Ngentot Dewi Teman Istriku

Kejadiannya ketika aku sdh berkeluarga dan sudah memiliki 1 anak umur ±2 thn, usiaku kala itu 30 thn. Kami baru pindah ke sebuah kompleks perumahan di kota S yg masih sangat baru. Belum banyak penghuni yg menempatinya, malahan di gang rumahku (yg terdiri dari 12 rumah) baru 2 rumah yg ditempati, yaitu rumahku dan rumah Hendra. Hendra juga sudah beristri, namanya Dewi, tapi biasa dipanggil Dewi. Mereka belum punya anak sekalipun sudah menikah lebih dari 2 thn. Rumah Hendra hanya berjarak 2 rumah dari rumahku. Karena tidak ada tetangga yang lain, kami jadi cepat sekali akrab.

Aku dan Hendra jadi seperti teman lama, kebetulan kami seumuran dan hobi kami sama, ngentot. Dewi, yang berumur 26 thn, juga sangat dekat dgn istriku, Maria. Mereka hampir tiap hari saling curhat tentang apa saja, dan soal seks juga sering mereka perbincangkan. Biasa mereka berbincang di teras depan rumahku kalau sore sambil Maria menyuapi Aria, anak kami. Mereka sama sekali tidak tahu kalau aku sering “menguping” rumpian mereka dari kamarku.

Aku jadi banyak tahu tentang kehidupan seks Dewi dan suaminya. Intinya Dewi kurang “happy” soal urusan ranjang ini dgn Hendra. Bukannya Hendra ada kelainan, tapi dia senangnya tembak langsung tanpa pemanasan dahulu, sangat konservatif tanpa variasi dan sangat egois. Begitu sudah ejakulasi ya sudah, dia tidak peduli dgn istrinya lagi. Sehingga Dewi sangat jarang mencapai kepuasan dgn Hendra. Sebaliknya istriku cerita ke Dewi kalau dia sangat “happy” dgn kehidupan seksnya. Dan memang, sekalipun aku bukan termasuk “pejantan tangguh”, tapi aku hampir selalu bisa memberikan kepuasan kepada istriku. Mereka saling berbagi cerita dan kadang sangat mendetail malah. Sering Dewi secara terbuka menyatakan iri pada istriku dan hanya ditanggapi dgn tawa ter-kekeh2 oleh Maria.

Wajah Dewi cukup mesum, sekalipun tidak semesum istriku memang, tapi bodinya sungguh sempurna, padat berisi. Kulitnya yang putih juga sangat mulus. Dan dalam berpakaian Dewi termasuk wanita yang “berani” sekalipun masih dalam batas2 kesopanan. Sering aku secara tak sadar menelan ludah mengaggumi tubuh Dewi, diluar tahu istriku tentu saja. Sayang sekali tubuh yang demikian menggiurkan jarang mendapat siraman kepuasan seksual, sering aku berpikiran kotor begitu. Tapi semuanya masih bisa aku tangkal dgn akal sehatku.

Jum’at petang itu kebetulan aku sendirian di rumah. Maria, dan Aria tentu saja, paginya pulang ke rumah orangtuanya di M, karena hari Minggunya adik bungsunya menikah. Rencananya Sabtu pagi akan akan menyusul ke M. Kesepian di rumah sendirian, setelah mandi aku melangkahkan kaki ke rumah Hendra. Maksud hati ingin mengajak dia main ngentot, seperti yang sering kami lakukan kalau tidak ada kegiatan.

Rumah Hendra sepi2 saja. Aku hampir mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu, karena aku pikir mereka sedang pergi. Tapi lamat2 aku dengar ada suara TV. Aku ketuk pintu sambil memanggil “Hendra .. Hendra,” Beberapa saat kemudian terdengar suara gerendel dan pintu terbuka.

Aku sempat termangu sepersekian detik. Di depanku berdiri sesosok perempuan mesum tanpa make-up dgn rambut yang masih basah tergerai sebahu. Dia mengenakan daster batik mini warna hijau tua dgn belahan dada rendah, tanpa lengan yang memeperlihatkan pundak dan lengan yang putih dan sangat mulus.

“Eh .. Mas Rudy. Masuk Mas,” sapaan ramah Dewi menyadarkan aku bahwa yang membukakan pintu adalah Dewi. Sungguh aku belum pernah melihat Dewi semesum ini. Biasanya rambutnya selalu diikat dengan ikat rambut, tak pernah dibiarkan tergerai seperti ini.

“Nnng … Hendra mana Lin?”
“Wah Mas Hendra luar kota Mas.”
“TumRud Lin dia tugas luar kota. Kapan pulang?”
“Iya Mas, kebetulan ada acara promosi di Y, jadi dia harus ikut, sampai Minggu baru pulang. Mas Rudy ada perlu ama Mas Hendra?”
“Enggak kok, cuman pengin ngajak ngentot aja. Lagi kesepian nih, Maria ama Aria ke M.”
“Wah kalo cuman main ngentot ama Dewi aja Mas.”

Sebetulnya aku sudah ingin menolak dan balik kanan pulang ke rumah. Tapi entah bisikan darimana yang membuat aku berani mengatakan: “Emang Dewi bisa ngentot?”

“Eit jangan menghina Mas, biar Dewi cewek belum tentu kalah lho ama Mas.” kata Dewi sambil tersenyum yang menambah manis wajahnya.

“Ya bolehlah, aku pengin menjajal Dewi,” kataku dgn nada agak nakal.

Lagi2 Dewi tersenyum menjawab godaanku. Dia membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan aku duduk di kursi tamu.

“SeRudtar ya Mas, Dewi ambil minuman. Mas susun dulu ngentotnya.”

Dewi melenggang ke ruang tengah. Aku semakin leluasa memperhatikannya dari belakang. Kain daster yang longgar itu ternyata tak mampu memnyembunyikan lekuk tubuh Dewi yang begitu padat. Goyangan kedua puncak pantatnya yg berisi tampak jelas ketika Dewi melangkah. Mataku terus melekat sampai Dewi menghilang di pintu dapur. Buru2 aku ambil ngentot dari rak pajangan dan aku susun di atas meja tamu.

Pas ketika aku selesai menyusun biji ngentot, Dewi melangkah sambil membawa baki yang berisi 2 cangkir teh dan sepiring kacang goreng kegemaran aku dan Hendra kalau lagi main ngentot. Ketika Dewi membungkuk meletakkan baki di meja, mau tak mau belahan dada dasterya terbuka dan menyingkap dua bukit payudara yang putih dan sangat padat. Darahku berdesir kencang, ternyata Dewi tidak memakai bra! Tampaknya Dewi tak sadar kalau sudah “mentraktir” aku dgn pemandangan yang menggiurkan itu. Dgn wajar di duduk di kursi sofa di seberang meja.

