis yang pernah memasuki lubang kenikmatan tersebut, Ariel sama sekali tidak ambil pusing. Yang jelas sebentar lagi batang penisnya akan bisa menikmati vagina ranum milik sahabat pacarnya tersebut. Wajah Cut Tari terlihat memerah karena malu melihat tatapan nanar Ariel ke arah vaginanya.

Tak sabaran merasakan nikmatnya vagina Cut Tari, dengan segera Ariel menghujamkan batang penisnya ke dalam lubang kenikmatan tersebut.

“Aaaahhh…!!”, baik Ariel maupun Cut Tari memiawik penuh kenikmatan.

Ariel merasakan sensasi kenikmatan yang dasyat ketika memasukkan batang penisnya ke dalam vagina Cut Tari. Memasukkan penis ke dalam vagina seorang gadis yang belum pernah kita setubuhi sebelumnya memang selalu membawa sensasi tersendiri. Begitu pula dengan Cut Tari, yang memang sudah sekian lama tidak dapat lagi merasakan hujaman penis di dalam vaginanya. Lesakan penis Ariel terasa seperti siraman air ditengah kegersangan hidupnya selama ini. Ariel pun tak membuang-membuang waktu untuk secepatnya menghujam-hujamkan batang penisnya. Batang penis Ariel mengocok vagina Cut Tari dengan kencang, sedangkan Reisaha sendiri terlihat begitu menikmati kocokan tersebut.

Luna Maya yang harus menunggu giliran untuk disetubuhi, terlihat mencium bibir Cut Tari yang kini terguncang-guncang hebat. Luna Maya juga meraba-raba payudara Cut Tari yang nampak terguncang tak kalah hebat.

“Gimana Sha? Enak?”, bisik Luna Maya nakal di telinga sahabatnya.

“Aaah… e… enak Vi”, ucap Cut Tari gemetar.

“Nikmat kan tongkol cowok gue? Hehe”.

“I… iya”.

Luna Maya tersenyum kecil mendengar kata-kata Cut Tari. Gadis itu pun lalu melumat payudara Cut Tari sambil tangannya merabai klitoris sahabatnya, membantu Ariel yang semakin gencar menghujam-hujamkan batang penisnya.

“Vi lu nunging gih, giliran lu yang gue ent*t sekarang”.

Luna Maya pun menurut. Ia lalu mengambil posisi nunging di samping Cut Tari yang terbaring terlentang. Ariel lalu mencabut batang penisnya dari dalam vagina Cut Tari dan ganti memasukkannya ke dalam vagina pacarnya.

“Aaakkhh…!”, Luna Maya melenguh kencang. Gadis itu memejamkan matanya sambil meremas erat sprei.

Batang penis Ariel yang langsung menghujam kencang ke dalam vaginanya cukup memberikan rasa sakit yang luar biasa. Tapi di satu sisi sensasi yang ditimbulkan antara campuran rasa sakit dan kenikmatan justru semakin membangkitkan birahinya. Lubang kenikmatan yang semula sempat mengering, kini mulai basah kembali dialiri cairan cinta. Ditengah genjotan Ariel, Luna Maya menggigit bibirnya. Gadis itu begitu merindukan genjotan penis besar pacarnya ini. Hampir dua minggu lamanya mereka harus berpisah karena Ariel harus tugas ke luar daerah. Kali ini pun mereka hanya bisa bertemu sehari sebelum malam nanti Ariel harus berangkat kembali ke tempat tugasnya.

Ketika Luna Maya mendapat giliran disetubuhi, Cut Tari giliran merabai tubuh Luna Maya. Payudara, paha, pinggang dan bagian-bagian tubuh sensitif lainnya secara bergiliran menerima rabaan dan sentuhan Cut Tari. Bahkan tidak hanya menyentuh, Cut Tari juga menciumi dan menjilati sekujur tubuh Luna Maya, guna membantu sahabatnya ini menikmati persetubuhan yang kini ia lakukan bersama pacarnya.

“Giliran lu lagi Sha”, ucap Ariel ditengah genjotannya di vagina Luna Maya.