“Siapa jalan duluan Mas?”
“Dewi kan putih, ya jalan duluan dong,” kataku sambil masih ber-debar2.

Beberapa saat kami mulai asik menggerakkan buah ngentot. Ternyata memang Rudar, Dewi cukup menguasai permaian ini. Beberapa kali langkah Dewi membuat aku harus berpikir keras. Dewi pun tampakya kerepotan dgn langkah2ku. Beberapa kali dia tampak memutar otak. Tanpa sadar kadang2 dia membungkuk di atas meja yg rendah itu dgn kedua tangannya bertumpu di pinggir meja. Posisi ini tentu saja membuat belahan dasternya terbuka lebar dan kedua payudaranya yang aduhai itu menjadi santapan empuk kedua mataku. Konsentrasiku mulai buyar.

Satu dua kali dalam posisi seperti itu Dewi mengerling kepadaku dan memergoki aku sedang menikmati buah dadanya. Entah memang dia begitu tenggelam dalam berpikir atau memang sengaja, dia sama sekali tidak mencoba menutup dasternya dgn tangannya, seperti layaknya reaksi seorang wanita dalam kondisi ini. Aku semakin berani menjelajah sekitar wilayah dadanya dengan sapuan pandanganku. Aku betul2 terpesona, sehingga permaian ngentotku jadi kacau dan dgn mudah ditaklukkan oleh Dewi.

“Cckk cckk cckk Dewi memang hebat, aku ngaku kalah deh.”
“Ah dasar Mas aja yang ngalah dan nggak serius mainnya. Konsentrasi dong Mas,” jawab Dewi sambil tersenyum menggoda. “Ayo main lagi, Dewi belum puas nih.” Ada sedikit nada genit di suara Dewi.

Kami main lagi, tapi kali ini aku mencoba lebih konsentrasi. Permainan berjalan lbh seru, sehingga suatu saat ketika sedang berpikir, tanpa sengaja tanganku menjatuhkan biji ngentot yg sudah “mati” ke lantai. Dengan mata masih menatap papan ngentot aku mencoba mengambil biji ngentot tsb dari lantai dgn tangan kananku. Rupa2nya Dewi juga melakukan hal yg sama, sehingga tanpa sengaja tangan kami saling bersenggolan di lantai.

Entah siapa yang memulainya, tapi kami saling meremas lembut jari tangan di sisi meja sambil masih duduk di kursi masing2. Aku melihat ke arah Dewi, dia masih dalam posisi duduk membungkuk tapi matanya terpejam. Jari2 tangan kirinya masih terus meremas jari tangan kananku. Aku menjulurkan kepalaku dan mencium dahi Dewi dgn sangat mesra.

Dia sedikit terperanjat dengan “langkah”ku ini, tapi hanya sepersekian detik saja. Matanya masih memejam dan bibirnya yg padat sedikit terbuka dan melenguh pelan,

“oooohhh …”

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kulum lembut bibir Dewi dengan bibirku, dia menyambutnya dgn mengulum balik bibirku sambil tangan kanannya melingkar di belakang leherku.

Kami saling berciuman dgn posisi duduk berseberangan dibatasi oleh meja. Kulumam bibir Dewi ke bibirku berubah menjadi lumatan. Bibirku disedot pelan, dan lidahnya mulai menyeberang ke mulutku. Aku pun menyambutnya dgn permainan lidahku.

Merasa tidak nyaman dalam posisi ini, dgn sangat terpaksa aku lepaskan ciuman Dewi. Aku bangkit berdiri, berjalan mengitari meja dan duduk di sisi kiri Dewi. Belum sedetik aku duduk Dewi sudah memeluk aku dan bibirnya yg kelihatan jadi lebih sensual kembali melumat kedua bibirku. Lidahnya terus menjelajah seluruh isi mulutku sepanjang yg bisa dia lakukan. Aku pun tak mau kalah bereaksi. Harus aku akui bahwa aku belum pernah berciuman begini “hot”, bahkan dgn istriku sekalipun. Rasanya seumur hidup kami berciuman begini, sampai akhirnya Dewi agak mengendorkan “serangan”nya.

Kesempatan itu aku gunakan untuk mengubah arah seranganku. Aku ciumi sisi kiri leher Dewi yang putih jenjang merangsang itu. Rintih kegelian yg keluar dari mulut Dewi dan bau sabun yg harum semakin memompa semangatku. Ciumanku aku geser ke belakang telinga Dewi, sambil sesekali menggigit lembut cuping telinganya. Dewi semakin menggelinjang penuh kegelian bercampur kenikmatan.

“Aaaahhhh … aaaahhhhh,” rintihan pelan yang keluar dari mulut Dewi yang terbuka lebar seakan musik nan merdu di telingaku.

Lengan kananku kemudian aku rangkulkan ke lehar Dewi. Tangan kananku mulai menelusup di balik dasternya dan merayap pelan menuju puncak buah dada Dewi yg sebelah kanan. Wow … payudara Dewi, yang sedari tadi aku nikmati dgn sapuan mataku, ternyata sangat padat. Rudtuknya sempurna, ukurannya cukup besar karena tanganku tak mampu mengangkup seluruhnya. Jari2ku mulai menari di sekitar puting susu Dewi yang sudah tegak menantang.

Dengan ibu jari dan telunjukku aku pelintir lembut puting yang mungil itu. Dewi kembali menggelinjang kegelian, namun tanpa reaksi penolakan sedikitpun. Dia menolehkan wajahnya ke kiri, dgn mata yang masih terpejam dia melumat bibirku. Kami kembali berciuman dgn panasnya sambil tanganku terus bergerilya di payudara kanannya. Reaksi kenikmatan Dewi dia salurkan melalui ciuman yg semakin ganas dan sesekali gigitan lembut di bibirku.

Tangan kiriku aku gerakkan ke paha kiri Dewi. Darahku semakin mengalir deras ketika aku rasakan kelembutan kulit paha mulus Dewi. Lambat namun pasti, usapan tanganku aku arahkan semakin keatas mendekati pangkal pahanya. Ketika jariku mulai menyentuh celana dalam Dewi di sekitar bukit kebirahiannya, aku menghentikan gerakanku. Tangan kiriku aku kembali turunkan, aku usap lembut pahanya mulai dari atas lutut. Gerakan ini aku ulang beberapa kali sambil tangan kananku masih memelintir puting kanan Dewi dan mulut kami masih saling berpagutan.

Ciuman Dewi semakin mengganas pertanda dia mengharapkan lebih dari gerakan tangan kiriku. Aku pun mulai meraba bukit kebirahiannya yang masih terbalut celana dalam itu. Entah hanya perasaanku atau memang demikian, aku rasakan denyut lembut dari alat kebirahian Dewi. Dengan jari tengah tangan kiriku, aku tekan pelan tepat di tengah bukit nan empuk itu. Denyutan itu semakin terasa. Aku juga rasakan kehangatan disana.

“Aaahh … Mas Rud … aahhh .. iya .. iya,”

Dewi melenguh sambil sedikit meronta dan kedua tangannnya menyingkap daster mininya serta menurunkan celana dalamnya sampai ke lututnya. Serta merta mataku bisa menatap leluasa kebirahian Dewi. Bukitnya menyembul indah, bulu2nya cukup tebal sekalipun tidak panjang bergerombol hanya di bagian atas. Di antara kedua gundukan daging mulus itu terlihat celah sempit yang kentara sekali berwarna merah kecoklatan. Sedetik dua detik aku sempat terpana dengan pemandangan indah yg terhampar di depan mataku ini.

Kemudian jari2 tangan kiriku mulai membelai semak2 yg terasa sangat lembut itu. Betul2 lembut bulu2 Dewi, aku tak pernah mambayangkan ada bulu pubis selembut ini, hampir selembut rambut bayi. Dewi mereaksi belaianku dengan menciumi leher dan telinga kananku. Kedua tangannya semakin erat memeluk aku. Tangan kananku dari tadi tak berhenti me-remas2 buah dada Dewi yang sangat berisi itu.

Jari2ku mulai mengusap lembut bukit kebirahian Dewi yang sangat halus itu. Perlahan aku sisipkan jari tengah kiriku di celah sempit itu. Aku rasakan sediit lembab dan agak berlendir. Aku menyusup lebih dalam lagi sampai aku menemukan klitoris Dewi yg sangat mungil dengan ujung jariku. Dgn gerakan memutar lembut aku usap Rudda kecil yang nikmat itu.

“Ahhhh … iya … Mas .. Rud … ahhhh .. ahhhh.”

Jari tengahku aku tekan sedikit lebih kuat ke klitoris Dewi, sambil aku gosokkan naik turun. Dewi meresponsnya dengan membuka lebar kedua pahanyan, namun gerakannya terhalang celana dalam yg masih bertengger di kedua lututnya. Sejenak aku hentikan gosokan jariku, aku gunakan tangan kiriku untuk menurunkan Rudda yang menghalangi gerakan Dewi itu. Dewi membantu dgn mengangkat kaki kirinya sehingga celana dalamnya terlepas dari kaki kirinya. Sekarang Rudda itu hanya menggantung di lutut kanan Dewi dan gerankan Dewi sudah tak terhalang lagi.

Dgn leluasa Dewi membuka lebar kedua pahanya. Dari sudut pandang yang sangat sempit aku masih bisa mengintip bibir kebirahian Dewi yang begitu tebal merangsang, hampir sama tebal dan sensualnya dgn bibir atas Dewi yang masih menciumi leherku. Jariku sekarang leluasa menjelajah seluruh kebirahian Dewi yang sudah sangat licin berlendir itu.

Aku gosok2 klitoris Dewi dgn lebih kuat sambil sesekali mengusap ujung liang kenikmatannya dan aku gesek keatas kearah klitorisnya. Aku tahu ini bagian yang sangat sensitif dari tubuh wanita, tak terkecuali wanita molek yg di sampingku ini. Dewi menggelinjang semakin hebat.

“Aaaaaahhhhh …. Mas .. Mas ….. ahhhhh .. terus … ahhhhh,” pintanya sambil merintih.

Intensitas gosokanku semakin aku tingkatkan. Aku mulai mengorek bagian luar lubang senggama Dewi.

“Iya … ahhh … iya .. Mas .. Mas .. Mas Rud.”

Dewi sudah lupa apa yang harus dia lakukan. Dia hanya tergolek bersandar di sofa yang empuk itu. Kepalanya terdongak kebelakang, matanya tertutup rapat. Mulutnya terbuka lebar sambil tak henti mengeluarkan erangan penuh kenikmatan. Tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya tak lagi memelukku. Tangan kananku pun sudah berhenti bekerja karena merangkul erat Dewi agar dia tidak melorot ke bawah. Daster Dewi sudah terbuka sampai ke perutnya, menyingkap kulit yang sangat putih mulus tak bercacat. Celana dalam Dewi masih menggantung di lutut kanannya. Pahanya menganngkang maksimal.

Jariku masih menari-nari di seluruh bagian luar kebirahian Dewi, yang semakin aku pandang semakin indah itu. Aku sengaja belum nenyentuh bagian dalam lubang surganya. Kepala Dewi sekarang meng-geleng2 kiri kanan dgn liarnya. Rambut basahnya yang sudah mulai kering tergerai acak2an, malah menambah keayuan wajah Dewi.

“Mas … Mas …. ahhhhh …. enak …. ahhhh nggak tahaaann .. ahhhh.”

Aku tahu Dewi sudah hampir mencapai puncak kenikmatan birahinya. Dengan lembut aku mulai tusukkan jari tengahku ke dalam lubang memeknya yg sudah sangat basah itu. Aku sorongkan sampai seluruh jariku tertelan lubang Dewi yang cukup sempit itu. Aku tarik perlahan sambil sedikit aku Rudgkokkan keatas sehingga ujung jariku menggesek lembut dinding atas memek Dewi.

Gerakan ini aku lakukan berulang kali, masuk lurus keluar Rudgkok, masuk lurus keluar Rudgkok, begitu seterusnya. Tak sampai 10 kali gerakan ini, Tiba2 Tubuh Dewi menjadi kaku, kedua tangannnya mencengkeram erat pinggiran sofa. Kepalanya semakin mendongak kebelakang. Mulutnya terbuka lebar. Gerakanku aku percepat dan aku tekan lebih dalam lagi.

“Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh.”

Dewi melenguh dalam satu tarikan nafas yang panjang. Tubuhnya sedikit menggigil. Aku bisa merasakan jari tanganku makin terjepit kontraksi otot memek Dewi, dan bersaman dgn itu aku rasakan kehangatan cairan yg menyiram jariku. Dewi telah mencapai orgasmenya. Aku tidak menghentikan gerakan jariku, hanya sedikit mengurangi kecepatannya.

Tubuh Dewi masih menggigil dan menegang. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yg keluar sepatahpun, hanya hembusan nafas kuat dan pendek2 yg dia keluarkan lewat mulutnya. Kondisi demikian berlangsung selama beberapa saat. Kemudian tubuh Dewi berangsur melemas, aku pun memperlambat gerakan jariku sampai akhirnya dgn sangat perlahan aku cabut dari liang kenikmatan Dewi.