Seperti layaknya Luna Maya tadi, Cut Tari pun begitu saja menuruti kata-kata Ariel. Apakah ini bertanda kalau kedua gadis cantik tersebut telah sepenuhnya ditaklukkan oleh Ariel dengan kocokan penis besar dan panjangnya? Mungkin saja, karena kedua gadis cantik itu terlihat bak budak seks yang sedang melayani majikannya. Kini Cut Tari pun menungging di samping Luna Maya, seakan-akan menyerahkan sepenuhnya vaginanya untuk pacar sahabatnya tersebut. Ariel meremas-remas pantat sekal Cut Tari sebelum melepaskan penisnya dari dalam vagina Luna Maya.

“Aaakhh…”, kini penis Ariel kembali menghujam-hujam kencang ke dalam vagina Cut Tari.

Luna Maya pun kembali mencium bibir Ariel sambil merabai lembut tubuh pacarnya tersebut. Ariel pun harus membagi konsentrasi antara menggenjoti vagina Cut Tari dengan permainan lidah Luna Maya di dalam mulutnya. Keduanya memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagi Ariel.

Gaya doggie ini tidak berlangsung lama karena Luna Maya menyuruh Cut Tari untuk mengambil posisi woman on top. Kini Ariel berbaring di atas ranjang, dimana Cut Tari berada di atas tubuhnya dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Hal ini membuat batang penis Ariel yang menancap di dalam vagina Cut Tari terasa terjepit dengan kencang. Posisi seperti ini memudahkan Luna Maya untuk bergantian mengulum bibir Ariel maupun Cut Tari. Tak hanya bibir mereka, Luna Maya juga bergantian menjilati dada keduanya. Sambil bergoyang kini Cut Tari pun harus membagi konsentrasi antara kuluman bibir Luna Maya dan remasan tangan Ariel di kedua payudaranya.

“Hhhmm… hhmmm… hhhmmm…”, desahan tertahan keluar dari kedua mulut gadis cantik tersebut yang kini terlihat masih berciuman panas. Sedangkan Ariel ditengah dera rasa nikmat akibat jepitan vagina Cut Tari, terlihat begitu kagum melihat pemandangan dua gadis cantik yang kini sedang bercumbu ria di hadapannya. Sungguh fenomena yang sangat eksotis dan indah.

Ketika tiba giliran kembali untuk berganti posisi, Luna Maya pun agaknya memilih untuk menggunakan gaya woman on top juga. Begitu batang penis tersebut terlepas dari vagina Cut Tari, Luna Maya langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Cairan cinta Cut Tari begitu terasa di lidahnya ketika Luna Maya mengulum dan mengocok batang penis Ariel dengan mulutnya. Sedangkan Cut Tari hanya meremas-remas pantat sekal Luna Maya.

Kemudian Luna Maya mengambil posisi mengangkang diatas tubuh pacarnya. Sejenak gadis manis itu mengatur posisi penis Ariel, agar pas ketika terhujam nanti. Setelah merasa pas Luna Maya pun menurunkan tubuhnya dan batang penis itu pun menghujam kencang masuk ke dalam duburnya. Luna Maya memang tidak mengarahkan batang penis Ariel ke dalam vaginanya, namun ke dalam duburnya. Rupanya gadis cantik itu ingin memberikan pelayanan anal seks untuk pacarnya.

“Oooohh…!!!”, Ariel berteriak merasakan penisnya melesak masuk ke dalam pantat pacarnya tersebut. Jepitan dubur memang berbeda dengan jepitan vagina. Sensasi yang ditimbulkannya pun jauh berbeda. Sebuah variasi yang luar biasa dalam percintaan mereka saat ini.

“Aaaahh… aaahh…”, Luna Maya dan Ariel sama-sama mendesah, berteriak dan melenguh secara bergantian. Mereka seakan-akan lupa kalau mereka kini sedang bercinta di kosan Cut Tari, dimana kemungkinan ada penghuni kos yang akan mendengar teriakan mereka.

Cut Tari sendiri kini nampak meraba-raba vagina dan klitoris Luna Maya. Sejenak ia membasahkan tangan kanannya dengan liur kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya mengobok-obok vagina Luna Maya. Vagina Luna Maya memang saat ini sedang menganggur karena yang sedang sibuk menerima genjotan penis Ariel adalah duburnya. Sedangkan Ariel yang terlihat begitu menikmati aksi Luna Maya yang terlihat turun naik di atas tubuhnya, kini sibuk pula memainkan vagina Cut Tari yang juga menganggur dengan jari-jarinya. Beberapa kali jari-jari tangan Ariel menghujam-hujam masuk ke dalam lubang vagina Cut Tari, sehingga membuat pemiliknya juga mendesah-desah penuh kenikmatan.