Mata Dewi masih terpejam rapat, bibirnya masih sedikit ternganga. Dgn lembut dan pelan aku dekatkan bibirku ke mulut Dewi. Aku cium mesra bibirnya yang sangat sensual itu. Dewi pun menyambut dgn tak kalah mesranya. Kami berciuman bak sepasang kekasih yg saling jatuh cinta.

Agak berbeda dgn ciuman yg menggelora seperti sebelumnya.

“Nikmat Lin?” Dgn lembut aku berbisik di telinga Dewi.
“Mas Rud … ah … Dewi blm pernah merasakan kenikmatan seperti tadi .. sungguh Mas. Mas Rud sangat pinter … Makasih Mas … Maria sungguh beruntung punya suami Mas.”
“Aku yg beruntung Lin, bisa memberi kepuasan kepada wanita semesum dan semulus kamu.”
“Ah Mas Rud bisa aja … Dewi jadi birahi.”

Seluruh kejadian tadi sekalipun terasa sangat lama, tapi aku tahu sesungguhnay tak lebih dari 5 menit. Oh, ternyata Dewi wanita yang cepat mencapai orgasme, asal tahu bagaimana caranya. Sungguh tolol dan egois Hendra kalau sampai tidak bisa memuaskan istrinya ini. Aku berpikir dalam hati.

Dewi kemudian sadar akan kondisinya saat itu. Dasternya awut2an, kebirahiannya masih terbuka lebar, dan celana dalamnya tersangkut di lutunya. Dia segera duduk tegak, menurunkan dasternya sehingga menutup pangkal pahanya. Gerakan yang sia2 sebetulnya karena aku sudah melihat segalanya. Akhirnya dia bangkit berdiri.

“Dewi mau cuci dulu Mas.”
“Aku ikut dong Lin, ntar aku cuciin,” aku menggodanya.
“Ihhh Mas Rud genit.”

Sambil berkata demikian dia menggamit tanganku dan menarikku ka kamarnya. Aku tahu ada kamar mandi kecil disana, sama persis seperti rumahku. Sampai di kamar Dewi aku berkata:

“Aku copot pakaianku dulu ya Lin, biar nggak basah.”

Dewi tdk berkata apa2 tetapi mendekati aku dan membantu melepas kancing celanaku semantara aku melepaskan kaosku. Aku lepaskan juga celanaku dan aku hanya memakai celana dalam saja. Dewi melirik ke arah celana dalamku, atau lebih tepatnya ke arah Rudjolan berRudtuk batang yg ada di balik celana dalamku. Aku maju selangkah dan mengangkat ujung bawah daster Dewi sampai keatas dan Dewi mengangkat kedua tangannya sehingga dasternya mudah terlepas.

Baru sekarang aku bisa melihat dgn jelas tubuh mulus Dewi. Sungguh tubuh wanita yang sempurna, semuanya begitu indah dan proporsional, jauh melampaui khayalanku sebelumnya. Payudara yang dari tadi hanya aku intip dan raba sekarang terpampang dgn jelas di hadapanku. Rudtuknya bundar kencang, cukup besar, tapi masih proporsional dgn ukuran tubuh Dewi yg sexy itu. Putingnya sangat kecil bila dibanding ukuran bukit buah dadanya sendiri. Warna putingnya coklat agak tua, sungguh kontras dgn warna kulit Dewi yg begitu putih. Perut Dewi sungguh kecil dan rata, tak tampak sedikitpun timbunan lemak disana. Pinggulnya sungguh indah dan pantatnya sangat sexy, padat dan sangat mulus. Pahanya sangat mulus dan padat, betisnya tidak terlampau besar dan pergelangan kakinya sangat kecil.

Rupa2 Dewi sadar kalau aku sedang mengagumi tubuhnya. Dgn agak birahi2 di berkata:

“Mas curang … Dewi udah bugil tapi Mas belum buka celana dalamnya.”

Tanpa menunggu reaksiku, Dewi maju selangkah, agak membungkuk dan memelorotkan celana dalamku. Aku membantunya dgn melangkah keluar dari celana ku. Tongkat kejantananku yg sedari tadi sudah berdiri tegak langsung menyentak seperti mainan badut keluar dari kotaknya. Kami berdua berdiri berhadapan sambil berbugil bulat saling memandangi.

Tak tahan aku hanya melihat tubuh molek Dewi, aku maju langusng aku peluk erat tubuh Dewi. Kulit tubuhku langsung bersentuhan dgn kulit halus tubuh Dewi tanpa sehelai Rudangpun yang menghalangi.

“Kamu mesum dan seksi sekali Lin.”
“Ah Mas Rud ngeledek aja.”
“Ruder kok Lin.”

Sambil berkata demikian aku rangkul Dewi lalu aku bimbing masuk ke kamar mandi. Aku semprotkan sedikit air dgn shower ke kemauluan Dewi yg masih berlendir itu. Kemudian tangan kananku aku lumuri dgn sabun, aku peluk Dewi dari belakang dan aku sabuni seluruh kebirahian Dewi dgn lembut. Rupanya Dewi suka dgn apa yg aku lakukan, dia merapatkan punggungnya ke tubuhku sehingga penisku menempel rapat ke pantatnya. Dgn gerakan lambat dan teratur aku menggosok selangkangan Dewi dgn sabun. Dewi mengimbanginya dgn mengggerakkan pinggulnya seirama dgn gerakanku. Gesekan tubuhku dgn kulit halus mulus Dewi seakan membawaku ke puncak surga dunia.

Akhirnya selesai juga aku membantu Dewi mencuci selangkangannya dan mengeringkan diri dgn handuk. Sambil saling rangkul kami kembali ke kamar dan berbaring bersisian di tempat tidur. Kami saling berpelukan dan berciuman penuh kemesraan. Aku raba seluruh permukaan tubuh mulus Dewi, betul2 halus dan sempurna. Dewi pun beraksi mengelus batang kejantananku yang semakin menegang itu.

Aku ingin memberikan Dewi kepuasan sebanyak mungkin malam ini. Aku ingin Dewi merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dgn seorang pria. Dan aku merasa sangat beruntung bisa melakukan itu krn, dari cerita Dewi ke Maria, aku tahu tak ada pria lain yg pernah menyentuhnya kecuali Hendra, dan sekarang aku.

Tubuh bugil Dewi aku telentangkan, kemudian aku melorot mendekati kakinya. Aku mulai menciumi betisnya, perlahan keatas ke pahanya yang mulus. Aku nikmati betul setiap inci kulit paha mulus dan halusnya dgn sapuan bibir dan lidahku. Akhirnya mulutku mulai mendekati pangkal pahanya.

“Ahhhhh Mas Rud …. ah .. jangan .. nanti Dewi nggak tahan lagi .. ah.”