Menerima genjotan penis di duburnya serta permainan jari-jari Cut Tari di vagina dan klitorisnya, membuat Luna Maya terlihat segera akan mencapai klimaks. Dan benar saja tak lama kemudian Luna Maya melenguh kencang, menandakan pencapaian puncak permainan. “Aaaakkhh…!!!”, lenguh Luna Maya sambil mendongakkan kepala dan memejamkan matanya.

Luna Maya pun mencabut batang penis Ariel dari dalam vaginanya dan sejenak berbaring di ranjang menikmati sensasi kenikmatan yang baru saja menderanya. Kesempatan ini digunakan Ariel untuk kembali menghujamkan batang penisnya ke dalam vagina Cut Tari. Laki-laki itu pun membaringkan Cut Tari di ranjang dan dengan segera mengocok kembali lubang kenikmatan milik gadis cantik tersebut. Kini Ariel nampak semakin kesetanan mengocok vagina Cut Tari, karena ia ingin betul-betul menikmati saat-saat dimana ia bisa menyetubuhi sahabat pacarnya ini mumpung dirinya masih memiliki kesempatan. Vagina Cut Tari seolah-olah menjadi selingan yang begitu indah, diantara persetubuhan yang biasa ia lakukan bersama Luna Maya, pacarnya.

“Aaaahh…. Ahhh…”.

“Oooohh… ooohh…”.

“Sha… memiaw lu nikmat banget!”, rancau Ariel.

“tongkol lu juga enak Riel”, balas Cut Tari.

Luna Maya yang saat ini sudah pulih dari deraan birahinya dan nampak memeluk serta merabai tubuh Ariel, cukup merasa cemburu mendengar kata-kata pacarnya tadi. Namun Luna Maya segera mengusir jauh-jauh perasaan tersebut, karena baik pacar maupun sahabatnya ini kini sedang dilanda birahi menjelang klimaks sehingga wajar kalau mereka mengeluarkan kata-kata yang seronok.

“Riel… gue keluar… aaakkhh…!!!”.

Tubuh Cut Tari nampak mengejang. Ini adalah klimaks pertamanya sejak putus dengan pacar lamanya beberapa bulan yang lalu. Klimaks yang sangat dinanti-nantinya. Klimaks yang terasa jauh lebih nikmat daripada saat ia mencapai klimaks karena melakukan masturbasi.

Ariel pun mencabut batang penisnya dan membiarkan Cut Tari terbaring di ranjang menikmati momen puncaknya. Ariel yang kini berdiri di atas ranjang lalu memandang sayu ke arah Luna Maya yang sebelumnya telah mencapai klimaks terlebih dahulu. Luna Maya pun mengerti makna tatapan pacarnya tersebut. Ia pun kemudian bersimpuh dihadapan Ariel dan mulai memasukkan batang penis Ariel ke dalam mulutnya. Luna Maya pun dengan telaten mengocok-ngocok penis Ariel dengan mulut dan jari-jari lentiknya. Ariel yang sebelumnya memang sudah hampir sampai di ujung klimaks, benar-benar menikmati kuluman pacarnya tersebut.

“Vi, gue keluar nih!”.

Luna Maya pun melepaskan kulumannya dan hanya melakukan kocokan tangan pada batang penis Ariel. Kocokan tangan Luna Maya nampak semakin kencang ketika Ariel mulai memejamkan matanya.

“Aaaahh…!!!”.

“Crroooot… crooot… crooot…”, beberapa kali cairan sperma muncrat dari ujung penis Ariel. Cairan putih kental itu pun ditampung oleh Luna Maya di dalam mulutnya.

Setelah semprotan terakhir keluar, mulut Luna Maya sudah dipenuhi oleh cairan sperma pacarnya. Gadis cantik itu pun kemudian menelan cairan tersebut sampai tetes terakhir. Lalu dengan telaten Luna Maya kembali mengulum batang penis pacarnya tersebut. Ia pun menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel pada ujung kepala batang kokoh yang kini mulai mengendur tersebut dan menelannya.

“Thanks ya Vi”, Ariel ikut bersimpuh dan mendaratkan ciuman mesra bibir Luna Maya.