Sekalipun mulutnya berkata “jangan” namun Dewi justru membuka kedua pahanya semakin lebar seakan menyambut baik serangan mulutku itu.

“Nikmati saja Lin …. aku akan memberikan apa yg tdk pernah diberikan Hendra padamu.”

Aku meneruskan jilatan dan ciumanku ke daerah selangkangan Dewi yg sudah menganga lebar. Aku lihat jelas bibir memeknya yg begitu tebal dan sensual. Perlahan aku katupkan kedua bibirku ke bibir bawah Dewi. Sambil “berciuman” aku julurkan lidahku mengorek ujung liang senggama Dewi yg merangsang dan wangi itu.

“Ahhhh …. Mas Rud … aaaaahhh .. please .. please.”

Begitu mudahnya kata2 Dewi berubah dari “jangan” menjadi “please”. Bibirku aku geser sedikit keatas sehingga menyentuh klitorisnya yg berwarna pink itu. Perlahan aku julurkan lidahku dan aku menjilatinya ber-kali2. Sekarang Dewi bereaksi tepat seperti yang aku duga. Dia membuka selangkangannya semakin lebar dan menekuk lututnya serta mengangkat pantatnya. Aku segera memegang pantatnya sambil me-remas2nya. Lidahku semakin leluasa menari di klitoris Dewi.

“Aaaaaahhhhhh …. enak Mas …. enak …. ahhhh .. iya …. ahhhh ahhhhh.”

Hanya itu yang keluar dari mulut Dewi menggambarkan apa yg sedang dia rasakan saat ini. Aku semakin meningkatkan kegiatan mulutku, aku katupkan kedua bibirku ke klitoris Dewi yg begitu mungil, Aku sedot lambat2 Rudda sebesar kacang hijau itu.

“Maaaaasss …. nggak tahaaaan … ahhhhh .. Maassss.”

Dari pengalamanku tadi memasturbasi Dewi dgn jari aku tahu pertahanan Dewi tinggal setipis kertas. Lalu aku rubah taktik ku. Aku lepaskan tangan kananku dari pantat Dewi, kemudian jari tengahku kembali beraksi menggosok klitorisnya. Lidahku aku julurkan mengorek seluruh lubang kenikmatan Dewi sejauh yg aku bisa. Sungguh luar biasa respon Dewi. Tubuhnya menegang membuat pantat dan selangkangannya semakin terangkat, kedua tangannya mencengkeram kain sprei.

“AAAaaaaahhhhh … maaaaaaaaaaaaaassssssss.”

Bersamaan dgn erangan Dewi aku rasakan ada cairan hangat dan agak asin yg keluar dari liang memeknya dan langsung membasahi lidahku. Aku julurkan lidahku semakin dalam dan semakin banyak cairan yg bisa aku rasakan.

Tiba2 Dewi memberontak, segera menarik aku mendekatinya. Tangan kananku dia pegang dan sentuhkan ke kebirahiannya. Sambil matanya masih terpejam, dia memeluk aku dan langsung mencium bibirku yang masih belepotan dgn lendir kenikmatannya. Aku tahu apa yg dia mau. Aku biarkan bibir dan lidahnya menari di mulutku menyapu semua sisa lendir yg ada disana. Jari tanganku aku Rudamkan kedalam memeknya dan aku gerakkan masuk keluar dgn cepat. Tubuh Dewi kembali menggigil dan memeknya mengeluarkan cairan lagi. Rupanya itu adalah sisa orgasmenya.

Kami masih berciuman sampai tubuh Dewi mulai melemas. perlahan aku angkat tangan kananku dari selangkangannya, aku peluk dia dgn lembut. Bibirku perlahan aku lepaskan dari cengkeraman mulut Dewi.

Tubuh Dewi tergolek lemah seakan tanpa tulang. Matanya sedikit terbuka menatap mesra ke arahku. Bibirnya sedikit menyungging senyum penuh kepuasan.

“Mas …. itu tadi luar biasa Mas … Dewi belum pernah digituin … Mas Rud hebat .. makasih Mas … Dewi hutang banyak ama Mas Rud.”
“Lin aku juga sangat senang kok bisa membuat Dewi puas seperti itu.”

Sambil aku kecup lembut keningnya. Mata Dewi berbinar penuh rasa terima kasih. Aku merasakan kenikmatan bathin yg luar biasa saat itu. Kami berbaring telentang bersebelahan untuk beberapa saat. Penisku masih tegang berdiri, tapi aku tidak hiraukan karena nanti pasti akan dapat giliran juga.

Dewi bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini aku biarkan di membersihkan dirinya sendiri. Aku tetap berbaring sambil mengenangkan keindahan yg baru aku alami. Tak berapa lama Dewi sudah kembali dan dia langsung berbaring di sampingku. Matanya menatap lekat ke penisku seakan dia baru sadar ada Rudda itu disana.

“Mas Rud pengin diapain?” Dewi bertanya manja.
“Terserah kamu Lin, biasanya ama Hendra gimana dong?” Aku coba memancing
“Biasa ya langsung dimasukin aja Mas. Dewi jarang puas ama dia.”
“Oh … terus Dewi penginnya gimana?”
“Ya kayak ama Mas Rud tadi, Dewi puas banget. … Dewi pengin cium punya Mas Rud boleh nggak?”
“Emang Dewi belum pernah?”
“Belum Mas,” agak jengah dia menjawab, “Mas Hendra nggak pernah mau.”
“Ya silahkan kalau Dewi mau.”

Tanpa menunggu komando Dewi segera merangkak mengarahkan kepalanya mendekati selangkanganku. Dia pegang batang penisku, dia mengamati dari dekat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok. Sangat kaku dan canggung.

“Ayo Lin ,, aku ngak apa2 kok. Kalau Dewi suka, lakuin apa yg Dewi mau.”

Dgn penuh keraguan Dewi mendekatkan mulutnya ke kepala penisku. Pelan2 dia buka bibirnya dan memasukkan helmku kedalam mulutnya. Hanya sampai sebatas leher kemudian dia sedot perlahan. Dia tetap melakukan itu untuk beberapa saat tanpa perubahan. Tentu saja aku tidak bisa merasakan sensasi yg seharusnya. Rupanya dia Rudar2 belum pernah melakukan oral ke penis lelaki.

Dgn lembut aku pegang tangan kiri Dewi. Aku genggam jemarinya yg lentik dan aku tarik mendekat ke mulutku. Aku pegang telunjuknya kemudian aku masukkan ke dalam mulutku. Aku gerakkan masuk keluar dgn lambat sambil sesekali aku jilat dgn lidahku saat jari lentiknya masih dalam mulutku. Dewi segera paham bahwa aku sedang memberi “bimbingan” bagaimana seharusnya yg dia lakukan. Tanpa ragu dia mempraktekkan apa yg aku lakukan dgn jarinya.

Batang penisku dimasukkan kedalam mulutnya, kemudian kepalanya di-angguk2kan sehingga senjataku tergesek keluar masuk mulutnya yg sensual itu. Sekalipun masih agak canggung tapi aku mulai bisa merasakan “pelayanan” yg diberikan Dewi kepadaku. Semakin lama dia semakin tenang dan tdk kaku lagi. Kadang dia mainkan lidahnya di sekeliling kepala penisku dalam mulutnya. Wow .. dlm sekejap Dewi sudah mulai ahli dalam oral sex.

Sepertinya Dewi sendiri mulai bisa merasakan sensasi dari apa yg dia lakukan dgn mulut dan lidahnya. Dia mulai berani bereksperiman. Kadang dia keluarkan penisku dari mulutnya, menciumi batangnya kemudian memasukkannya kembali. Sesekali dia hanya menghisap kepalanya sambil mengocok batang kebirahianku. Aku mulai merasakan rangsangan dan ikut menikmati permainan mulut Dewi.

“Gimana Lin rasanya?”
“Mas… Dewi merasakan rangsangan yg luar biasa, Penisnya Mas enak .. Dewi suka.”

Aku bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Dewi langsung tahu harus bagaimana. Dia duduk bersimpuh di hadapanku dan kembali menghisap penisku. Kepalanya tetap digerakkan maju mundur. Dan sekarang dia menemukan cara baru. dia menjepit batang penisku diantara kedua bibirnya yg terkatup. Kemudian dia meng-angguk2kan kepalanya. Wow … sungguh Dewi cepat belajar dalam hal beginian. Batang dan kepala penisku dia gesek degn bibir tebalnya yg terkatup. Aku membantu dia dengan menggerakkan pantatku maju mundur.

“Ohhh Lin …. mulutmu enak sekali … terus Lin.”
“Mas Rud suka? Maria sering ya giniin Mas Rud?”
“Iya Lin … tapi aku lebih suka kamu … bibirmu seksi sekali .. ooohhh Lin .. Maria juga suka .. isep bolaku dan jilati semuanya Lin .. ohhh.”

Dewi rupanya nggak mau kalah, dia segera melepaskan batang penisku dari mulutnya dan mulai menjilati dan menghisap bola kembarku. Tangannya sambil mengocok batang kelakianku. Oh sungguh nikmat. Aku belai rambut Dewi dan aku usap kepalanya. Dewi suka sekali dan dia masih terus menggerayangi seluruh selangkanganku dgn lidahnya. Rasanya sungguh nikmat.

Kemudian kami berganti posisi. Aku kembali tidur telentang dan Dewi aku minta merangkak diatasku dengan posisi kepala terbalik. Kami di posisi 69 dan ini adalah salah satu favoritku. Dewi sekarang sudah cukup mahir dalam oral sex. Dia segera mengulum batang penisku, aku pun mulai menjilati baginanya. Dengan posisi ini liang kenikmatan Dewi sangat terbuka dihadapanku dan aku lebih leluasa menikmati dgn bibir dan lidahku.

Aku jilat dan hisap klitoris Dewi yg sudah menantang dan jariku mengorek liang senggamanya. Sesekali aku cuimi bibir memeknya yang begitu merangsang. Dewi pun tak mau kalah, dia melakukan segala cara yg dia tahu terhadap tongkat kejantananku. Dia mainkan pakai lidah, dia kocok sambil dia hisap, dia mainkan kepala penisku mengitari kedua bibirnya. Sungguh nikmat sekali.

Tak terlalu lama aku mulai merasakan bahwa Dewi sudah tdk bisa menahan lagi, Pantatnya mulai bergoyang limbung kegelian, namun aku menjilati terus klitorisnya sambil jariku me-nusuk2 liang kenikmatannya. Akhirnya Dewi sampai juga di puncak nikmatnya. Tubuhnya menegang, gerakan anggukan kepalanya sambil menghisap penisku semakin menggila. Tubuhnya gemetaran tapi dia tetap tak rela melepas penisku dari mulutnya. Aku semakin giat mencium klitorisnya dan mengorek memeknya dgn jariku. Tubuh Dewi tiba2 mematung dan aku rasakan cairan hangat meleleh keluar dari liang senggamanya.

Aku langsung menutup lubang memek Dewi dgn mulutku dan membiarkan cairan kenikmatannya membasahi lidahku. Rasanya asin tapi sama sekali tidak amis sehingga aku tak ragu menelan cairan itu sampai tandas.

Kemudian perlahan aku mulai lagi menciumi dan menjilati seluruh permukaan memek Dewi. Otot Dewi sudah agak mengendur juga. Dia mulai lagi melakukan segala eksperimen dgn mulut dan lidahnya ke penisku. Kami mulai lagi dari awal. Perlahan namun pasti, Dewi mulai mendaki lagi puncak kenikmatan birahinya.

Aku tangkupkan kedua tanganku ke bukit pantat Dewi dan mulai membelai dan meremas lembut. Dewi menanggapinya dgn sedotan panjang di penisku. Lidahku kembali menelusuri segala penjuru selangkangan Dewi. Beberapa saat kemudian aku mulai merasakan tubuh Dewi kembali gemetaran. Aku cium bibir bawahnya dan aku sorongkan lidahku sedalam munggkin ke dalam guanya yg merangsang.

Aku juga mulai merasa kalau pertahananku mulai goyah dan Ruddunganku akan segera ambrol. Dewi mempercepat gerakan kepalanya dan akupun menghisap makin kuat memeknya. Aku sudah tak kuat menahan amarah spermaku dan …

“Croooottsss crooots croots.”

Lahar hangatku menyembur didalam mulut Dewi. Untuk sedetik Dewi agak kaget tapi dia cepat tanggap. Dia segera mempercepat gerakan kepalanya sambil menelan seluruh air maniku.

“Croots .. croots.”

Sisa maniku kembali menyembur, dan kali ini Dewi menyambutnya dgn hisapan kuat di penisku, seakan ingin menyedot apa yg masih tersisa didalam sana. Aku merasakan nikmat yg luar biasa. Ekspresi kenikmatan ini aku lampiaskan dengan semakin gila menjilati dan menyedot memek Dewi. Rupanya Dewi juga sudah hampir mancapai klimaksnya. Belaian lidahku di mulut memeknya membuat puncak itu semakin cepat tercapai. Akhirnya sekali lagi tubuh Dewi menegang dan cairan hangat kembali meleleh dari kawahnya. Lidahku kembali menerima siraman lendir kenikmatan itu yg segera aku telan.