Luna Maya pun hanya tersenyum kecil.

“Gimana enak? Hehe…”, goda Luna Maya.

“Enak banget!”, ucap Ariel mantap.

Kemudian Ariel menatap ke arah Cut Tari yang masih tergolek telanjang di atas ranjang. Ia hanya tersenyum melihat tubuh indah gadis cantik yang baru saja ia nikmati kehangatannya tersebut. Kembali rasa cemburu mengalir di dalam hati Luna Maya melihat tatapan nanar pacarnya terhadap tubuh sahabatnya. Dengan segera ia mengambil selimut dan menutup tubuh telanjang Cut Tari. Seolah mengerti maksud yang tersirat dari tindakan pacarnya, Ariel pun kemudian mengajak Luna Maya turun dari ranjang. Ia lalu memeluk mesra tubuh telanjang pacarnya tersebut dan kemudian mencium bibirnya mesra. Keduanya pun cukup lama saling mengulum bibir masing-masing.

“Kita langsung cabut yuk”.

“Musti sekarang ya?”.

“Iya nih, klo nggak ntar terlambat lagi”.

“Hhhm… masih kangen!”, ucap Luna Maya manja.

“Kan cuma 3 hari lagi, abis itu gue nggak perlu keluar kota deh, OK?”.

“OK deh”.

“Cium lagi dong”.

Keduanya kembali berciuman mesra. Setelah itu Ariel pun mengenakan kembali pakaiannya sedangkan Luna Maya sendiri hanya membalutkan handuk milik Cut Tari guna menutupi ketelanjangan tubuhnya.

“Lo lu kok nggak pake pakaian? Kan gue harus nganter lu pulang dulu”, ucap Ariel heran.

Luna Maya menggeleng. “Nggak usah deh, biar ntar gue pulang dianter Cut Tari aja, kasihan ntar lu telat lagi kalo pake nganterin gue dulu”.

Sekilas Luna Maya melirik ke arah Cut Tari yang masih terbaring di ranjang. Entah Cut Tari saat ini tertidur akibat kelelahan atau pura-pura tidur karena tak ingin menganggu dirinya bersama Ariel. Luna Maya sama sekali tidak tahu.

“Ya udah kalo gitu, gue langsung cabut ya”.

“OK deh, ati-ati di jalan ya”.

“Ntar begitu landing gue telpon lu deh”.

“OK!”.

Lalu Luna Maya mengantar Ariel sampai di depan pintu. Di luar suasana sudah terlihat gelap, tidak seperti saat mereka berdua datang tadi. Rupanya mereka bertiga cukup lama bermain cinta di dalam kamar. Mereka kembali berciuman sampai akhirnya Luna Maya melambaikan tangannya melepas kepergian Ariel. Luna Maya lalu menutup pintu kamar kos tersebut. Gadis cantik itu lalu beranjak menuju ranjang dan duduk di pinggirnya.

“Sha, lu tidur?”, Luna Maya menyibak rambut Cut Tari yang menutupi wajahnya.

Cut Tari hanya menggeleng dari balik selimut.

“Kok dari tadi lu diem aja sih?”.

“Gue malu Vi”.

“Halah, kayaknya tadi kita udah ngebahas masalah ini deh”.

“Iya, tapi tetep aja gue malu”.

“Ya udah gini aja deh, kalo ntar lu udah punya cowok lagi, lu bagi juga ama gue jadi kita impas, gimana? Hehe”.

“Dasar! Gila lu ya!”.

Keduanya pun tertawa cekikikan.

“Udah ah, pake baju gih, trus anterin gue cari makan, gue laper banget nih!”.

Lalu kedua gadis cantik itu pun membersihkan diri dan mengenakan pakaian mereka kembali. Entah apa yang sebenarnya melintas di otak Luna Maya ketika mengajak Cut Tari melakukan threesome dengan pacarnya, namun yang jelas semua pihak yang terlibat kini merasa bahagia. Luna Maya bisa melepaskan kangen dengan pacarnya Ariel sekaligus memberikan “bonus” ekstra. Begitu pula dengan Cut Tari yang “dahaga”-nya yang sudah lama tertahan akhirnya bisa tertuntaskan dengan sempurna. Apa yang terjadi nanti biarlah terjadi, yang penting kegilaan ini bisa membawa kenikmatan yang luar biasa bagi mereka semua.

Tamat.