Beberapa saat kemudian, dgn enggan Dewi bangkit dan berbaring telentang disampingku. Penisku, walaupun masih berdiri, tapi sudah tidak setegak tadi. Dewi memelukku dgn manja dan kami berciuman dgn mesra.

“Lin … gimana? .. puas? … sorry tadi aku nggak tahan keluar di mulut kamu.”
“Dewi puas sekali Mas .. sampai dua kali gitu lho …. Dewi suka sperma Mas Rud … asin2 gimana gitu. Kapan2 boleh minta lagi dong Mas,” Dewi mulai keluar kenesnya.
“Boleh aja Lin ,,, asal disisain buat Maria .. hehehe,”

Dewi mencubit genit lenganku.

“Ihhh … Mas Rud … paling bisa deh … emang Mas sering gaya gituan dgn Maria?”

Aku tahu Maria juga sering bercerita soal kegiatan sex kami ke Dewi jadi aku yakin Dewi sudah tahu juga.

“Enggak lah … ini baru pertama dgn kamu Lin.”
“Ah Mas bohong .. Maria kan sering cerita ke Dewi, katanya Mas Rud pinter ngeseks. Makanya diam2 Dewi pengin main ama Mas.”
“Udah kesampian kan keinginanmu Lin.”
“Iya sih … tapi Mas jangan marah ya … Dewi sering bayangin kita main bertiga dgn Maria .. Mas mau nggak?”

Kaget juga kau mendengar keinginan Dewi ini. Jujur saja aku juga sering berfantasi membayangkan alangkah nikmatnya bercinta dgn Maria dan Dewi sekaligus. Tapi tentu saja aku tak pernah berani ngomong dgn Maria. Bisa pecah Perang Dunia III, lagi pula itu kan hanya fantasi liar saja.

“Mau sih Lin .. tapi kan nggak mungkin … Maria pasti marah besar.”
“Iya ya … Maria kan orangnya agak alim.”

Kami terus berbincang hal2 demikian sampai kira2 10 menit. Kemudian dgn malas kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar mandi kami saling menyabuni dan saling membersihkan tubuh kami. Aku jadi semakin mengagumi tubuh Dewi. Tak ada segumpal lemakpun di tubuhnya dan semuanya padat berisi.

Setelah mengeringkan diri kami kembali ke atas ranjang dan berpelukan mesra. Sambil saling berciuman aku mulai menggerayangi tubuh molek Dewi, Tak bosan2nya aku meremas dan mengusap buah dadanya yg sangat segar itu. Perlahan aku mulai menghujani leher dan pundak Dewi dgn ciumanku. Tak sampai disitu saja, mulutku mulai aku arahkan ke dada Dewi.

Buah dadanya yg tegak mulai aku cium dan aku gigit2 lembut. Dewi sangat menyukai apa yg aku lakukan.

“Ahhhh … iya Mas …. disitu Mas … ahhhhh Dewi terangsang Mas.”

Lidahku menjilati puting susunya yg mungil dan keras itu. Dewi semakin menggelinjang. Tangannya menyusup ke bawah ke selangkanganku. Dipegangnya batang kebirahianku yg masih agak lemas. Dia permainkan penisku dgn jari2nya yg lentik. Mau tak mau burungku mulai hidup kembali. Dewi dgn lembut mengocok tongkat kelakianku.

Sambil masih mengulum putingnya, tangan kananku kembali bergerilya di daerah kebirahian Dewi. Jariku aku rapatkan dan aku tekan bukit kebirahian Dewi sembari aku gerakkan memutar. Dia juga menimpali dgn menggoyangkan pantatnya dgn gerakan memutar yg seirama.

“Mas …. aaahhhh Mas …. enak Mas … ahhh terus … iya.”

Sambil mendesah dia menarik pantatku mendekat ke kepalanya. Akhirnya aku terpaksa melepaskan hisapanku di putingnya dan duduk berlutut di sisinya. Dewi terus menekan pantatku sampai akhirnya mulutnya mencapai batang kebirahianku yg sudah tegak menantang. Tangan kiriku aku tampatkan dibelakang kepalanya untuk menyangga kepalanya yg agak terangkat. Penisku kembali dia kulum dan jilati.

“Oooh Lin … enak Lin … aku suka Lin …”

Aku pun menggerakkan pantatku maju mundur. Dewi membuka lebar mulutnya dan menjulurkan lidahnya sehingga batang penisku meluncur masuk keluar mulutnya ter-gesek2 lidahnya. Sungguh luar biasa apa yang aku rasakan saat itu.

Sementara itu tangan kananku terus menekan dan memutar bukit memek Dewi. Kadang jariku aku selipkan ke celah sempit diantara kedua bukit itu dan mengusap klitoris Dewi.

“Ahhh Mas … Dewi nggak tahan Mas … ahhhhh .. iya …. aaahhhh.”

Aku segera merubah posisi. Kedua tangan Dewi aku letakkan di belakang lututnya dan membuka kedua lututnya. Aku angkat pahanya sehingga liang memeknya menganga menghadap ke atas. Dewi menahan dengan kedua tangan di belakang lututnya. Aku duduk bersimpuh di hadapan lubang kebirahian Dewi. Penisku aku arahkan ke lubang yg sudah menganga itu.

Aku tusukan kepala penisku ke mulut lubang dan aku tahan disana. kemudian dgn tangan kananku aku gerakkan penisku memutari mulut liang senggama Dewi.

“Maassss .. ahhhhh … nggak tahan … ayo … ahhhhhh.”

Aku sengaja tdk mau terlalu cepat menusukkan batang kejantananku ke gua kenikmatan Dewi. Aku gesek2an kepala penisku ke klitoris Dewi. Dia semakin menggelinjang menahan nikmat. Akhirnya tanggul Dewi bobol juga. Tak heran, dengan gosokan jari saja dia tadi bisa mencapai orgasme apalagi ini dgn kepala penisku, tentu rangsangannya lebih dahsyat.

“Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhhh Massssssss.”

Rintihan itu sekaligus menandai melelehnya cairan Ruding dari liang memeknya. Dewi kembali mengalami puncak orgasme hanya dgn gosokan di klitorisnya. Kali ini aku masukkan batang penisku seluruhnya kedalam gua kenikmatannya. Aku berbaring telungkup diatas tubuh molek Dewi sambil menumpkan berat badanku di kedua sikuku. Aku cium lembut mulutnya yg masih terbuka sedikit. Dewi membalas ciumanku dan mengulum bibirku.

Aku biarkan senjataku terRudam dalam lendir kehangatannya. Di telinganya aku bisikan:

“Lin … nikmat ya …”
“Oh Mas … Dewi sampai nggak tahan … nikmat Mas ..”

Perlahan dgn gerakan yg sangat lembut aku mulai memompa batang penisku ke dalam lubang senggama Dewi yg sudah basah kuyup. Aku tahu Dewi pasti bisa orgasme lagi dan kali ini aku ingin merasakan semburan lumpur panas di batang kebirahianku.

“Ayo Lin …. nikmati lagi … jangan ditahan .. aku akan pelan2.”
“Ahhhh .. iya Mas …. Dewi pengin lagi .. ahhhhh.”

Masih dgn sangat pelan aku pompa terus tongkat kelakianku ke liang memek Dewi yg ternyata masih sempit untuk ukuran wanita yang sudah menikah 2 thn. Buah dada Dewi yg menyembul tegak meng-gesek2 dadaku ketika aku turun naik. Sungguh sensasi yang luar biasa. Sengaja aku gesekkan dadaku ke payudaranya.

“Aaaahhhhh … ahhhhhhh … iya … ahhhhh .. Dewi terangsang lagi Mas … iya …. .”

Kali ini aku pompa sedikit lebih kuat dan cepat. Dewi menanggapinya dgn memutar pantatnya sehingga penisku rasanya seperti di peras2 dalam liang memeknya. Gerakkan Dewi semakin liar, Tangannya sudah tidak lagi menahan lutut tapi memegang pantatku dan menekannya dengan keras ke tubuhnya.

“Aaaaahhhhhh …. Mas ….. aaaahhhhhhh”

Aku semakin kencang dan dalam memompa pantatku. Mata Dewi sudah terpejam rapat, kepalanya meng-geleng2 liar ke kiri ke kanan seperti yang dia lakukan di sofa tadi. Gerakannya semakin ganas dan …

“Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhh ………”

Dia melenguh panjang sambil menegangkan seluruh otot di tubuhnya. Aku menekan dalam2 penisku ke lubang senggamanya. Jelas aku rasakan aliran hangat di sekujur batang kebirahianku. Tubuh Dewi maish terbujur kaku. Aku pun menghentikan seluruh gerakanku sambil terus menekan liang memeknya dgn penisku. Beberapa saat sepertinya waktu terhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan dari kami berdua. Aku memberi kesempatan kepada Dewi untuk menikmati klimaks yg barusan dia dapat.

Akhirnya badan Dewi mulai mengendur. Tangannya membelai lembut kapalaku. Bibirnya mencari bibirku untuk dihadiahi ciuman yang sangat lembut dan panjang.

“Mas …. Dewi sungguh nikmat …. Mas Rud jago deh … Mas belum keluar ya?”
“Jangan pikirkan aku Lin …. yang penting Dewi bisa menikmati kepuasan.”

Kemudian dgn lambat aku mulai memompa lagi. Liang senggama Dewi terasa sangat licin dan agak sedikit longgar. Selama beberapa saat aku terus memompa lambat2.

“Aaaahhhhhh … iya .. iya …. Mas …. Dewi mau lagi .. iya … ahhhh”

Dewi kembali memutar pantatnya mengiringi irama pompaanku. Dia mulai men-desah2 penuh kenikmatan.Aku cabut batang kebirahianku dari memek Dewi. Aku lalu berbaring telentang di sebelahnya.

“Kamu diatas Lin.”

Dewi segera berjongkok diatas selangkanganku, Aku arahkan kepala penisku ke lubangnya. Dewi kemudian duduk diatas tubuhku dan bertumpu pada kedua lututnya. Pantatnya mulai bergerak maju mundur.

“Ayo Lin … kamu sekarang yg atur .. ohhh iya nikmat Lin.”

Dewi semakin bersemangat memajumundurkan pantatnya. Kedua payudaranya berguncang indah dihadapanku. Secara reflek kedua tanganku meremas bukit daging yg mulus itu. Tangan Dewi dia letakkan dibelakang pantatnya sehingga tubuhnya agak meliuk kebelakang membuat dadanya semakin membusung.

“Ohhh Lin … susumu sexy sekali … terus Lin … ohhhh … lebih keras Lin.”
“Aaaaahhhh Mas … Dewi sudah mau sampai lagi … ahhhhh ahhhhhh Mas”
“Ayo Lin …. terus Lin … cepat …. ohhhhh iya .. iya Lin … memekmu enak sekali.”
“Mas .. ahhhh … Dewi nggak tahan … puasi Dewi lagi mas .. ahhhh.”

Gerakan pantat Dewi semakin cepat dan semakin cepat. Aku merasa penisku ter-gesek2 dinding memek Dewi yg sempit dan licin itu. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan agar aku tidak ejakulasi. Pertahananku semakin rapuh.

“Lin … oooohhhh Lin …. aku nggak tahan … ohhh Lin …. enak … enak.”
“Ahhhh … ayo .. Mas ….. Dewi juga udah nggak tahan … sekarang mas .. ahhh sekarang.”

Tepat pada detik itu Ruddunganku ambrol tak mampu menahan terjangan spermaku yg menyemprot kuat.

“Oooooooohhhhhhh Lin ….. crooots crooots croots”
“Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh Mas …. ahhhhhhhhhhh ..”

Kami mencapai puncak kenikmatan ber-sama2. Penisku terasa hangat dan aku yakin Dewi juga merasakan hal yg sama di dalam memeknya. Dewi masih duduk diatasku tapi sudah kaku tak bergerak. memeknya dihujamkan dalam melahap seluruh batang kebirahianku.

“Oooohhh Lin …. nikmat sekali .. makasih Lin .. kamu pinter membuat aku puas.”

Akugapai tubuh Dewi dan aku tarik menelungkup diatas tubuhku. Buah dadanya yg masih keras menghimpit dadaku. Aku ciumin seluruh wajahnya yang mulai ditetesi keringat.

“Mas … ahhhhh … Dewi sungguh puas Mas … ”

Kemudian kami berbaring sambil berpelukan. Badan kami mulai terasa penat tapi bathin kami sangat puas.

Hari sudah beranjak malam. Diselingi makan malam berdua, kami memadu kasih beberapa kali lagi. Atau lebih tepatnya Dewi mengalami orgasme beberapa kali lagi sedangkan aku hanya sekali lagi ejakulasi, Segala gaya kami coba, bahkan aku sempat “membimbing” Dewi untuk memuaskan dirinya sendiri dengan jari2nya yg lentik itu. Aku betul2 puas dan senang bisa membuat wanita semesum Dewi bisa mencapai sekian kali orgasme.

Tak terasa jarum jam terus bergeser dan jam setengah sebelas malam aku meninggalkan rumah Dewi. Sebetulnya Dewi meminta aku bisa bermalam menemani dia, tatapi aku ingat keesokan harinya aku masih harus menyetir lebih dari 4 jam ke kota M menyusul istri dan anakku tercinta. Maaf Maria, aku telah mereguk madu kepuasan bersama temanmu, Dewi.